Travel

7 Danau Terindah di Sumatera

Sebuah situs wisata global telah merilis 12 Danau Terindah di dunia versi mereka, berikut akan saya hadirkan 7 danau terindah di Sumatera yang saya kunjungi selama menempuh perjalanan Trans-Sumatera.

DANAU RANAU

OKU Selatan (21/1): Danau Ranau. Wiwitto-Trans Sumatera


Disebut-sebut sebagai Danau Terbesar kedua di Sumatera yang letaknya di perbatasan Provinsi Lampung dan Sumatera Selatan. Selain terkenal dengan hasil ikannya yang melimpah, Pemda Lampung Barat dan Ogan Komering Ulu (OKU) Selatan berlomba mengelola danau ini sebagai daerah tujuan wisata. Salah satu resortnya yang terkenal bernama Lombok, milik Pemda Lampung Barat.

DANAU RAKIHAN

OKU Selatan (22/1) - Danau Rakihan. Wiwitto-Trans Sumatera


Tidak terlalu besar dan tidak banyak orang yang tahu tentang danau ini. Pun demikian danau alami ini sangat istimewa karena tidak ada sungai besar di sekitarnya yang mengalirkan airnya dengan deras. Walhasil gerak airnya sangat tenang dan warnanya sedikit pekat. Terletak di Kecamatan Sindang Danau, OKUS-Sumsel, yang merupakan tanah kelahiran politisi PPP, Ali Marwan Hanan (Mantan menteri Koperasi RI). Di lereng danau saat ini didirikan sebuah Pondok Pesantren, atas nama beliau, untuk menyemangati anak-anak di daerah terisolir untuk terus maju.

DANAU KERINCI

Sungai Penuh (4/2) Danau Kerinci. Wiwito-Trans Sumatera


Dibandingkan danau lain yang lebih menyerupai kuali, Danau Kerinci memiliki permukaan datar hampir rata dengan tanah di tepinya. Terdapat sawah membentang lebar di tepian danau yang konon merupakan pemasok beras utama di Provinsi Jambi. Mengunjungi danau di pagi hari, apabila beruntung, akan menjumpai gerombolan bangau putih yang terbang dan mencari makan di persawahan.

DANAU MANINJAU

Agam (9/2) DANAU MANINJAU - Wiwitto. Trans Sumatera


Satu dari sekian banyak danau menawan di Sumatera Barat. Untuk mencapainya, pengunjung bisa melewati jalan legendaris yang terkenal dengan nama “Kelok 44” (dibaca: Kelok Ampek Puluah Ampek). Banyak homestay menarik bagi wisatawan di Nagari Bayur yang menjadi setting novel best seller “Negeri Lima Menara”.

DANAU TOBA

Samosir (14/2) Danau Toba . Wiwitto-Trans Sumatera


Merupakan danau terbesar di Indonesia sekaligus di Asia Tenggara. Terbentuk karena letusan vulkanis Gunung Toba Purba yang konon menghancurkan kehidupan di Atlantis. Mengunjungi Danau Toba tidak lengkap tanpa singgah ke Pulau Samosir yang terletak di tengahnya. Banyak atraksi menarik terkait kebudayaan Batak, termasuk pengamen-pengamennya yang bersuara emas.

DANAU LAUT TAWAR

Takengon (16/2) - DANAU LAUT TAWAR. Wiwitto-Trans Sumatera


Letaknya di gugusan Dataran Tinggi Gayo yang terkenal sebagai penghasil kopi. Tidak heran hawa sejuknya menambah suasana tenang apabila berada di sana. Ada 3 buah titik kunjungan di pinggir-pinggir danau yang disediakan sebagai taman bermain dan pemandian air panas alami.

