Travel

Kota Buddha Kuno di Muaro Jambi

Muaro Jambi (13/2) - STUPA BATA. Bentuk bangunan khas Buddha di Muaro Jambi ini tidak berbeda dengan kebanyakan stupa lainnya, meskipun terbuat dari batu bata. Melihat Negeri Sendiri-Wiwitto

Salah satu alasan saya nekat melakukan perjalanan Trans-Sumatera adalah Candi Muaro Jambi. Suatu hari saya melihat cover harian nasional yang menampilkan gambar candi kuno berbahan batu bata. Kabarnya, Indonesia sedang berusaha untuk menjadikannya warisan dunia baru yang diakui UNESCO. Lebih dahsyat lagi adalah, penjelasan seorang kawan di Jambi yang menyatakan bahwa kompleks Percandian Muaro Jambi jauuuh lebih besar dari Borobudur!

Keterangan tersebut ibarat api yang menyulut hasrat saya menyaksikan dengan mata kepala sendiri. Borobudur bagi saya merupakan sebuah karya maha dasyat. Meskipun saya sudah berulang kali mengunjunginya, pun tetap menghadirkan kekaguman baru setiap menginjakkan kaki di candi warisan abad ke-8 tersebut. Sepuluh tingkatnya menghadirkan ukiran relief dari kitab suci Buddha yang apabila dibentangkan dapat mencapai 3 km panjangnya. Belum lagi benteng alamnya, Borobudur dikelilingi oleh 6 gunung di sekitarnya. Yang tak kalah menarik, konon konsep borobudur adalah lotus on the lake. Dimana candi berbentuk dasar persegi tersebut ibarat bunga teratai yang mengapung di atas danau purba. Yaa, memang konon katanya ada seluasan perairan mengelilingi kompleks candi. Nah, sekarang bayangkan perasaan saya mendengar orang berbicara bahwa ada karya lain melebihi besarnya Borobudur?

Perjalanan dari Palembang ke Jambi saya tempuh selama lebih dari 12 jam. Berangkat siang hari pukul 13.00, travel Innova yang saya tumpangi tiba di tujuan pada dini hari. Saya tidak sadar ketika mobil telah sampai pada penginapan yang sudah dipesankan oleh kawan. Jalanan kota nampak berkabut. Warna putihnya jelas terlihat pada sekitar jam 2 pagi. Dingin, basah dan sepi! Hadir sekelebat dalam imajimasi saya suasana mistis Sumatera. Rasanya seperti memasuki daerah pedalaman hutan tropis yang apabila ditelusuri makin jauh, semakin asing, semakin takut tetapi juga semakin penasaran.

Dugaan saya tidak meleset, berbeda dengan ibukota provinsi lain di Pulau Sumatera yang umumnya merupakan kota pesisir, suasana Kota Jambi cenderung tenang khas daerah pedalaman. Bagusnya, rimbun pepohonan menghiasi pinggir-pinggir jalan protokol yang membuat suasana teduh dan sedikit lembab. Tidak ada kemacetan, tidak ada gedung-gedung tinggi ataupun mall-mall yang bertaburan di dekat pusat pemerintahan. Satu-satunya kemacetan yang saya temukan hanyalah di depan rumah dinas Gubernur yang merupakan kawasan niaga. Ada pasar tradisional yang tumpah ke jalan, juga sebuah kompleks pertokoan besar dalam satu garis lurus. Di ujung keramaian adalah sebuah simpang yang mengantarkan saya melihat Batanghari, sungai terpanjang di Sumatera.

Tujuan utama saya adalah Candi Muaro. Berbekal informasi dari Museum, perlu menempuh sekitar 20 km dari simpang yang menurut penduduk sekitar disebut sebagai Ancolnya Jambi. Daerah pinggir Batanghari yang dijadikan sebagai pusat rekreasi.

Saya berjalan sedikit ngebut. Bukan karena harus menempuh 20 km, tetapi karena jalanan menuju Candi Muaro juga sangat sepi. Setelah menyeberang jembatan Batanghari II, pemandangan di kanan dan kiri jalan adalah rawa-rawa. Juga diselingi bentang-bentang luas lahan yang nampaknya dibuka untuk perkebunan. Masih nampak sisa-sisa tonggak kayu yang dibakar, di sela-sela tanaman inti. Sesekali, saya memacu kendaraan cepat-cepat bahkan takut melihat kanan-kiri. Belum lagi kalau saya harus menembus kanopi hutan yang melengkung membentuk terowongan hijau. Itu semua saya lalui, sendirian saja!

Pukul 3 sore setelah perjalanan bermotor selama hampir 1 jam, saya menemukan barisan rumah yang berderet membentuk suatu perkampungan. Lepas satu kampung dibatasi sedikit semak belukar kemudian ada perkampungan lainnya. Setelah beberapa kali melewati kampung demi kampung akhirnya saya melihat gapura besar bertuliskan “Candi Muaro Jambi”.

Muaro Jambi (13/2) - CANDI TINGGI. Satu dari sekian banyak candi di Kompleks Percandian Muaro Jambi yang sudah direkonstruksi hingga utuh. Melihat Negeri Sendiri-Wiwitto

Dari jalan utama saya langsung bisa melihat sebuah bangunan candi di tengah-tengah lapangan hijau luas. Bentuk bangunannya persegi lurus setinggi kurang lebih 10 meter. Bagian bawah bangunan tersebut terdapat ornamen bersusun-susun. Sementara bagian mukanya terdapat hiasan ukir terbuat dari batu andesit. Bila diperhatikan, bangunan utama dikelilingi pagar dari batu bata kuno yang sangat luas. Tidak hanya satu, bahkan nampaknya pagar tersusun berlapis-lapis. Konon katanya diatas bangunan utama ini kemungkinan terdapat bangunan lain yang terbuat dari bahan kayu yang telah hilang entah kemana. Ibaratnya, yang saya ceritakan ini adalah kastil kuno dengan pembagian-pembagian ruangan yang menunjukkan fungsi-fungsi tertentu. Orang sekitar menyebutnya sebagai Candi Gumpung.

Muaro Jambi (13/6) - MENAPO. Runtuhan candi ini awalnya berupa gundukan tanah yang tertutup dedaunan. Beberapa diantaranya menyimpan prasasti, patung serta perhiasan emas.Melihat Negeri Sendiri-Wiwitto

Dari bangunan pertama ini, saya diajak oleh pemandu menuju candi lain. Tidak main-main, saking jauhnya kami harus naik motor menuju lokasi candi kedua. Sepanjang jalan, saya dijelaskan bahwa ada beberapa gundukan yang apabila dibersihkan dari sulur dedaunan akan muncul bagunan candi yang utuh. Orang sekitar menyebut gundukan itu “Menapo”. Pada awalnya diketahui hanya ada 7 menapo utama, namun setelah dilakukan foto udara bekerjasama dengan Universitas Gadjah Mada di tahun 1985 diketahui ada 40 lebih menapo yang tersebar dalam kawasan seluas 7 kilometer persegi. Tidak menutup kemungkinan ada menapo lain yang belum teridentifikasi.

