Travel

Desa-Desa Sumatera

Perjalanan akhirnya mengantarkan saya sedikit demi sedikit ke bumi Sumatera bagian selatan. Setelah hanya beberapa jam singgah di Danau Ranau, satu-satunya bus yang trayeknya sampai ke kota Palembang lewat kira-kira pukul 10.30. Itu artinya hanya kurang dari satu jam saya menikmati tepian danau besar pertama yang saya kunjungi di Sumatera. Nama busnya Ranau Indah, dengan membayar Rp 30.000,00 saya di antar menuju tempat bernama Kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan (OKU- Selatan) yang beribukota di Muara Dua. Daerah ini merupakan pemekaran dari induknya yang bernama Kabupaten OKU.

Ranau Indah yang saya tumpangi mengular menaiki bukit. Semakin ke atas, Danau Ranau semakin terlihat luas. Semakin jauh, warna birunya semakin pekat. Bergabung dengan unsur warna alam lainnya, hijau, kuning, cokelat tanah basah dan luasan langit putih membentang. Dahsyat!

Sesaat tertegun menikmati keindahan alam, Ranau Indah berhenti-berhenti barang sebentar. Segala rupa muatan dijejalkan. Sehingga, separuh dari isi bus tanggung itu merupakan hasil bumi seperti pisang, cabai, kacang tanah, alpukat, kobis, tomat dan wortel. Hohoho! Anggaplah itu semua fasilitas, karena penumpang boleh makan pisang atau tomat sekedarnya. Tidak dipungut biaya, asal tahu diri saja untuk mengambil secukupnya. Menyenangkan bukan?

Ranau Indah terus menderu-deru dalam tanjakan dan turunan. Setiap kali jalanan terjal dan curam maka sang sopir meminta semua penumpang untuk turun. Tentu tidak termasuk hasil buminya. Untunglah kita tidak diminta ndorong mobil. Yaa, syukurlah berarti bisa menghirup udara segar barang sebentar.

***

Selama lebih kurang 3 jam bus berhasil mengantarkan saya ke Muara Dua. Disana, ada sosok yang sangat saya hormati. Beliau adalah kakak kandung Ibu yang biasa saya sebut Pakdhe. Sudah sejak awal tahun 80-an beliau bertugas sebagai PNS Dinas Pertanian disana. Dan hidupnya sepertinya sudah dijejakkan bersama istri dan anak-anaknya di bagian pedalaman Pulau Sumatera tersebut.

Keluarga Pakdhe tidak tinggal di kota Kabupaten. Sebaliknya, beliau bersama istri dan anak tinggal di daerah pedalaman yang mereka sebut dusun. Kami berdua naik motor dari Muara Dua menuju Dusun Aromantai, Kecamatan Pulau Beringin.

“Berapa lama Dhe, nyampe ke Dusun?”, pertanyaan pertama saya luncurkan. “Aaah cepet, ora suwe!”. Cepat saja tidak lama, kira-kira demikian jawabnya dalam Bahasa Jawa. Setelah itu, semak belukar kami tembus. Hijaunya dedaunan hutan menjadi biasa. Ada kalanya terdapat pepohonan sejenis seperti kopi, pinang, padi atau kayu manis. Tapi tak jarang pula yang terhidang di sisi kanan dan kiri adalah bermacam tanaman hijau tanpa saya ketahui namanya. Total, perjalanan ini mencapai 3 jam lebih sedikit.

Berpeluh kami melewati dusun demi dusun. Sesekali kami diguyur hujan gunung tipis-tipis, selanjutnya disinari lamat-lamat matahari sore dan diusap angin sejuk dataran tinggi. Menurut peta ketinggian kami pun sudah di atas 2000 m di atas permukaan laut.

Motor kami mendecit menuju turunan dan kelokan. Di sebelah kanan kami disambut kincir air yang mulai mengalir. Nah, itulah batas atau gapura pembuka Dusun Aromantai, Kecamatan Pulau Beringin, OKU Selatan. Selain indah kincir ini juga mempunyai fungsi strategis. Di saat PLN hanya mampu menerangi dusun di siang hari, malam hari giliran PLTA sederhana ini menerangi sekitar 900 jiwa di dusun tersebut. Total ada 3 kincir air di sekeliling dusun.