DANAU ANEUK LAOT

Sabang. Danau Aneuk Laot. Hack87-http://tinyurl.com/5rpgq9z


Lokasinya adalah di Pulau Weh, tempat yang dijadikan sebagai ujung paling utara Indonesia. Pengunjung langsung bisa menikmati danau itu selepas meninggalkan Pelabuhan Balohan menuju destinasi wisata menarik di Kota Sabang. Diantaranya adalah snorkling dan diving spot, goa, kuburan dan benteng peninggalan Jepang serta air terjun yang menawan.

Demikian, danau-danau terindah yang saya kunjungi selama perjalanan Trans-Sumatera. Tentu masih ada banyak danau cantik lainnya seperti Danau Singkarak, Danau di Ateh (Sumbar), Danau Sipin (Jambi), dan Danau Dendam (Bengkulu). Danau yang saya sebutkan terakhir belum sempat saya kunjungi. Bisa jadi, mungkin masih ada danau kecil lainnya yang tertutup hutan dan belum nampak oleh pandangan manusia. Indonesia memang luar biasa. Tanahku tak kulupakan, engkau kubanggakan!

Standard
Travel

Membelah Bukit Barisan Menuju Pesisir Barat

Seminggu di desa sebenarnya membuat saya betah, tidak mau beranjak. Udara dingin mulai terbiasa di kulit. Aroma vegetasi telah menjadi sajian sehari-hari, dan bahasa orang sekitar lamat-lamat mulai saya pahami. “Galak kabah Wit mikut Mamak ke hutan? Masih ada kijang, behuk, babi hutan. Tempatnye tinggi bisa lihat Danau Ranau sampai pantai Bengkulu dari atas Bukit.” Kurang lebih artinya, mau Wit ikut Paman ke hutan? Di sana masih ada kijang, beruk, babi hutan. Tempatnya tinggi dan bisa melihat Danau Ranau bahkan sampai pesisir Bengkulu.

Mamak adalah sebutan untuk Paman dari garis keturunan Ibu, sementara dari keturunan ayah dipanggil Pang Cik. Sekilas bahasa suku Semende ini mirip dengan Bahasa Melayu orang Malaysia dengan akhiran kata “e”. Mamak saya ini tubuhnya ramping, tinggi tetapi liat. Garis mukanya runcing, dengan mata sipit khas Melayu. Selain bertani kopi Mamak rajin keluar masuk hutan untuk mengurus dan membeli kulit kayu manis. Tak heran beliau tahu banyak situasi hutan bahkan rute jalanan menuju Bengkulu.

Pada akhirnya saya memang mengubah rute Trans Sumatera. Awalnya dari Muara Dua saya akan bergerak menuju Palembang baru kemudian Bengkulu dan Jambi, tapi kalau dilihat di peta saya harus membelah Bukit Barisan dua kali. Bergerak dari timur ke barat (Palembang-Bengkulu) dan selanjutnya kembali lagi ke timur (Bengkulu-Jambi). Berfikir efisiensi saya melanjutkan perjalanan dari Pulau Beringin menuju Bintuhan-Manna dan akhirnya Bengkulu. Tiga kota terakhir ada di pesisir-pesisir Provinsi Bengkulu.

Tidak berlebihan saya menyebut perjalanan ini membelah bukit barisan. Di dalam peta terlihat bahwa Danau Ranau masuk dalam zona berwarna kuning dengan ketinggian di atas 2000 m di atas permukaan laut. Kecamatan Pulau Beringin – tempat tinggal saya sekarang- juga masuk zona kuning, sementara tujuan kami adalah ke pesisir Bengkulu. Itu artinya kami akan melintas daerah Bukit Barisan Selatan. Pegunungan yang membentang dari Aceh hingga ke Lampung. Bertaburan gunung-gunung api dan dihiasi danau-danau tektonik di beberapa daerah.

Perjalanan kami tidak mudah. Beberapa kilo di awal jalanan masih beraspal, lama-lama hanya tingal kerikil berserakan. Lebih jauh lagi kerikil menipis diganti bebatuan besar bercampur tanah sebagai pondasi. Konon katanya yang meletakkan adalah buruh pribumi untuk kepentingan tanam paksa. Semakin jauh melaju jalanan makin ekstrim. Sekarang yang kami lewati adalah tanah lempung licin disiram hujan gunung tipis-tipis.