Bukan hanya candi, di kompleks yang setiap sore atau hari libur rame oleh anak-anak kecil dan remaja itu menghadirkan pula kolam kuno yang disebut sebagai Telago Rajo. Fungsinya kurang lebih sebagai tempat pemandian di masa lampau. Letaknya agak tinggi dan disekitarnya masih terlihat jelas pagar-pagar batu bata yang kemungkinan merupakan tanggul pembatas satu bangunan dengan bangunan lainnya.

Muaro Jambi (13/6) - SETELAH DIPUGAR. Menapo yang telah berhasil direkonstruksi menjadi candi yang sangat indah. Melihat Negeri Sendiri-Wiwitto

Hadirnya tanggul ini menurut beberapa ahli diperkirakan untuk menahan banjir ke dalam kompleks bangunan. Berdasarkan berita-berita China atau catatan perjalanan masa lampau dikenal sebuah pelabuhan penting di pesisir timur Sumatera bernama Zabag. Kemungkinan besar itu adalah daerah yang saat ini dikenal sebagai Muara Sabak. Menurut perkiraan, orang-orang di masa lampau menuju kota melalui muara Sungai Batanghari. Perahu-perahu mereka masuk ke kota untuk melakukan perdagangan.

Keseluruhan cerita di atas membukakan mata saya tentang betapa besarnya Kompleks Percandian Muaro Jambi. Tidak hanya besar dalam hal ukuran candi yang berhasil direkonstruksi, namun lebih dari itu situs tersebut menghadirkan kompleks yang dulunya bisa jadi merupakan istana. Atau lebih dari itu, bisa jadi merupakan kompleks kota kuno.

Yang lebih menggetarkan bagi saya adalah tentang runtuhnya sebuah peradaban. Kita tidak pernah tahu bahwa kota yang dulunya ramai telah hancur dan berubah menjadi sunyi. Sementara itu di kota yang sekarang kita tinggali bisa jadi sebelumnya adalah sebuah belantara. Belajar dari perubahan, dalam perjalanan tersebut saya menghirup semangat kehidupan. Kita tidak akan pernah tahu apa yang terjadi esok hari. Sesuatu yang hari ini bukan siapa-siapa bisa jadi akan menjadi sangat bermakna di masa yang akan datang. Seperti Batanghari, saya percaya hidup akan terus mengalir.

Muaro Jambi (13/2) - SENJA DI BATANGHARI. Mengalir dari Solok-Sumatera Barat dan bermuara di Jambi sepanjang lebih dari 800 km, merupakan sungai terpanjang di Pulau Sumatera. Melihat Negeri Sendiri-Wiwitto

Standard
Travel

Kemewahan Tak Terbeli di Tepian Sungai Musi

Palembang (1/2)- MY HEART WILL STAY ON! Jembatan Ampera di atas Sungai Musi menghubungkan Palembang bagian Ulu dan Ilir. Pengunjung yang kebanyakan adalah muda-mudi tidak pernah sepi memadati lokasi sekitar jembatan yang bersinar di malam hari. Melihat Negeri Sendiri-Wiwitto

Setelah Bengkulu, perjalanan Trans-Sumatera saya berlanjut ke Palembang. Kota terbesar kedua di Sumatera ini terkenal dengan sebutan Bumi Sriwijaya. Tentunya ini berdasarkan asumsi yang disebabkan oleh banyaknya prasasti yang ditemukan di sekitar Sungai Musi. Kurang lebih isinya menyebutkan bahwa dahulu terdapat kerajaan besar beragama Buddha berbahasa Melayu. Sahih, dalam beberapa sumber sejarah – termasuk Prasasti Kedukan Bukit- menuliskan nama kerajaan sebagai Crivijaya. Lazim kemudian disebut sebagai Sriwijaya.

Memang benar hingga saat ini para ahli masih berdebat tentang letak pasti Kerajaan Sriwijaya.  Tepatnya adalah menelusuri ulang dimana letak Ibu Kota/Istana Sriwijaya Kuno. Walaupun banyak peninggalan sejarah ditemukan di sekitar Sungai Musi, akan tetapi tersebut di dalamnya beberapa kata yang merujuk suatu lokasi seperti Zabag yang identik dengan daerah Muara Sabak di Jambi serta Minanga yang identik dengan daerah Binanga di Sumatera Utara. Selain itu, situs Buddha kuno juga ditemukan di sekitar Muaro Jambi serta Dharmasraya- Sumatera Barat. Didukung oleh catatan pedagang dari Arab bernama Sulayman, Anthony Reid dalam Anthology of the Travelers menyimpulkan bahwa kemungkinan Sriwijaya merupakan kerajaan yang mengendalikan pelabuhan-pelabuhan besar di Selat Malaka dan Laut China Selatan pada abad ke 7-13 M.

Palembang (1/2) -GUCI EMAS DARI KAYU. Kesenian lacquer sangat populer di Sumatera Selatan mulai dari dulu hingga sekarang. Melihat Negeri Sendiri-Wiwitto

Saya sendiri memulai eksplorasi di Kota Palembang dengan mengunjungi pusat kerajinan kayu lacquer (dibaca: laker) yang terletak di sekitar Masjid Raya. Awalnya saya semangat, termasuk mungkin tergoda untuk membeli, tetapi sejurus kemudian saya tetapkan hati untuk tidak berbelanja souvenir. Alasan pertama karena benda-bendanya tergolong besar. Ada diantaranya almari khas Palembang, cermin, meja-kursi, guci, tempat sirih hingga pelaminan. Jelas! Saat ini saya belum membutuhkannya. Alasan yang kedua, tak lain dan tak bukan karena uang di kantong memang luar biasa tipis. Maklum backpacker, prioritas utama adalah dana transportasi dan makan. Urusan oleh-oleh cukuplah dari gambar hasil jepretan kamera. Toh gambar yang akan berbicara ribuan harga!

Nah, tentang kerajinan laker itu sendiri ternyata memang bukan asli berasal dari Indonesia. Teknik pelapisan benda berlukis atau berornamen khusus itu sangat mirip dengan cara pewarnaan keramik. Bisa jadi asal muasal kesenian tersebut dari China, tempat Embah-nya keramik. Satu yang pasti corak ragam hias Palembang memang khas, beda dengan daerah lainnya. Warga Sumsel sangat bangga menyebut kerajinan tersebut khas dengan budaya Palembang yang kaya warna-warna keemasan.

