Art

Identitas Istimewa dalam Tari Klasik Gaya Yogyakarta

srimpi renggowati

Tari Srimpi Renggowati

Riuh rendah masyarakat memenuhi bagian luar maupun dalam Pura Paku Alaman Yogyakarta. Biasanya, kerumunan orang hanya berpusat di luar atau bagian Pamedan Pura Pakualaman yang pada malam hari dipenuhi warung lesehan. Cukup dengan segelas kopi atau jahe panas, di sana orang-orang bisa bertahan ngobrol berjam-jam lamanya. Minum, ngobrol dan makan nasi kucing. Ketiganya adalah perpaduan istimewa untuk menikmati Yogyakarta.

Malam itu Pura Paku Alaman menggelar pertunjukan tari klasik gaya Yogyakarta. Jelas! Rujukan pertunjukan ini berasal dari tata cara baku di lingkungan istana. Sementara itu, pada sore harinya, sejumlah kesenian rakyat dipertunjukkan di halaman Pura Pakualaman yang sering disebut sebagai Alun-Alun Sewandanan. Demikian, acara digelar selama tiga hari berturut-turut. Terselenggara atas kerjasama Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta tahun anggaran 2011 dengan dua lembaga kebudayaan yang ada di Jogja, yaitu Kasultanan dan Paku Alaman.

Repertoir klasik pada hari pertama adalah Tari Srimpi Renggawati. Ditarikan oleh lima orang penari, dimana salah satunya berperan sebagai Dewi Renggawati. Alkisah, sang Dewi menemukan seekor meliwis putih yang tak lain dan tak bukan adalah jelmaan Prabu Angling Darma. Adapun Dewi Renggawati sendiri pada dasarnya adalah titisan Dewi Setyawati–permaisuri Sang Prabu. Alhasil, perjumpaan keduanya menghadirkan nuansa syahdu yang menghanyutkan. Belum lagi iringan tari tersebut mengalun dengan tempo lambat. Semuanya menghadirkan nuansa batin yang sangat mengharukan.

bedhaya angronakung

Tari Bedhaya Angronakung

Pada hari kedua, komposisi yang ditampilkan adalah drama tari berjudul Banjaransari dan wayang orang berlatar belakang Ramayana. Sekilas kesan pada hari kedua adalah unsur kolosal. Tampil dalam pertunjukan tersebut penari-penari pria dan wanita baik yang senior maupun yang masih muda belia. Sebagai penutup di hari ketiga, yang ditampilkan adalah Tari Bedhaya Angron Akung yang dibawakan oleh tujuh orang penari wanita. Seolah menguatkan posisinya sebagai kasta tertinggi dalam jenis tarian jawa, repertoir tersebut hadir dengan iringan dan busana serba mengesankan.

Mengamati satu per satu tari-tari klasik gaya Yogyakarta, perlahan mulai tampak perbedaannya dengan gaya Surakarta yang saya saksikan beberapa saat sebelumnya. Dalam hal gerakan tangan, tari klasik gaya Yogyakarta dominan dengan melipat ibu jari dan membiarkan empat jemari lainnya terbuka rapat. Sementara itu jari tangan yang lainnya akan dirapatkan antara telunjuk dengan ibu jari sehingga membentuk gelungan tangan yang terlihat lentik. Gerakan tersebut hadir dalam jenis tari putri maupun tari putra. Sekilas kesan yang di dapat tidak hanya lentik tetapi juga tegas. Sebuah kombinasi antara kekuatan dan kelembutan.

Dari segi kostum, penampilan tari klasik gaya Yogyakarta terlihat lebih sederhana, tidak mengumbar warna-warni kain maupun kilau kemilau perhiasan emas. Orang awam pasti bisa melihat perbedaan antara busana tari klasik dengan kostum “wayang jawa” yang biasa muncul di televisi. Ada kesamaan bentuk, akan tetapi detil dan ragam hiasnya berbeda.

wayang wong

Wayang Wong Gaya Yogyakarta

Melihat apa yang muncul baik itu dari sisi gerakan maupun pakaiannya, tari klasik gaya Yogyakarta hadir dengan identitas tertentu diantara tari jawa pada umumnya. Melihat ke belakang, hal ini sangat lazim mengingat lahirnya keraton itu sendiri yang merupakan pecahan dari Dinasti Mataram Islam yang sebelumnya berpusat di Surakarta. Melihatnya pada era sekarang atau mungkin juga nanti, nuansa kelembutan, kekuatan, dan kesederhanaan yang muncul dalam pertunjukan tari klasik ibarat harapan agar unsur tersebut selalu ada pada Yogyakarta yang istimewa.

Tulisan ini pernah dimuat dalam rubrik berikut

Standard