Saya naik motor diantar Mamak dan keluarga. Pun demikian orang-orang umumnya akan naik ojeg dari Pulau Beringin menuju Bintuhan. Jalur yang kami lalui tidak bisa dibilang jalan setapak, meskipun kondisinya lebih mengerikan daripada segaris jalan menuju kebun kopi sekalipun. Di kanan kiri jalan terdapat bekas roda mobil pick up pengangkut minyak tanah, sementara kami tinggal melanjutkan jejak roda sepeda motor yang telah dibuat pelintas jalan sebelum kami. Saking seringnya dilewati, lintasan motor itu tepat membentuk sebuah garis lurus sebesar ban roda yang dalam menggerus jalanan. Motor kami masuk gerigi 1 dan harus dibantu dorongan kaki pengemudi yang sudah bersarung sepatu bot. Dalam situasi selama hampir 8 kilo meter penumpang harus turun, berjalan pelan-pelan di atas tanah lempung berwarna kuning kemerahan.

Empat jam kami harus berjibaku menusuk-nusuk bukit Barisan. Jalanan yang kami lalui naik turun kebun kopi sambil sesekali dihibur suara siamang atau simpay yang melenguh-lenguh memantul dari bukit ke bukit. Tanah yang kami lewati berubah-rubah warna. Mulai dari pekat hitam menjadi kuning, merah (benar-benar merah) hingga hijau atau biru, putih mirip pualam. Sesekali ada suara kendaraan bermotor muncul dari balik semak. Segera setelah melaju mereka menjadi kawan kami satu rombongan yang bersama-sama mengiris-iris jalan. Dalam hati saya membatin, “Kok masih ada yaa penduduk yang tinggal di tempat seperti ini? Terus kalau misal sakit dan butuh berobat, atau kalau ada ibu hamil mau melahirkan misalnya, apa juga harus melewati satu-satunya jalan terjal seperti ini?”

Kami sampai di pesisir Bintuhan tengah hari. Setelah beristirahat sebentar, saya sendiri naik bus  melanjutkan perjalanan menuju kota yang lebih besar di Bengkulu, Manna. Dari Manna saya baru bisa bergerak ke kota Bengkulu. Ongkos bus Krui Indah tujuan Manna adalah Rp 30.000,00 sementara Travel Avanza tujuan Bengkulu seharga Rp 50.000,00. Tepat pukul 8 malam tanggal 29 Januari saya tiba di kota Bengkulu.

Tugu Tabot

Seperti halnya Lampung yang mempunyai maskot Siger, maskot Kota Bengkulu adalah Tabot. Tugu tabot yang cantik itu tersebar di beberapa sudut kota. Tabot juga menjelma menjadi kesenian daerah dan festival kesenian. Selain itu banyak juga souvenir kecil-kecil bernuansa tabot. Sebuah bentuk yang terinspirasi dari keranda mayat!

Yaa betul, keranda mayat! Riwayatnya tabot ini dibawa oleh orang-orang India Muslim yang didatangkan oleh Inggris ketika mereka menguasai Bengkulu. Orang-orang India tersebut kebanyakan beraliran syiah yang mengadakan peringatan atas meninggalnya Husein, cucu Nabi Muhammad. Pasca terbunuhnya Husein, orang-orang mengumpulkan potongan jenazahnya yang tercerai berai. Setelah terkumpul mereka memakamkan dengan terlebih dahulu mengarak keranda keliling kota. Begitulah, perwujudan keranda mayat Husein itu yang disebut tabot di Bengkulu. Di Bengkulu festival Tabot akan sangat meriah dengan arak-arakan dan pergelaran kesenian serta doa bersama. Tradisi ini telah diadaptasi dan menjadi tradisi lokal yang penuh nuansa tradisional.