Terkait warna-warna emas, sejak lama Palembang dikenal sebagai penghasil kain songket berkualitas tinggi. Songket adalah kain yang ragam hiasnya dihasilkan dari proses tenun. Oleh karena itu, pewarnaan ditentukan oleh warna benang asal bahan baku kain. Yang khas dari Songket Palembang adalah dominannya unsur benang berwarna perak dan keemasan. Walhasil, songket Palembang akan terlihat lebih mewah dibandingkan jenis-jenis kain tenun lainnya.

Di Indonesia, kain tenun tidak satu-satunya ditemukan di Palembang. Ada banyak daerah di Jawa, Kalimantan, Bali, Nusa Tenggara bahkan hingga ke Papua yang memproduksi kain jenis itu. Pun tak terkecuali negara tetangga seperti Malaysia dan Brunei yang juga memiliki jenis kerajinan tenun khususnya songket. Akan tetapi, Bangsa Indonesia tidak perlu berkecil hati melihat hasil budayanya juga berkembang di negeri seberang. Bagi saya, teknik pembuatan dan motif boleh mirip tetapi nilai yang terkandung di dalamnya mana mungkin bisa sama. Leluhur kita menciptakan motif-motif kain itu tidak sembarangan. Ada diantaranya punya arti khusus dan dikenakan dalam acara khusus pula. Orang bisa meniru barang, tapi tidak berlaku dengan nilai dan aturan pemakaiannya. Kalau memang nekat, pasti ketahuan! Masak sih demi eksistensi sebuah kain akan menciptakan tradisi baru termasuk mungkin merekonstruksi sejarahnya. Haduuuh niat banget, kalau memang demikian.

Palembang (1/2) - SONGKET TRADISIONAL PALEMBANG. Kain tenun khas Palembang ini sering disebut sebagai rajanya kain karena banyak menggunakan benang perak atau emas. Melihat Negeri Sendiri-Wiwitto

Selain melihat kerajinan, saya juga memuaskan diri dengan mencoba makanan khas Palembang yang sudah terkenal seantero Indonesia: empek-empek! Makanan berbahan dasar ikan itu sudah masuk ke mall-mall hampir diseluruh Indonesia, bahkan juga luar negeri. Hanya saja, menikmati empek-empek kapal selam, lenggang, lenjer, adaan, kulit, keriting dan varian lainnya di tempat asal makanan tersebut adalah sebuah kemewahan!

Selain rasa, kemewahan lain dari makanan Palembang terletak pada kandungan gizinya. Ada banyak lagi turunan dari empek-empek yang juga berbahan dasar ikan. Olahan ikan yang kemudian diberi kuah dapat menjadi Model, Tekwan atau Burgo. Selain itu, ikan juga bisa dimasak langsung tanpa diolah dengan tepung atau sagu terlebih dahulu. Dengan bumbu rempah, termasuk irisan nanas, daun kemangi dan seledri orang Palembang menyebut masakannya sebagai pindang ikan. Jangan ditanya, selain lezat khasiatnya mampu memulihkan tenaga yang sudah kedodoran! Sumpah, it’s soooo energizing…

Malam terakhir di Palembang saya habiskan di pinggiran Sungai Musi. Saat itu adalah hari ke-14 perjalanan Trans-Sumatera saya sejak 19 Januari 2011. Bergelas-gelas kopi kami habiskan menemani obrolan ringan hingga berat. Awalnya kami saling melontarkan pertanyaan standar untuk saling mengenal lebih dalam. Lambat laun, obrolan berputar secara otomatis membahas politik negeri ini. Dari politik, pembicaraan berbelok menuju  kopi luwak. Terus menerus, pembicaraan mengalir lagi menuju topik olah raga, pendidikan hingga pengalaman, mimpi dan banyak lagi topik lainnya.

Diskusi tersebut tanpa dikomando. Seolah sadar untuk terus menghidupkan cerita, satu sama lain saling mengisi manakala suasana terasa sepi. Waktu sudah melewati pergantian hari, tapi pembicaraan kami belum mau stop. Ada saja hal-hal menarik yang diperbincangkan. Tanpa terasa, sesekali bulu roma merinding takjub dan dada terasa lapang mendengar cerita-cerita hebat namun juga terkadang pilu dan penuh harap. Yaa, berharap akan hari depan yang lebih baik. Bukan hanya untuk kami sendiri, bahkan kalau bisa untuk keluarga, kawan dan juga bangsa dan negara tercinta. Melihat esensinya, diskusi santai dan mencerdaskan seperti itu pun saya kira juga merupakan sebuah kemewahan. Dengan caranya sendiri, tanpa sadar Musi telah menghadirkan kemewahan dalam berbagai arti.

Standard
Travel

Membelah Bukit Barisan Menuju Pesisir Barat

Seminggu di desa sebenarnya membuat saya betah, tidak mau beranjak. Udara dingin mulai terbiasa di kulit. Aroma vegetasi telah menjadi sajian sehari-hari, dan bahasa orang sekitar lamat-lamat mulai saya pahami. “Galak kabah Wit mikut Mamak ke hutan? Masih ada kijang, behuk, babi hutan. Tempatnye tinggi bisa lihat Danau Ranau sampai pantai Bengkulu dari atas Bukit.” Kurang lebih artinya, mau Wit ikut Paman ke hutan? Di sana masih ada kijang, beruk, babi hutan. Tempatnya tinggi dan bisa melihat Danau Ranau bahkan sampai pesisir Bengkulu.

Mamak adalah sebutan untuk Paman dari garis keturunan Ibu, sementara dari keturunan ayah dipanggil Pang Cik. Sekilas bahasa suku Semende ini mirip dengan Bahasa Melayu orang Malaysia dengan akhiran kata “e”. Mamak saya ini tubuhnya ramping, tinggi tetapi liat. Garis mukanya runcing, dengan mata sipit khas Melayu. Selain bertani kopi Mamak rajin keluar masuk hutan untuk mengurus dan membeli kulit kayu manis. Tak heran beliau tahu banyak situasi hutan bahkan rute jalanan menuju Bengkulu.

Pada akhirnya saya memang mengubah rute Trans Sumatera. Awalnya dari Muara Dua saya akan bergerak menuju Palembang baru kemudian Bengkulu dan Jambi, tapi kalau dilihat di peta saya harus membelah Bukit Barisan dua kali. Bergerak dari timur ke barat (Palembang-Bengkulu) dan selanjutnya kembali lagi ke timur (Bengkulu-Jambi). Berfikir efisiensi saya melanjutkan perjalanan dari Pulau Beringin menuju Bintuhan-Manna dan akhirnya Bengkulu. Tiga kota terakhir ada di pesisir-pesisir Provinsi Bengkulu.

Tidak berlebihan saya menyebut perjalanan ini membelah bukit barisan. Di dalam peta terlihat bahwa Danau Ranau masuk dalam zona berwarna kuning dengan ketinggian di atas 2000 m di atas permukaan laut. Kecamatan Pulau Beringin – tempat tinggal saya sekarang- juga masuk zona kuning, sementara tujuan kami adalah ke pesisir Bengkulu. Itu artinya kami akan melintas daerah Bukit Barisan Selatan. Pegunungan yang membentang dari Aceh hingga ke Lampung. Bertaburan gunung-gunung api dan dihiasi danau-danau tektonik di beberapa daerah.