Sejenak saya teringat pada memoir Thomas Stamford Rafless yang  ditulis pada tahun 1835. Disebutkan bahwa Rafless tidak melihat adanya kincir air di Jawa. Sedangkan daerah Minangkabau sudah menggunakannya untuk pengairan sawah ketika beliau di sana. Itu berarti, kincir air bisa jadi sebuah teknologi lokal yang lama berkembang pada masyarakat Sumatera. Sementara itu, Marco Polo yang pada abad ke-13 mampir ke Samudera Pasai menggambarkan rumah-rumah penduduk di sana bertingkat, terbuat dari kayu. Yang bagian bawah untuk ternak dan atasnya disinggahi keluarga. Ciri-ciri itu juga persis saya temukan di Dusun Pulau Beringin. Saya menamainya: Rumah Ruko! Coba perhatikan, konsepnya memang mirip seperti ruko. Selain untuk ternak, lantai bawah juga berfungsi sebagai warung atau toko.

Daerah ini merupakan daerah pemekaran. Dulunya hanya ada 1 Kecamatan Pulau Beringin. Sekarang ada 2 kecamatan baru dalam satu wilayah tersebut. Total ada 3 kecamatan.

Setiap dusun ibarat kumpulan rumah berkelompok di pinggir jalan. Setelah lepas satu dusun maka menuju dusun berikutnya biasanya berupa hutan atau perkebunan. Masing-masing dusun dihuni oleh beberapa ratus warga hingga mencapai ribuan. Tergantung besar kecilnya dusun. Walhasil, setiap dusun akan terdapat 1 Kepala Desa. Ini berbeda dengan di Jawa pada umumnya. Biasanya 1 kelurahan di Jawa terdiri dari beberapa kampung atau dusun.

Mayoritas penduduk pegunungan ini beragama Islam. Mereka melaksanakan ibadah dengan madzab seperti orang Nahdhatul Ulama (NU). Hohoho, saya sebut demikian karena pengetahuan agama saya yang memang minim. Yang saya ingat adzan akan berkumandang setiap hari Jumat. Pada hari-hari biasa suasana akan lengang tanpa sahut-sahutan adzan seperti terdengar di kota-kota di Indonesia.

Tentang pendidikan, rata-rata setiap dusun memiliki Sekolah Dasar (SD). Hanya saja untuk tingkat lanjutan di SMP atau SMA mereka harus keluar kampung menuju dusun yang terdapat sekolah jenjang tersebut. Tak jarang mereka harus ke luar daerah hingga ke Jawa. Namun jangan salah, di Kecamatan pedalaman ini pernah melahirkan seorang Menteri di jaman Megawati. Beliau adalah Bapak Ali Marwan Hanan dari Partai Persatuan Pembangunan (PPP) yang menjabat sebagai Menteri Koperasi. Saya menyimpulkan, bahwa keterbatasan memang bukan halangan bagi seseorang untuk maju dan berhasil.

Saya sulit untuk mengakhiri tulisan ini. Hanya sekali-sekali teringat lagu-lagu jaman saya kecil. Rasa-rasanya yang familiar terdengar di telinga dulu memang lagu-lagu yang bersifat naturalis. Sungguh simpel. Ada yang berkisah tentang indahnya pelangi, bintang bahkan ada yang mau diambilkan bulan. Yang lain juga berkisah tentang kegembiraan anak-anak menyambut pamannya. Sukaria naik delman atau becak hingga memuji indahnya alam. Kali ini terlontar dari bibir saya sebuah lagu yang saya sukai.

“Desaku yang kucinta, pujaan hatiku. Tempat ayah dan bunda, dan handai taulankuuu.Tak mudah kulupakan, tak mudah bercerai. Selalu kurindukan, desaku yang permai.”



Standard
Travel

Kota Pertama: Bus VIP, Siger dan Kopi Luwak Lampung

Perjalanan saya dimulai pada tanggal 19 Januari 2011. Tepat pukul 16.00 sore, bus melaju dari Jogja menuju Sumatera. Terbayang sudah perjalanan berjam-jam nanti akan membuat pinggang pegal, pantat biru dan leher kaku. Maklum, perjalan di Jawa bisa ditempuh dengan berbagai pilihan moda transportasi. Menggunakan pesawat atau kereta eksekutif, seperti yang sering saya lakukan, akan jauh lebih nyaman ketimbang perjalanan dengan bus. Akan tetapi dalam perjalanan kali ini saya niatkan untuk say no to airplane! Setidaknya dalam jalur koneksi antar provinsi.

