Travel

Desa-Desa Sumatera

Perjalanan akhirnya mengantarkan saya sedikit demi sedikit ke bumi Sumatera bagian selatan. Setelah hanya beberapa jam singgah di Danau Ranau, satu-satunya bus yang trayeknya sampai ke kota Palembang lewat kira-kira pukul 10.30. Itu artinya hanya kurang dari satu jam saya menikmati tepian danau besar pertama yang saya kunjungi di Sumatera. Nama busnya Ranau Indah, dengan membayar Rp 30.000,00 saya di antar menuju tempat bernama Kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan (OKU- Selatan) yang beribukota di Muara Dua. Daerah ini merupakan pemekaran dari induknya yang bernama Kabupaten OKU.

Ranau Indah yang saya tumpangi mengular menaiki bukit. Semakin ke atas, Danau Ranau semakin terlihat luas. Semakin jauh, warna birunya semakin pekat. Bergabung dengan unsur warna alam lainnya, hijau, kuning, cokelat tanah basah dan luasan langit putih membentang. Dahsyat!

Sesaat tertegun menikmati keindahan alam, Ranau Indah berhenti-berhenti barang sebentar. Segala rupa muatan dijejalkan. Sehingga, separuh dari isi bus tanggung itu merupakan hasil bumi seperti pisang, cabai, kacang tanah, alpukat, kobis, tomat dan wortel. Hohoho! Anggaplah itu semua fasilitas, karena penumpang boleh makan pisang atau tomat sekedarnya. Tidak dipungut biaya, asal tahu diri saja untuk mengambil secukupnya. Menyenangkan bukan?

Ranau Indah terus menderu-deru dalam tanjakan dan turunan. Setiap kali jalanan terjal dan curam maka sang sopir meminta semua penumpang untuk turun. Tentu tidak termasuk hasil buminya. Untunglah kita tidak diminta ndorong mobil. Yaa, syukurlah berarti bisa menghirup udara segar barang sebentar.

***

Selama lebih kurang 3 jam bus berhasil mengantarkan saya ke Muara Dua. Disana, ada sosok yang sangat saya hormati. Beliau adalah kakak kandung Ibu yang biasa saya sebut Pakdhe. Sudah sejak awal tahun 80-an beliau bertugas sebagai PNS Dinas Pertanian disana. Dan hidupnya sepertinya sudah dijejakkan bersama istri dan anak-anaknya di bagian pedalaman Pulau Sumatera tersebut.

Keluarga Pakdhe tidak tinggal di kota Kabupaten. Sebaliknya, beliau bersama istri dan anak tinggal di daerah pedalaman yang mereka sebut dusun. Kami berdua naik motor dari Muara Dua menuju Dusun Aromantai, Kecamatan Pulau Beringin.

“Berapa lama Dhe, nyampe ke Dusun?”, pertanyaan pertama saya luncurkan. “Aaah cepet, ora suwe!”. Cepat saja tidak lama, kira-kira demikian jawabnya dalam Bahasa Jawa. Setelah itu, semak belukar kami tembus. Hijaunya dedaunan hutan menjadi biasa. Ada kalanya terdapat pepohonan sejenis seperti kopi, pinang, padi atau kayu manis. Tapi tak jarang pula yang terhidang di sisi kanan dan kiri adalah bermacam tanaman hijau tanpa saya ketahui namanya. Total, perjalanan ini mencapai 3 jam lebih sedikit.

Berpeluh kami melewati dusun demi dusun. Sesekali kami diguyur hujan gunung tipis-tipis, selanjutnya disinari lamat-lamat matahari sore dan diusap angin sejuk dataran tinggi. Menurut peta ketinggian kami pun sudah di atas 2000 m di atas permukaan laut.

Motor kami mendecit menuju turunan dan kelokan. Di sebelah kanan kami disambut kincir air yang mulai mengalir. Nah, itulah batas atau gapura pembuka Dusun Aromantai, Kecamatan Pulau Beringin, OKU Selatan. Selain indah kincir ini juga mempunyai fungsi strategis. Di saat PLN hanya mampu menerangi dusun di siang hari, malam hari giliran PLTA sederhana ini menerangi sekitar 900 jiwa di dusun tersebut. Total ada 3 kincir air di sekeliling dusun.

Sejenak saya teringat pada memoir Thomas Stamford Rafless yang  ditulis pada tahun 1835. Disebutkan bahwa Rafless tidak melihat adanya kincir air di Jawa. Sedangkan daerah Minangkabau sudah menggunakannya untuk pengairan sawah ketika beliau di sana. Itu berarti, kincir air bisa jadi sebuah teknologi lokal yang lama berkembang pada masyarakat Sumatera. Sementara itu, Marco Polo yang pada abad ke-13 mampir ke Samudera Pasai menggambarkan rumah-rumah penduduk di sana bertingkat, terbuat dari kayu. Yang bagian bawah untuk ternak dan atasnya disinggahi keluarga. Ciri-ciri itu juga persis saya temukan di Dusun Pulau Beringin. Saya menamainya: Rumah Ruko! Coba perhatikan, konsepnya memang mirip seperti ruko. Selain untuk ternak, lantai bawah juga berfungsi sebagai warung atau toko.