Perjalanan kami tidak mudah. Beberapa kilo di awal jalanan masih beraspal, lama-lama hanya tingal kerikil berserakan. Lebih jauh lagi kerikil menipis diganti bebatuan besar bercampur tanah sebagai pondasi. Konon katanya yang meletakkan adalah buruh pribumi untuk kepentingan tanam paksa. Semakin jauh melaju jalanan makin ekstrim. Sekarang yang kami lewati adalah tanah lempung licin disiram hujan gunung tipis-tipis.

Saya naik motor diantar Mamak dan keluarga. Pun demikian orang-orang umumnya akan naik ojeg dari Pulau Beringin menuju Bintuhan. Jalur yang kami lalui tidak bisa dibilang jalan setapak, meskipun kondisinya lebih mengerikan daripada segaris jalan menuju kebun kopi sekalipun. Di kanan kiri jalan terdapat bekas roda mobil pick up pengangkut minyak tanah, sementara kami tinggal melanjutkan jejak roda sepeda motor yang telah dibuat pelintas jalan sebelum kami. Saking seringnya dilewati, lintasan motor itu tepat membentuk sebuah garis lurus sebesar ban roda yang dalam menggerus jalanan. Motor kami masuk gerigi 1 dan harus dibantu dorongan kaki pengemudi yang sudah bersarung sepatu bot. Dalam situasi selama hampir 8 kilo meter penumpang harus turun, berjalan pelan-pelan di atas tanah lempung berwarna kuning kemerahan.

Empat jam kami harus berjibaku menusuk-nusuk bukit Barisan. Jalanan yang kami lalui naik turun kebun kopi sambil sesekali dihibur suara siamang atau simpay yang melenguh-lenguh memantul dari bukit ke bukit. Tanah yang kami lewati berubah-rubah warna. Mulai dari pekat hitam menjadi kuning, merah (benar-benar merah) hingga hijau atau biru, putih mirip pualam. Sesekali ada suara kendaraan bermotor muncul dari balik semak. Segera setelah melaju mereka menjadi kawan kami satu rombongan yang bersama-sama mengiris-iris jalan. Dalam hati saya membatin, “Kok masih ada yaa penduduk yang tinggal di tempat seperti ini? Terus kalau misal sakit dan butuh berobat, atau kalau ada ibu hamil mau melahirkan misalnya, apa juga harus melewati satu-satunya jalan terjal seperti ini?”

Kami sampai di pesisir Bintuhan tengah hari. Setelah beristirahat sebentar, saya sendiri naik bus  melanjutkan perjalanan menuju kota yang lebih besar di Bengkulu, Manna. Dari Manna saya baru bisa bergerak ke kota Bengkulu. Ongkos bus Krui Indah tujuan Manna adalah Rp 30.000,00 sementara Travel Avanza tujuan Bengkulu seharga Rp 50.000,00. Tepat pukul 8 malam tanggal 29 Januari saya tiba di kota Bengkulu.

Tugu Tabot

Seperti halnya Lampung yang mempunyai maskot Siger, maskot Kota Bengkulu adalah Tabot. Tugu tabot yang cantik itu tersebar di beberapa sudut kota. Tabot juga menjelma menjadi kesenian daerah dan festival kesenian. Selain itu banyak juga souvenir kecil-kecil bernuansa tabot. Sebuah bentuk yang terinspirasi dari keranda mayat!

Yaa betul, keranda mayat! Riwayatnya tabot ini dibawa oleh orang-orang India Muslim yang didatangkan oleh Inggris ketika mereka menguasai Bengkulu. Orang-orang India tersebut kebanyakan beraliran syiah yang mengadakan peringatan atas meninggalnya Husein, cucu Nabi Muhammad. Pasca terbunuhnya Husein, orang-orang mengumpulkan potongan jenazahnya yang tercerai berai. Setelah terkumpul mereka memakamkan dengan terlebih dahulu mengarak keranda keliling kota. Begitulah, perwujudan keranda mayat Husein itu yang disebut tabot di Bengkulu. Di Bengkulu festival Tabot akan sangat meriah dengan arak-arakan dan pergelaran kesenian serta doa bersama. Tradisi ini telah diadaptasi dan menjadi tradisi lokal yang penuh nuansa tradisional.

Tiga hari dua malam saya menginap di dekat Pantai Panjang Bengkulu. Saya beruntung mendapat penginapan seharga Rp 80.000,00 dengan AC dan kamar mandi dalam. Tempatnya bersih dan juga tersedia sarapan for free. Lokasi penginapan tersebut dekat dengan Makam Inggris yang tidak mengerikan. Setiap sore, anak-anak muda bermain bola di sela-sela nisan dan patung besar-besar dengan arah melintang-lintang sedikit tak beraturan.

Apa yang saya lakukan di Bengkulu adalah pertama-tama ke museum provinsi. Ini wajib saya lakukan di setiap kota. Tidak hanya sekedar mengikuti program pemerintah untuk Visit Museum Year, tetapi juga saya percaya di sana saya akan mendapat informasi akurat tentang kondisi kota, transportasi dan destinasi wisata di suatu daerah dari sumber terpercaya.

Setelah Museum saya bergerak menuju rumah pengasingan Bung Karno, rumah Ibu Fatmawati dan Danau Dendam. Lokasinya mudah dijangkau dari kota. Seperti halnya museum negeri yang lain, biaya masuk tempat-tempat bersejarah itu hanya Rp 2.000,00 atau pada umumnya tidak lebih dari Rp 5.000,00.  Sore hari saya mengunjungi Benteng Marlborough, Kampung China dan Pantai Panjang.

Tugu Peringatan kematian Thomas Parr

Secara keseluruhan Kota Bengkulu adalah kota yang nyaman. Tidak terlalu besar tetapi semua fasilitas tersedia. Tidak pula terlalu padat kendaraan bermotor. Yang lebih mengesankan, banyak tinggalan kolonial Inggris (bukan Belanda) yang masih terawat apik.  Bengkulu yang juga disebut Bencoolen menarik hati Kolonial Inggris pada tahun 1685-1825. Setelah kalah bersaing dengan VOC di Jawa, pangkalan baru IEC jatuh ke Bang Kulon atau Bencoolen atau Bengkulu yang berarti pesisir barat. Penguasa-penguasa Inggris kemudian bekerjasama dengan penguasa lokal, membangun benteng dan juga perkotaan. Termasuk juga Thomas Stamford Raffles, pernah menghabiskan waktu bersama istrinya di pesisir tersebut. Hingga akhirnya berdasarkan Traktat London, Inggris harus menyerahkan Bengkulu kepada Belanda untuk ditukar dengan Singapore. Selanjutnya Raflles meninggalkan pesisir barat dan mengembangkan daerah Tumasik atau Singapura. Konon katanya, alasan kenapa Inggris rela melepas Bengkulu adalah karena malaria dan gempa.