Melaju dari jalanan kota Jogja bus yang saya tumpangi melesat menembus Jalan Wates dan rute berikutnya di jalur selatan Pulau Jawa. Ternyata, dalam perjalanan, bus akan berhenti di tempat makan pada saat jam-jam makan. Penumpang bisa meluruskan kaki, buang air, sholat, makan atau sekedar menghirup udara segar. Di luar perkiraan saya, perjalanan darat menggunakan bus VIP itu tak kalah nyaman. Ruang di dalam bus ber-AC, toilet juga disediakan bagi yang ingin buang air kecil, penumpang diberi selimut dan ruangan di dalamnya terasa lebar. Gak sempit, bahkan kaki bisa selonjor hampir-hampir lurus. Satu lagi, kursi bisa diatur sesuai kemiringannya (reclining seat) sehingga punggung nyaman dalam perjalanan.

Kondisi di atas jauh berbeda dengan pengalaman saya sebelumnya. Saya pernah menggunakan bus jarak jauh untuk pergi ke Bali, Jakarta atau Bandung. Salah satunya pada saat darmawisata bersama kawan SMA. Waktu itu kami harus menahan hasrat  ingin pipis (baca:h.i.p/h.i.v untuk hasrat ingin vivis) di dalam bus. Kami harus menanti untuk buang air di pom bensin saat bus berhenti, karena di dalam bus tidak ada toilet. Saat jam makan, suplay makanan juga minim dan harus berebutan dengan kawan. Kendaraan memang ber-AC tapi kalau dinyalakan terlalu lama akan bocor. Mirip-mirip genteng bocor saat hujan. Air akan menetes setitik demi setitik di atas kepala penumpang. Belum lagi kalau ada yang mabuk darat. Amit-amit! Baunya bisa bikin kita ikut mabuk. Grrrraaaah, kesimpulannya waktu itu, bepergian dengan bus itu nggak enak. Yaa tidak enak, lebih tepatnya adalah bepergian dengan bus AC ekonomi.

Kembali kepada perjalanan trans Sumatera, pagi sekitar pukul 08.00, bus yang kami tumpangi sudah siap menyeberangi selat sunda dengan jasa kapal feri. Di dalam lambung kapal beberapa bus, truk sarat muatan serta puluhan mobil pribadi sudah mengisi sebagian ruangan. Para penumpangnya ada yang memilih tetap tinggal di dalam kendaraan atau berhamburan ke atas galangan mencari udara segar di lautan. Kemudian, kurang lebih selama 3 jam, kapal siap merapat di Pelabuhan Bakauheni-Lampung.

What’s in Lampung?

Begitu menginjakkan kaki pertama kali di daratan Lampung, atau dari kejauhan ketika masih di atas kapal, pandangan orang pasti tidak bisa beralih dari bangunan berwarna kuning keemasan yang berkilat-kilat dari kejauhan. Yaa, orang sana menyebutnya Menara Siger. Yang menarik, apabila kita memasuki wilayah perkotaan maka lambang yang dinamakan Siger itu akan bertaburan dimana-mana. Mulai dari bunderan hingga nangkring di atas toko-toko atau bangunan penting.

sumber: ronarentacar.blogspot.com

my-lampung.blogspot.com

Dari sumber yang saya dapatkan* siger merupakan perlambang aturan hidup bagi warga Lampung. Masing-masing berisi prinsip atau falsafah bagi mereka dalam menjalani kehidupan. Dari sumber yang lain, siger yang awalnya merupakan mahkota bagi pengantin wanita membuktikan bahwa warga Lampung menempatkan wanita di tempat yang utama.

Terkait dengan Lampung, saya merasa sudah sangat familiar dengan kota ini.  Ambil sebuah contoh, di area pertokoan, hampir setiap radius 100 m orang dapat menemukan gerai minimarket waralaba. Ada dua brand besar yang di Jawa seolah-olah bersaing memperoleh pasar di radius seperti disebut sebelumnya. Yang kedua mengenai bahasa, sebagian besar orang Lampung yang saya jumpai di perkotaan hampir seluruhnya berbahasa Indonesia. Yang muda-muda menggunakan sebutan “lu”, “gua” ala ABG Jakarta, sedangkan yang sebagian lagi justru berbahasa Jawa. Saya tidak bohong. Hampir di setiap tempat umum, kalaupun tidak berbahasa Jawa setidaknya mengerti apa maksud pembicaraan dengan bahasa ibu saya itu.