Daerah ini merupakan daerah pemekaran. Dulunya hanya ada 1 Kecamatan Pulau Beringin. Sekarang ada 2 kecamatan baru dalam satu wilayah tersebut. Total ada 3 kecamatan.

Setiap dusun ibarat kumpulan rumah berkelompok di pinggir jalan. Setelah lepas satu dusun maka menuju dusun berikutnya biasanya berupa hutan atau perkebunan. Masing-masing dusun dihuni oleh beberapa ratus warga hingga mencapai ribuan. Tergantung besar kecilnya dusun. Walhasil, setiap dusun akan terdapat 1 Kepala Desa. Ini berbeda dengan di Jawa pada umumnya. Biasanya 1 kelurahan di Jawa terdiri dari beberapa kampung atau dusun.

Mayoritas penduduk pegunungan ini beragama Islam. Mereka melaksanakan ibadah dengan madzab seperti orang Nahdhatul Ulama (NU). Hohoho, saya sebut demikian karena pengetahuan agama saya yang memang minim. Yang saya ingat adzan akan berkumandang setiap hari Jumat. Pada hari-hari biasa suasana akan lengang tanpa sahut-sahutan adzan seperti terdengar di kota-kota di Indonesia.

Tentang pendidikan, rata-rata setiap dusun memiliki Sekolah Dasar (SD). Hanya saja untuk tingkat lanjutan di SMP atau SMA mereka harus keluar kampung menuju dusun yang terdapat sekolah jenjang tersebut. Tak jarang mereka harus ke luar daerah hingga ke Jawa. Namun jangan salah, di Kecamatan pedalaman ini pernah melahirkan seorang Menteri di jaman Megawati. Beliau adalah Bapak Ali Marwan Hanan dari Partai Persatuan Pembangunan (PPP) yang menjabat sebagai Menteri Koperasi. Saya menyimpulkan, bahwa keterbatasan memang bukan halangan bagi seseorang untuk maju dan berhasil.

Saya sulit untuk mengakhiri tulisan ini. Hanya sekali-sekali teringat lagu-lagu jaman saya kecil. Rasa-rasanya yang familiar terdengar di telinga dulu memang lagu-lagu yang bersifat naturalis. Sungguh simpel. Ada yang berkisah tentang indahnya pelangi, bintang bahkan ada yang mau diambilkan bulan. Yang lain juga berkisah tentang kegembiraan anak-anak menyambut pamannya. Sukaria naik delman atau becak hingga memuji indahnya alam. Kali ini terlontar dari bibir saya sebuah lagu yang saya sukai.

“Desaku yang kucinta, pujaan hatiku. Tempat ayah dan bunda, dan handai taulankuuu.Tak mudah kulupakan, tak mudah bercerai. Selalu kurindukan, desaku yang permai.”



Standard
Travel

Sejarah Singkat

Bagaimana kira-kira Anda menyebut pulau ini, Sumatra atau Sumatera?

Saya sering mengucapkan jawaban opsi pertama. Rasa-rasanya melafalkan su-ma-te-ra itu old school banget! Ejaan lama. Tapi ternyata, kalau anda browsing di google dengan kata sumatra maka akan ada pilihan untuk menelusuri kata tersebut sebagai sumatera. Memang benar, masalah spelling ini ternyata punya latar belakang sejarah yang panjang.

Kita tentu mengenal tentang Kerajaan-Kerajaan yang letaknya di sumatera seperti Sriwijaya, Samudera Pasai, Pedir, Barus, Siak dll. Tapi untuk kata sumatera atau sumatra itu sendiri bisa dikatakan muncul lebih muda dari kerajaan-kerajaan di atas. Dalam catatan China pada abad ke-11 muncul banyak sekali istilah san-fo-tsi yang kira-kira merujuk kepada Sriwijaya. Pada abad berikutnya setelah kehancuran Sriwijaya istilah di atas masih muncul dalam catatan China untuk merujuk wilayah pulau bekas Kerajaan Sriwijaya secara keseluruhan. Tapi secara kaidah bahasa, apabila didengarkan istilah tersebut jauh dari nama pulau saat ini.

Bukti berikutnya muncul dalam catatan Marco Polo. Keluarga Polo dari Italy telah lama bersahabat dengan Kaisar Khubilai Kan. Setelah menetap selama 20 tahun di China, pada tahun 1292 Marco ingin kembali ke Italia. Perjalanan tersebut membawa dirinya singgah ke sebuah kerajaan, yang itu adalah Kerajaan Samudera Pasai. Kata Samudera ini yang kemudian dari generasi ke generasi berubah bunyi dan melekat kepada keseluruhan pulau sekarang ini.

Saya tidak ingin memperdebatkan apakah harus memanggil sumatra atau sumatera. Sejarah membuktikan bahwa beda asal seseorang beda cara menyebutnya. Bahkan kata-kata yang kita kenal saat ini sesungguhnya telah mengalami derivasi yang kompleks. Di sini, kantor-kantor pemerintahan secara resmi menuliskan sebagai sumatera. Saya sungguh sangat menghargai hal ini karena bila suatu saat nanti peradaban ini runtuh dan generasi pengganti menemukan jejak-jejak peninggalan budaya di tempat ini, melalui papan-papan nama yang telah memfosil, semua bisa bilang bahwa dulunya daerah ini bernama sumatera!

Standard