Jangan sekali kali melupakan sejarah. Jargon terkenal dari sang proklamator itu rasanya tepat disandangkan dengan kenangan akan Bengkulu. Sejarah telah meninggalkan jejak perjuangan sang proklamator hingga bertemu dengan sang penjahit bendera pusaka. Sejarah juga meninggalkan jejak berupa jalan koneksi antar propinsi yang dibangun pada masa tanam paksa. Selain tata kotanya, di Bengkulu terdapat tugu peringatan akan kematian Thomas Parr. Residen Inggris yang mati dibunuh oleh rakyat Bengkulu secara beramai-ramai karena kekejamannya. Demikian, sejarah telah meninggalkan bukti fisik berikut pelajaran berharga untuk kehidupan saat ini. Tanpa mengambil manfaatnya untuk masa depan sejarah hanyalah romantisme, di satu sisi, tanpa mengenang sejarah maka sulit untuk bisa mencintai negeri sendiri.

Standard
Travel

Desa-Desa Sumatera

Perjalanan akhirnya mengantarkan saya sedikit demi sedikit ke bumi Sumatera bagian selatan. Setelah hanya beberapa jam singgah di Danau Ranau, satu-satunya bus yang trayeknya sampai ke kota Palembang lewat kira-kira pukul 10.30. Itu artinya hanya kurang dari satu jam saya menikmati tepian danau besar pertama yang saya kunjungi di Sumatera. Nama busnya Ranau Indah, dengan membayar Rp 30.000,00 saya di antar menuju tempat bernama Kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan (OKU- Selatan) yang beribukota di Muara Dua. Daerah ini merupakan pemekaran dari induknya yang bernama Kabupaten OKU.

Ranau Indah yang saya tumpangi mengular menaiki bukit. Semakin ke atas, Danau Ranau semakin terlihat luas. Semakin jauh, warna birunya semakin pekat. Bergabung dengan unsur warna alam lainnya, hijau, kuning, cokelat tanah basah dan luasan langit putih membentang. Dahsyat!

Sesaat tertegun menikmati keindahan alam, Ranau Indah berhenti-berhenti barang sebentar. Segala rupa muatan dijejalkan. Sehingga, separuh dari isi bus tanggung itu merupakan hasil bumi seperti pisang, cabai, kacang tanah, alpukat, kobis, tomat dan wortel. Hohoho! Anggaplah itu semua fasilitas, karena penumpang boleh makan pisang atau tomat sekedarnya. Tidak dipungut biaya, asal tahu diri saja untuk mengambil secukupnya. Menyenangkan bukan?

Ranau Indah terus menderu-deru dalam tanjakan dan turunan. Setiap kali jalanan terjal dan curam maka sang sopir meminta semua penumpang untuk turun. Tentu tidak termasuk hasil buminya. Untunglah kita tidak diminta ndorong mobil. Yaa, syukurlah berarti bisa menghirup udara segar barang sebentar.

***

Selama lebih kurang 3 jam bus berhasil mengantarkan saya ke Muara Dua. Disana, ada sosok yang sangat saya hormati. Beliau adalah kakak kandung Ibu yang biasa saya sebut Pakdhe. Sudah sejak awal tahun 80-an beliau bertugas sebagai PNS Dinas Pertanian disana. Dan hidupnya sepertinya sudah dijejakkan bersama istri dan anak-anaknya di bagian pedalaman Pulau Sumatera tersebut.

Keluarga Pakdhe tidak tinggal di kota Kabupaten. Sebaliknya, beliau bersama istri dan anak tinggal di daerah pedalaman yang mereka sebut dusun. Kami berdua naik motor dari Muara Dua menuju Dusun Aromantai, Kecamatan Pulau Beringin.

“Berapa lama Dhe, nyampe ke Dusun?”, pertanyaan pertama saya luncurkan. “Aaah cepet, ora suwe!”. Cepat saja tidak lama, kira-kira demikian jawabnya dalam Bahasa Jawa. Setelah itu, semak belukar kami tembus. Hijaunya dedaunan hutan menjadi biasa. Ada kalanya terdapat pepohonan sejenis seperti kopi, pinang, padi atau kayu manis. Tapi tak jarang pula yang terhidang di sisi kanan dan kiri adalah bermacam tanaman hijau tanpa saya ketahui namanya. Total, perjalanan ini mencapai 3 jam lebih sedikit.

Berpeluh kami melewati dusun demi dusun. Sesekali kami diguyur hujan gunung tipis-tipis, selanjutnya disinari lamat-lamat matahari sore dan diusap angin sejuk dataran tinggi. Menurut peta ketinggian kami pun sudah di atas 2000 m di atas permukaan laut.

Motor kami mendecit menuju turunan dan kelokan. Di sebelah kanan kami disambut kincir air yang mulai mengalir. Nah, itulah batas atau gapura pembuka Dusun Aromantai, Kecamatan Pulau Beringin, OKU Selatan. Selain indah kincir ini juga mempunyai fungsi strategis. Di saat PLN hanya mampu menerangi dusun di siang hari, malam hari giliran PLTA sederhana ini menerangi sekitar 900 jiwa di dusun tersebut. Total ada 3 kincir air di sekeliling dusun.

Sejenak saya teringat pada memoir Thomas Stamford Rafless yang  ditulis pada tahun 1835. Disebutkan bahwa Rafless tidak melihat adanya kincir air di Jawa. Sedangkan daerah Minangkabau sudah menggunakannya untuk pengairan sawah ketika beliau di sana. Itu berarti, kincir air bisa jadi sebuah teknologi lokal yang lama berkembang pada masyarakat Sumatera. Sementara itu, Marco Polo yang pada abad ke-13 mampir ke Samudera Pasai menggambarkan rumah-rumah penduduk di sana bertingkat, terbuat dari kayu. Yang bagian bawah untuk ternak dan atasnya disinggahi keluarga. Ciri-ciri itu juga persis saya temukan di Dusun Pulau Beringin. Saya menamainya: Rumah Ruko! Coba perhatikan, konsepnya memang mirip seperti ruko. Selain untuk ternak, lantai bawah juga berfungsi sebagai warung atau toko.

Daerah ini merupakan daerah pemekaran. Dulunya hanya ada 1 Kecamatan Pulau Beringin. Sekarang ada 2 kecamatan baru dalam satu wilayah tersebut. Total ada 3 kecamatan.