Tiga hari dua malam saya menginap di dekat Pantai Panjang Bengkulu. Saya beruntung mendapat penginapan seharga Rp 80.000,00 dengan AC dan kamar mandi dalam. Tempatnya bersih dan juga tersedia sarapan for free. Lokasi penginapan tersebut dekat dengan Makam Inggris yang tidak mengerikan. Setiap sore, anak-anak muda bermain bola di sela-sela nisan dan patung besar-besar dengan arah melintang-lintang sedikit tak beraturan.

Apa yang saya lakukan di Bengkulu adalah pertama-tama ke museum provinsi. Ini wajib saya lakukan di setiap kota. Tidak hanya sekedar mengikuti program pemerintah untuk Visit Museum Year, tetapi juga saya percaya di sana saya akan mendapat informasi akurat tentang kondisi kota, transportasi dan destinasi wisata di suatu daerah dari sumber terpercaya.

Setelah Museum saya bergerak menuju rumah pengasingan Bung Karno, rumah Ibu Fatmawati dan Danau Dendam. Lokasinya mudah dijangkau dari kota. Seperti halnya museum negeri yang lain, biaya masuk tempat-tempat bersejarah itu hanya Rp 2.000,00 atau pada umumnya tidak lebih dari Rp 5.000,00.  Sore hari saya mengunjungi Benteng Marlborough, Kampung China dan Pantai Panjang.

Tugu Peringatan kematian Thomas Parr

Secara keseluruhan Kota Bengkulu adalah kota yang nyaman. Tidak terlalu besar tetapi semua fasilitas tersedia. Tidak pula terlalu padat kendaraan bermotor. Yang lebih mengesankan, banyak tinggalan kolonial Inggris (bukan Belanda) yang masih terawat apik.  Bengkulu yang juga disebut Bencoolen menarik hati Kolonial Inggris pada tahun 1685-1825. Setelah kalah bersaing dengan VOC di Jawa, pangkalan baru IEC jatuh ke Bang Kulon atau Bencoolen atau Bengkulu yang berarti pesisir barat. Penguasa-penguasa Inggris kemudian bekerjasama dengan penguasa lokal, membangun benteng dan juga perkotaan. Termasuk juga Thomas Stamford Raffles, pernah menghabiskan waktu bersama istrinya di pesisir tersebut. Hingga akhirnya berdasarkan Traktat London, Inggris harus menyerahkan Bengkulu kepada Belanda untuk ditukar dengan Singapore. Selanjutnya Raflles meninggalkan pesisir barat dan mengembangkan daerah Tumasik atau Singapura. Konon katanya, alasan kenapa Inggris rela melepas Bengkulu adalah karena malaria dan gempa.

Jangan sekali kali melupakan sejarah. Jargon terkenal dari sang proklamator itu rasanya tepat disandangkan dengan kenangan akan Bengkulu. Sejarah telah meninggalkan jejak perjuangan sang proklamator hingga bertemu dengan sang penjahit bendera pusaka. Sejarah juga meninggalkan jejak berupa jalan koneksi antar propinsi yang dibangun pada masa tanam paksa. Selain tata kotanya, di Bengkulu terdapat tugu peringatan akan kematian Thomas Parr. Residen Inggris yang mati dibunuh oleh rakyat Bengkulu secara beramai-ramai karena kekejamannya. Demikian, sejarah telah meninggalkan bukti fisik berikut pelajaran berharga untuk kehidupan saat ini. Tanpa mengambil manfaatnya untuk masa depan sejarah hanyalah romantisme, di satu sisi, tanpa mengenang sejarah maka sulit untuk bisa mencintai negeri sendiri.

