Travel

Trans Sumatera

Tidak mudah untuk menjelajah Indonesia. Salah satu masalah utamanya adalah akses. Rute yang menghubungkan pulau ke pulau utamanya dengan kapal atau pesawat terbang, sulit apabila berharap pada jalan darat. Pun di dalam daratan itu sendiri, tidak semua pulau dihubungkan oleh jalan.

Faktanya orang Pontianak harus naik pesawat dan transit di Jakarta lebih dulu untuk menuju Banjarmasin. Padahal, dua-dua nya toh masih dalam satu pulau: Kalimantan!

Selain sebagai pusat pemerintahan,Pulau Jawa juga termasuk istimewa karena jalan raya darat terhubung dari ujung ke ujung. Sejak jaman kolonial, Daendels membangun proyek ambisius yang menghubungkan Anyer sampai Panarukan sejauh kurang lebih 1000 km . Dan kita, generasi sekaranglah, sesungguhnya customer utama warisan penjajahan  tersebut.

Nah, terkait dengan ide keliling Indonesia saya memutuskan untuk menjajal trans Sumatera, yang di atas kertas, terdapat jalan raya yang menghubungkan tiap provinsi. Saya melihat berdasarkan ATLAS Indonesia dan Dunia terbitan “Agung Media Mulia” tahun 2010 hanya Pulau Jawa, Sumatera, Sulawesi dan Kepulauan Nusa Tenggara yang mempunyai jalan darat dari ujung ke ujung. Kembali ke Sumatera, dalam peta terdapat 2 jalur utama di tepi barat serta timur pulau yang disebut sebagai Jalan Raya Lintas Sumatera. Selain itu terdapat pula jalur lintas tengah dan pinggir pantai timur. Dibandingkan semua, jalur lintas timur (jalintim) merupakan penghubung paling panjang dari Aceh hingga Lampung.

Jujur, awalnya saya hanya bermodal Atlas. Yang kedua adalah keinginan yang kuat serta rasa penasaran. Maka setelah itu saya menghubungi semua kawan yang bermukim di semua provinsi di Pulau Sumatera. Walhasil rencana pertama yang disusun adalah sebagai berikut:

Jogja-Bandar Lampung-Muara Dua-Baturaja- Palembang-Lubuk Linggau-Bengkulu-Lubuk Linggau-Saro Langun-Jambi-Sungai Penuh-Padang-Bukittinggi-Balige-Medan-Aceh Timur-Banda Aceh-Sabang-Banda Aceh-Aceh Timur-Medan-Payakumbuh-Pekan Baru-Dumai-Batam-Jogja.

Tolong, bagi Anda yang paham rute Sumatera jangan tertawakan rencana saya ini! Diatas murni berdasarkan peta. Saya tidak berfikir tentang ada tidaknya trayek penghubung, jenis kendaraan, lama perjalanan, faktor resiko, serta kenyamanan. Ini hanya masalah hasrat. Keinginan saya yang membuncah ini ingin segera disalurkan. Kaki ini ingin segera dijejakkan. Dan masalah di lapangan, biarlah dipikirkan di lapangan.

Saya paham ini menjadi seperti rencana backpaking kelas teri. Maklum, sebelumnya saya sering bekerja untuk melayani perjalanan dinas pejabat ke luar negeri. Juga termasuk membantu orang asing merencanakan perjalanan ke dalam dan ke luar Indonesia. Saya tahu betul, menjadi backpaker butuh perencanaan yang matang. Rute perjalanan, obyek yang dikunjungi, akomodasi, anggaran dan faktor resiko harus dipikirkan masak-masak. Ketepatan rencana termasuk di dalamnya ketepatan pengelolaan anggaran menjadi faktor pendukung keberhasilan backpaker .

Kali ini saya berbeda dengan pakem biro perjalanan yang sudah 3 tahun terkhir familiar dengan saya karena tuntutan pekerjaan. Kali ini saya bermodal sejumlah uang, kontak teman dan saudara di sumatera, peta, buku “Sumatera Tempo Doeloe”, serta peralatan pendukung lainnya. Bismillahirahmanirrokhim saya niatkan sejak tanggal 20 Januari 2011 perjalanan trans Sumatera dimulai.

Semangat dari perjalanan ini adalah tentang kemerdekaan. Bahwa sebagai bangsa yang merdeka rakyat Indonesia berhak menikmati pembangunan yang salah satunya berupa jalan. Jalanan bukan hanya sekedar menghubungkan tempat tetapi juga membaurkan manusia, menyatukan bahasa dan meleburkan jarak. Saya sungguh ingin mengunjungi saudara-saudara saya yang diikat oleh bangunan bernama nasionalisme. Tanpa saya mengenal mereka lebih dalam, bagaimana mungkin saya akan mencintai dengan kesungguhan hati.

Kemerdekaan yang kedua adalah kemerdekaan pribadi. Sebagai individu saya bebas menentukan langkah dan masa depan. Ketika promo pesawat ke luar negeri gila-gilaan murah, orang berlomba-lomba plesiran ke negeri orang. Sebagai pribadi saya boleh menentukan untuk pergi ke negeri sendiri. Ini perlu dicoba, dilakukan dan dibiasakan agar tempat-tempat di negara kita semakin di kenal oleh warga negaranya.

Last but not least, sebagai individu yang masih sendiri pula, saya leluasa bepergian tanpa memikirkan istri dan anak di rumah. Walaupun alasan terakhir ini tegas ditentang seorang kawan, “Heeeh, bukan berarti kalau punya istri gak bisa jalan-jalan yaah. Justru harus dibiasakan jalan-jalan, backpaker berdua kan romantis!”. Hahaha, mungkin benar juga! (Hmmm, ending ini bertema curhat colongan ;-D )

Standard