Setiap dusun ibarat kumpulan rumah berkelompok di pinggir jalan. Setelah lepas satu dusun maka menuju dusun berikutnya biasanya berupa hutan atau perkebunan. Masing-masing dusun dihuni oleh beberapa ratus warga hingga mencapai ribuan. Tergantung besar kecilnya dusun. Walhasil, setiap dusun akan terdapat 1 Kepala Desa. Ini berbeda dengan di Jawa pada umumnya. Biasanya 1 kelurahan di Jawa terdiri dari beberapa kampung atau dusun.

Mayoritas penduduk pegunungan ini beragama Islam. Mereka melaksanakan ibadah dengan madzab seperti orang Nahdhatul Ulama (NU). Hohoho, saya sebut demikian karena pengetahuan agama saya yang memang minim. Yang saya ingat adzan akan berkumandang setiap hari Jumat. Pada hari-hari biasa suasana akan lengang tanpa sahut-sahutan adzan seperti terdengar di kota-kota di Indonesia.

Tentang pendidikan, rata-rata setiap dusun memiliki Sekolah Dasar (SD). Hanya saja untuk tingkat lanjutan di SMP atau SMA mereka harus keluar kampung menuju dusun yang terdapat sekolah jenjang tersebut. Tak jarang mereka harus ke luar daerah hingga ke Jawa. Namun jangan salah, di Kecamatan pedalaman ini pernah melahirkan seorang Menteri di jaman Megawati. Beliau adalah Bapak Ali Marwan Hanan dari Partai Persatuan Pembangunan (PPP) yang menjabat sebagai Menteri Koperasi. Saya menyimpulkan, bahwa keterbatasan memang bukan halangan bagi seseorang untuk maju dan berhasil.

Saya sulit untuk mengakhiri tulisan ini. Hanya sekali-sekali teringat lagu-lagu jaman saya kecil. Rasa-rasanya yang familiar terdengar di telinga dulu memang lagu-lagu yang bersifat naturalis. Sungguh simpel. Ada yang berkisah tentang indahnya pelangi, bintang bahkan ada yang mau diambilkan bulan. Yang lain juga berkisah tentang kegembiraan anak-anak menyambut pamannya. Sukaria naik delman atau becak hingga memuji indahnya alam. Kali ini terlontar dari bibir saya sebuah lagu yang saya sukai.

“Desaku yang kucinta, pujaan hatiku. Tempat ayah dan bunda, dan handai taulankuuu.Tak mudah kulupakan, tak mudah bercerai. Selalu kurindukan, desaku yang permai.”



Standard
Travel

Kota Pertama: Bus VIP, Siger dan Kopi Luwak Lampung

Perjalanan saya dimulai pada tanggal 19 Januari 2011. Tepat pukul 16.00 sore, bus melaju dari Jogja menuju Sumatera. Terbayang sudah perjalanan berjam-jam nanti akan membuat pinggang pegal, pantat biru dan leher kaku. Maklum, perjalan di Jawa bisa ditempuh dengan berbagai pilihan moda transportasi. Menggunakan pesawat atau kereta eksekutif, seperti yang sering saya lakukan, akan jauh lebih nyaman ketimbang perjalanan dengan bus. Akan tetapi dalam perjalanan kali ini saya niatkan untuk say no to airplane! Setidaknya dalam jalur koneksi antar provinsi.

Melaju dari jalanan kota Jogja bus yang saya tumpangi melesat menembus Jalan Wates dan rute berikutnya di jalur selatan Pulau Jawa. Ternyata, dalam perjalanan, bus akan berhenti di tempat makan pada saat jam-jam makan. Penumpang bisa meluruskan kaki, buang air, sholat, makan atau sekedar menghirup udara segar. Di luar perkiraan saya, perjalanan darat menggunakan bus VIP itu tak kalah nyaman. Ruang di dalam bus ber-AC, toilet juga disediakan bagi yang ingin buang air kecil, penumpang diberi selimut dan ruangan di dalamnya terasa lebar. Gak sempit, bahkan kaki bisa selonjor hampir-hampir lurus. Satu lagi, kursi bisa diatur sesuai kemiringannya (reclining seat) sehingga punggung nyaman dalam perjalanan.

Kondisi di atas jauh berbeda dengan pengalaman saya sebelumnya. Saya pernah menggunakan bus jarak jauh untuk pergi ke Bali, Jakarta atau Bandung. Salah satunya pada saat darmawisata bersama kawan SMA. Waktu itu kami harus menahan hasrat  ingin pipis (baca:h.i.p/h.i.v untuk hasrat ingin vivis) di dalam bus. Kami harus menanti untuk buang air di pom bensin saat bus berhenti, karena di dalam bus tidak ada toilet. Saat jam makan, suplay makanan juga minim dan harus berebutan dengan kawan. Kendaraan memang ber-AC tapi kalau dinyalakan terlalu lama akan bocor. Mirip-mirip genteng bocor saat hujan. Air akan menetes setitik demi setitik di atas kepala penumpang. Belum lagi kalau ada yang mabuk darat. Amit-amit! Baunya bisa bikin kita ikut mabuk. Grrrraaaah, kesimpulannya waktu itu, bepergian dengan bus itu nggak enak. Yaa tidak enak, lebih tepatnya adalah bepergian dengan bus AC ekonomi.

Kembali kepada perjalanan trans Sumatera, pagi sekitar pukul 08.00, bus yang kami tumpangi sudah siap menyeberangi selat sunda dengan jasa kapal feri. Di dalam lambung kapal beberapa bus, truk sarat muatan serta puluhan mobil pribadi sudah mengisi sebagian ruangan. Para penumpangnya ada yang memilih tetap tinggal di dalam kendaraan atau berhamburan ke atas galangan mencari udara segar di lautan. Kemudian, kurang lebih selama 3 jam, kapal siap merapat di Pelabuhan Bakauheni-Lampung.

What’s in Lampung?

Begitu menginjakkan kaki pertama kali di daratan Lampung, atau dari kejauhan ketika masih di atas kapal, pandangan orang pasti tidak bisa beralih dari bangunan berwarna kuning keemasan yang berkilat-kilat dari kejauhan. Yaa, orang sana menyebutnya Menara Siger. Yang menarik, apabila kita memasuki wilayah perkotaan maka lambang yang dinamakan Siger itu akan bertaburan dimana-mana. Mulai dari bunderan hingga nangkring di atas toko-toko atau bangunan penting.

sumber: ronarentacar.blogspot.com

my-lampung.blogspot.com

Dari sumber yang saya dapatkan* siger merupakan perlambang aturan hidup bagi warga Lampung. Masing-masing berisi prinsip atau falsafah bagi mereka dalam menjalani kehidupan. Dari sumber yang lain, siger yang awalnya merupakan mahkota bagi pengantin wanita membuktikan bahwa warga Lampung menempatkan wanita di tempat yang utama.