Standard
Travel

Desa-Desa Sumatera

Perjalanan akhirnya mengantarkan saya sedikit demi sedikit ke bumi Sumatera bagian selatan. Setelah hanya beberapa jam singgah di Danau Ranau, satu-satunya bus yang trayeknya sampai ke kota Palembang lewat kira-kira pukul 10.30. Itu artinya hanya kurang dari satu jam saya menikmati tepian danau besar pertama yang saya kunjungi di Sumatera. Nama busnya Ranau Indah, dengan membayar Rp 30.000,00 saya di antar menuju tempat bernama Kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan (OKU- Selatan) yang beribukota di Muara Dua. Daerah ini merupakan pemekaran dari induknya yang bernama Kabupaten OKU.

Ranau Indah yang saya tumpangi mengular menaiki bukit. Semakin ke atas, Danau Ranau semakin terlihat luas. Semakin jauh, warna birunya semakin pekat. Bergabung dengan unsur warna alam lainnya, hijau, kuning, cokelat tanah basah dan luasan langit putih membentang. Dahsyat!

Sesaat tertegun menikmati keindahan alam, Ranau Indah berhenti-berhenti barang sebentar. Segala rupa muatan dijejalkan. Sehingga, separuh dari isi bus tanggung itu merupakan hasil bumi seperti pisang, cabai, kacang tanah, alpukat, kobis, tomat dan wortel. Hohoho! Anggaplah itu semua fasilitas, karena penumpang boleh makan pisang atau tomat sekedarnya. Tidak dipungut biaya, asal tahu diri saja untuk mengambil secukupnya. Menyenangkan bukan?

Ranau Indah terus menderu-deru dalam tanjakan dan turunan. Setiap kali jalanan terjal dan curam maka sang sopir meminta semua penumpang untuk turun. Tentu tidak termasuk hasil buminya. Untunglah kita tidak diminta ndorong mobil. Yaa, syukurlah berarti bisa menghirup udara segar barang sebentar.

***

Selama lebih kurang 3 jam bus berhasil mengantarkan saya ke Muara Dua. Disana, ada sosok yang sangat saya hormati. Beliau adalah kakak kandung Ibu yang biasa saya sebut Pakdhe. Sudah sejak awal tahun 80-an beliau bertugas sebagai PNS Dinas Pertanian disana. Dan hidupnya sepertinya sudah dijejakkan bersama istri dan anak-anaknya di bagian pedalaman Pulau Sumatera tersebut.

Keluarga Pakdhe tidak tinggal di kota Kabupaten. Sebaliknya, beliau bersama istri dan anak tinggal di daerah pedalaman yang mereka sebut dusun. Kami berdua naik motor dari Muara Dua menuju Dusun Aromantai, Kecamatan Pulau Beringin.

“Berapa lama Dhe, nyampe ke Dusun?”, pertanyaan pertama saya luncurkan. “Aaah cepet, ora suwe!”. Cepat saja tidak lama, kira-kira demikian jawabnya dalam Bahasa Jawa. Setelah itu, semak belukar kami tembus. Hijaunya dedaunan hutan menjadi biasa. Ada kalanya terdapat pepohonan sejenis seperti kopi, pinang, padi atau kayu manis. Tapi tak jarang pula yang terhidang di sisi kanan dan kiri adalah bermacam tanaman hijau tanpa saya ketahui namanya. Total, perjalanan ini mencapai 3 jam lebih sedikit.

Berpeluh kami melewati dusun demi dusun. Sesekali kami diguyur hujan gunung tipis-tipis, selanjutnya disinari lamat-lamat matahari sore dan diusap angin sejuk dataran tinggi. Menurut peta ketinggian kami pun sudah di atas 2000 m di atas permukaan laut.

Motor kami mendecit menuju turunan dan kelokan. Di sebelah kanan kami disambut kincir air yang mulai mengalir. Nah, itulah batas atau gapura pembuka Dusun Aromantai, Kecamatan Pulau Beringin, OKU Selatan. Selain indah kincir ini juga mempunyai fungsi strategis. Di saat PLN hanya mampu menerangi dusun di siang hari, malam hari giliran PLTA sederhana ini menerangi sekitar 900 jiwa di dusun tersebut. Total ada 3 kincir air di sekeliling dusun.