Terkait dengan Lampung, saya merasa sudah sangat familiar dengan kota ini.  Ambil sebuah contoh, di area pertokoan, hampir setiap radius 100 m orang dapat menemukan gerai minimarket waralaba. Ada dua brand besar yang di Jawa seolah-olah bersaing memperoleh pasar di radius seperti disebut sebelumnya. Yang kedua mengenai bahasa, sebagian besar orang Lampung yang saya jumpai di perkotaan hampir seluruhnya berbahasa Indonesia. Yang muda-muda menggunakan sebutan “lu”, “gua” ala ABG Jakarta, sedangkan yang sebagian lagi justru berbahasa Jawa. Saya tidak bohong. Hampir di setiap tempat umum, kalaupun tidak berbahasa Jawa setidaknya mengerti apa maksud pembicaraan dengan bahasa ibu saya itu.

Puas mengitari kota, gedung-gedung pemerintahan, tempat nongkrong anak muda  serta Museum Negeri Lampung selama seharian, saya memutuskan bergerak ke Liwa-Lampung Barat. Awalnya saya hanya kembali ke buku induk saya-ATLAS. Saya melihat ada danau besar di antara Sumatera Selatan dan Lampung. Maka dengan ilmu asal tunjuk saya meminta bantuan kawan untuk dapat singgah ke Danau Ranau.

Kemudian, perjalanan ke Danau Ranau ini saya tempuh dengan travel di malam hari. Ongkosnya hanya 60 ribu rupiah, siap mengantar penumpang ke daerah yang dulu pernah terjadi gempa besar pada tanggal 14 Februari 1994. Karena perjalanan ke Liwa membutuhkan waktu 6 jam, maka saya sampai di sana pada pukul 2 dini hari. Bersyukur saya mendapat tumpangan di rumah temannya teman. Kelak kawan baru ini justru menjadi informan penting pendukung perjalanan trans Sumatera saya.

Kopi Luwak van Lampung

Di Liwa saya tidak punya tujuan. Yang nyangkut di kepala waktu itu hanya Danau Ranau. Selain itu, sesuai rencana, dari Liwa saya akan meneruskan perjalanan ke Ogan Komering Ulu (OKU) Selatan-Sumsel. Tidak beruntungnya rute Liwa-OKU Selatan hanya dilewati 1 bus umum yang melintas di sekitar Danau Ranau pada pukul 09.00 pagi. Itu pun belum tentu setiap hari bus akan datang. Oleh karenanya pikiran saya fokus untuk melihat Danau Ranau. Hasil jepretan kamera pocket saya di Danau Ranau itu yang kemudian saya jadikan background halaman blog ini.

Suatu hari ketika berada di OKU Selatan saya menemukan artikel menarik tentang kopi luwak. Rupa-rupanya saya pernah membaca halaman cetaknya pada Kompas terbitan awal Desember 2010. Artikel itu menceritakan tentang, kurang lebih, sejarah singkat kopi luwak. Yang mana pada awalnya kopi luwak ini adalah penghiburan bagi buruh tanam paksa yang tidak boleh menikmati kopi yang ia tanam sendiri. Mereka hanya mengais-ngais kopi dari kotoran luwak/musang karena kopi yang ditanamnya langsung dikelola oleh VOC.

Dunia berubah, kopi sampah itu sekarang melejit namanya. Konon kopi luwak dijadikan souvenir kenegaraan oleh SBY untuk beberapa tamu kenegaraan. Namanya juga ikut nongol pada talk show paling kondang sedunia asuhan Oprah Winfrey. Itu karena kopi luwak dianggap kopi aneh, unik dan mahal sedunia. Harganya ada yang menyebutkan hingga mencapai 36 juta rupiah per kilogram. Jauh melebihi harga biji kopi kering di OKU Selatan yang hanya Rp 15.000,00/kg.

Menyela sebentar. Ceritanya saya kecewa bukan main! Ini karena lokasi kopi luwak yang dimuat dalam harian terbesar nasional itu ada di Liwa-Lampung Barat. Berarti saya melewatkan tujuan berharga. Tepat dihari saya kecewa itu, stasiun televisi Trans7 menyiarkan liputan di Lampung Barat. Presenternya terlihat asyik naik perahu diiringi lumba-lumba yang menari-nari di sekitarnya. Dan ini bukan di arena sirkus. Ini nyata. Lumba-lumba tersebut hidup berkoloni di Pantai Teluk Kiluan-Kab. Tenggamus. Masih di dekat Lampung Barat. Belum lagi katanya, Pelabuhan Krui di Lampung Barat sering disinggahi kapal-kapal pesiar besar yang melakukan tour di Samudra Hindia.Omaigaaaaaaaaaaaat, berarti saya benar-benar melewatkan banyak hal berharga di sana.

Yang terakhir, saya tergelitik dengan fenomena kopi luwak. Dengan bahasa yang lebih keren, harga kopi luwak melambung tinggi karena adanya added value. Luwak yang memakan biji kopi itu sesungguhnya hanya melahap kulit buah kopi. Bijinya yang masih utuh dikeluarkan bersama kotorannya, dan uniknya yang dia makan hanyalah buah kopi yang benar-benar tua dan bagus kualitasnya. Ditambah lagi proses pencernaan luwak telah melumuri biji kopi dengan enzim alami yang membuatnya punya nilai lebih. Saya merasakan betapa ujung gigi di rongga mulut tidak terasa asam setelah beberapa sruput kopi luwak ditenggak. Ini berbeda dengan kopi pada umumnya. Rasa masamnya bahkan seringkali bertahan hingga lambung.

Yang dapat kita pelajari sesungguhnya adalah bahwa added value itu mampu melambungkan nilai jual suatu komoditi. Contoh nyatanya adalah produk-produk bangsa Korea. Tanpa sumber daya alam yang mendukung, produk otomotif seperti Hyundai atau KIA mulai menyaingi pasar Jepang. Belum lagi LG, merek tersebut sekarang menjadi rajanya TV Plasma.

Added value menurut saya telah mengantarkan Korea menjadi negara kaya. Bayangkan, pada tahun 1998 negara tersebut mengalami krisis ekonomi yang sama dengan negara kita tetapi sekarang tentu masyarakat Korea jauh lebih makmur. Ini semua tentang added value. Teknologi adalah kunci mereka mengubah suatu barang sehingga mempunyai added value yang bernilai jual tinggi. Hasilnya, ketika barang-barang itu laku keras dipasaran maka orderan meningkat. Perusahaan manufaktur di sektor ini kemudian mendapat untung besar. Untung inilah yang pastinya juga meluberi warga dan pemerintah Korea. Syahdan, kemakmuran bangsa Korea terangkat.

Coba bandingkan, nilai ekspor negara kita sebagian besar berupa bahan mentah. Sebut saja migas, tambang, karet, sawit, kopi, dll. Kekayaan bumi Indonesia yang tiada tara itu dikuras habis dan dijual dengan harga yang rendah. Wajar, karena semua adalah bahan mentah tanpa added value. Oleh karena itu bangsa ini harusnya belajar mengembangkan teknologi untuk menambah nilai guna suatu produk.

Sebut kita memang sudah berhasil menambah nilai guna kopi. Tapi sayangnya itu dihasilkan oleh teknologi alami ciptaan Yang Kuasa. Maka sekali lagi syukur kepadamu Yaa Tuhan yang membuat kami “menemukan” added value tanpa harus susah-susah mengembangkan teknologinya.

*http://www.seruit.com/a/index.php?option=com_content&view=article&id=1086%3Amakna-siger-lampung&catid=195%3Ablog-2010&Itemid=111

Standard
Random

Quarter Kedua

Judul di atas sarat makna untuk dituliskan pada periode ini. Secara harfiah, terkait perjalanan mengelilingi Sumatera, saat ini saya sedang menyiapkan perjalanan panjang periode kedua. Periode pertama telah berjalan selama 18 hari, melintasi 4 Provinsi, singgah di 6 Kota/Kabupaten dan juga bertandang ke 7 keluarga. Tak terhitung jumlah kenangan yang ditorehkan.

Saya menyebutnya quarter kedua karena saat ini saya akan tinggal beberapa hari di tempat saya berada sekarang. Sebelumnya ibarat maraton, maka saya berlari melintasi kota demi kota. Pergi sore hari, sampai pagi buta, seharian menjelajah dan malamnya meneruskan perjalanan. Begitulah, pola seperti itu saya lakukan dalam satu rangkaian periode waktu. Maka tepat, saat ini saya akan beristirahat sementara guna menyusun rencana dan mengumpulkan energi untuk rangkaian berikutnya.

Selanjutnya terkait dengan blog ini. Dalam perjalanan, saya sempat berhenti beberapa hari  di kota ke-tiga. Waktu tersebut saya gunakan untuk mulai menyusun blog. Saya pelajari satu demi satu petunjuk yang ada. Saya bandingkan blog-blog lain yang sudah lebih dulu muncul. Berikutnya, saya susun satu per satu apa yang saya inginkan, saya publish, saya lahirkan dia ke dunia maya. Bagi saya ini istimewa karena saya benar-benar harus menyusun baik content maupun layout -nya sendirian. Biasanya, saya akui, saya harus teriak-teriak minta tolong bila berhadapan dengan urusan IT. Nah, saat ini lah waktunya saya menggoreskan cerita demi cerita sendirian. Ibaratnya rumah telah didirikan, sekarang saatnya mengisi dengan perabotan yang indah lagi sesuai keadaan.

Judul tersebut saya pilih tentu berkaitan dengan tanggal istimewa ini. Pada hari ini, saya bersyukur kepada Tuhan telah digenapkan seperempat abad umurnya. Harapan saya tentu agar diberi umur panjang sehingga waktu yang akan datang dapat dipergunakan untuk kebaikan diri, sesama dan lingkungan.

Saya menandainya sebagai quarter kedua karena saya rasa babak baru dalam hidup saya sudah tiba. Masa-masa training di kawah candradimuka sudah dituntaskan. Orang tua saya telah membesarkan, mengasuh dan  menggenapkan pendidikan formal hingga ke perguruan tinggi. Setidaknya saya juga pernah menjajal pengalaman bekerja laiknya profesional. Jadi apa lagi, ke depan adalah saatnya memulai babak berikutnya dengan bekal yang sudah ada. Menguatkan usaha untuk mewujudkan mimpi-mimpi yang telah lama berkembang.

Dalam perjalanan ini, saya membawa anthology of the traveller yang di susun oleh Anthony Reid. Buku tersebut merupakan catatan orang-orang seperti Marco Polo, Joseph Follet hingga Tan Malaka tentang Sumatera. Kalau boleh jujur, cerita-cerita yang mereka tuliskan bisa dibilang mirip dengan diary. Hanya saja, tanggal-tanggal yang dituliskan telah dijadikan rujukan oleh para ilmuan untuk merekonstruksi sejarah.

Pada awalnya, saya agak ragu mencantumkan tulisan ini dalam blog yang ber-genre inspirasi dan catatan perjalanan. Tapi kalau boleh menyerupakan dengan anthology yang saya sebut sebelumnya, siapa tahu tulisan ini juga akan berguna di masa depan.

Padang, 7 Februari 2011.

Standard
Travel

Sejarah Singkat

Bagaimana kira-kira Anda menyebut pulau ini, Sumatra atau Sumatera?

Saya sering mengucapkan jawaban opsi pertama. Rasa-rasanya melafalkan su-ma-te-ra itu old school banget! Ejaan lama. Tapi ternyata, kalau anda browsing di google dengan kata sumatra maka akan ada pilihan untuk menelusuri kata tersebut sebagai sumatera. Memang benar, masalah spelling ini ternyata punya latar belakang sejarah yang panjang.

Kita tentu mengenal tentang Kerajaan-Kerajaan yang letaknya di sumatera seperti Sriwijaya, Samudera Pasai, Pedir, Barus, Siak dll. Tapi untuk kata sumatera atau sumatra itu sendiri bisa dikatakan muncul lebih muda dari kerajaan-kerajaan di atas. Dalam catatan China pada abad ke-11 muncul banyak sekali istilah san-fo-tsi yang kira-kira merujuk kepada Sriwijaya. Pada abad berikutnya setelah kehancuran Sriwijaya istilah di atas masih muncul dalam catatan China untuk merujuk wilayah pulau bekas Kerajaan Sriwijaya secara keseluruhan. Tapi secara kaidah bahasa, apabila didengarkan istilah tersebut jauh dari nama pulau saat ini.

Bukti berikutnya muncul dalam catatan Marco Polo. Keluarga Polo dari Italy telah lama bersahabat dengan Kaisar Khubilai Kan. Setelah menetap selama 20 tahun di China, pada tahun 1292 Marco ingin kembali ke Italia. Perjalanan tersebut membawa dirinya singgah ke sebuah kerajaan, yang itu adalah Kerajaan Samudera Pasai. Kata Samudera ini yang kemudian dari generasi ke generasi berubah bunyi dan melekat kepada keseluruhan pulau sekarang ini.

Saya tidak ingin memperdebatkan apakah harus memanggil sumatra atau sumatera. Sejarah membuktikan bahwa beda asal seseorang beda cara menyebutnya. Bahkan kata-kata yang kita kenal saat ini sesungguhnya telah mengalami derivasi yang kompleks. Di sini, kantor-kantor pemerintahan secara resmi menuliskan sebagai sumatera. Saya sungguh sangat menghargai hal ini karena bila suatu saat nanti peradaban ini runtuh dan generasi pengganti menemukan jejak-jejak peninggalan budaya di tempat ini, melalui papan-papan nama yang telah memfosil, semua bisa bilang bahwa dulunya daerah ini bernama sumatera!

Standard