Sejenak saya teringat pada memoir Thomas Stamford Rafless yang  ditulis pada tahun 1835. Disebutkan bahwa Rafless tidak melihat adanya kincir air di Jawa. Sedangkan daerah Minangkabau sudah menggunakannya untuk pengairan sawah ketika beliau di sana. Itu berarti, kincir air bisa jadi sebuah teknologi lokal yang lama berkembang pada masyarakat Sumatera. Sementara itu, Marco Polo yang pada abad ke-13 mampir ke Samudera Pasai menggambarkan rumah-rumah penduduk di sana bertingkat, terbuat dari kayu. Yang bagian bawah untuk ternak dan atasnya disinggahi keluarga. Ciri-ciri itu juga persis saya temukan di Dusun Pulau Beringin. Saya menamainya: Rumah Ruko! Coba perhatikan, konsepnya memang mirip seperti ruko. Selain untuk ternak, lantai bawah juga berfungsi sebagai warung atau toko.

Daerah ini merupakan daerah pemekaran. Dulunya hanya ada 1 Kecamatan Pulau Beringin. Sekarang ada 2 kecamatan baru dalam satu wilayah tersebut. Total ada 3 kecamatan.

Setiap dusun ibarat kumpulan rumah berkelompok di pinggir jalan. Setelah lepas satu dusun maka menuju dusun berikutnya biasanya berupa hutan atau perkebunan. Masing-masing dusun dihuni oleh beberapa ratus warga hingga mencapai ribuan. Tergantung besar kecilnya dusun. Walhasil, setiap dusun akan terdapat 1 Kepala Desa. Ini berbeda dengan di Jawa pada umumnya. Biasanya 1 kelurahan di Jawa terdiri dari beberapa kampung atau dusun.

Mayoritas penduduk pegunungan ini beragama Islam. Mereka melaksanakan ibadah dengan madzab seperti orang Nahdhatul Ulama (NU). Hohoho, saya sebut demikian karena pengetahuan agama saya yang memang minim. Yang saya ingat adzan akan berkumandang setiap hari Jumat. Pada hari-hari biasa suasana akan lengang tanpa sahut-sahutan adzan seperti terdengar di kota-kota di Indonesia.

Tentang pendidikan, rata-rata setiap dusun memiliki Sekolah Dasar (SD). Hanya saja untuk tingkat lanjutan di SMP atau SMA mereka harus keluar kampung menuju dusun yang terdapat sekolah jenjang tersebut. Tak jarang mereka harus ke luar daerah hingga ke Jawa. Namun jangan salah, di Kecamatan pedalaman ini pernah melahirkan seorang Menteri di jaman Megawati. Beliau adalah Bapak Ali Marwan Hanan dari Partai Persatuan Pembangunan (PPP) yang menjabat sebagai Menteri Koperasi. Saya menyimpulkan, bahwa keterbatasan memang bukan halangan bagi seseorang untuk maju dan berhasil.

Saya sulit untuk mengakhiri tulisan ini. Hanya sekali-sekali teringat lagu-lagu jaman saya kecil. Rasa-rasanya yang familiar terdengar di telinga dulu memang lagu-lagu yang bersifat naturalis. Sungguh simpel. Ada yang berkisah tentang indahnya pelangi, bintang bahkan ada yang mau diambilkan bulan. Yang lain juga berkisah tentang kegembiraan anak-anak menyambut pamannya. Sukaria naik delman atau becak hingga memuji indahnya alam. Kali ini terlontar dari bibir saya sebuah lagu yang saya sukai.

“Desaku yang kucinta, pujaan hatiku. Tempat ayah dan bunda, dan handai taulankuuu.Tak mudah kulupakan, tak mudah bercerai. Selalu kurindukan, desaku yang permai.”



Standard