Puas mengitari kota, gedung-gedung pemerintahan, tempat nongkrong anak muda  serta Museum Negeri Lampung selama seharian, saya memutuskan bergerak ke Liwa-Lampung Barat. Awalnya saya hanya kembali ke buku induk saya-ATLAS. Saya melihat ada danau besar di antara Sumatera Selatan dan Lampung. Maka dengan ilmu asal tunjuk saya meminta bantuan kawan untuk dapat singgah ke Danau Ranau.

Kemudian, perjalanan ke Danau Ranau ini saya tempuh dengan travel di malam hari. Ongkosnya hanya 60 ribu rupiah, siap mengantar penumpang ke daerah yang dulu pernah terjadi gempa besar pada tanggal 14 Februari 1994. Karena perjalanan ke Liwa membutuhkan waktu 6 jam, maka saya sampai di sana pada pukul 2 dini hari. Bersyukur saya mendapat tumpangan di rumah temannya teman. Kelak kawan baru ini justru menjadi informan penting pendukung perjalanan trans Sumatera saya.

Kopi Luwak van Lampung

Di Liwa saya tidak punya tujuan. Yang nyangkut di kepala waktu itu hanya Danau Ranau. Selain itu, sesuai rencana, dari Liwa saya akan meneruskan perjalanan ke Ogan Komering Ulu (OKU) Selatan-Sumsel. Tidak beruntungnya rute Liwa-OKU Selatan hanya dilewati 1 bus umum yang melintas di sekitar Danau Ranau pada pukul 09.00 pagi. Itu pun belum tentu setiap hari bus akan datang. Oleh karenanya pikiran saya fokus untuk melihat Danau Ranau. Hasil jepretan kamera pocket saya di Danau Ranau itu yang kemudian saya jadikan background halaman blog ini.

Suatu hari ketika berada di OKU Selatan saya menemukan artikel menarik tentang kopi luwak. Rupa-rupanya saya pernah membaca halaman cetaknya pada Kompas terbitan awal Desember 2010. Artikel itu menceritakan tentang, kurang lebih, sejarah singkat kopi luwak. Yang mana pada awalnya kopi luwak ini adalah penghiburan bagi buruh tanam paksa yang tidak boleh menikmati kopi yang ia tanam sendiri. Mereka hanya mengais-ngais kopi dari kotoran luwak/musang karena kopi yang ditanamnya langsung dikelola oleh VOC.

Dunia berubah, kopi sampah itu sekarang melejit namanya. Konon kopi luwak dijadikan souvenir kenegaraan oleh SBY untuk beberapa tamu kenegaraan. Namanya juga ikut nongol pada talk show paling kondang sedunia asuhan Oprah Winfrey. Itu karena kopi luwak dianggap kopi aneh, unik dan mahal sedunia. Harganya ada yang menyebutkan hingga mencapai 36 juta rupiah per kilogram. Jauh melebihi harga biji kopi kering di OKU Selatan yang hanya Rp 15.000,00/kg.

Menyela sebentar. Ceritanya saya kecewa bukan main! Ini karena lokasi kopi luwak yang dimuat dalam harian terbesar nasional itu ada di Liwa-Lampung Barat. Berarti saya melewatkan tujuan berharga. Tepat dihari saya kecewa itu, stasiun televisi Trans7 menyiarkan liputan di Lampung Barat. Presenternya terlihat asyik naik perahu diiringi lumba-lumba yang menari-nari di sekitarnya. Dan ini bukan di arena sirkus. Ini nyata. Lumba-lumba tersebut hidup berkoloni di Pantai Teluk Kiluan-Kab. Tenggamus. Masih di dekat Lampung Barat. Belum lagi katanya, Pelabuhan Krui di Lampung Barat sering disinggahi kapal-kapal pesiar besar yang melakukan tour di Samudra Hindia.Omaigaaaaaaaaaaaat, berarti saya benar-benar melewatkan banyak hal berharga di sana.

Yang terakhir, saya tergelitik dengan fenomena kopi luwak. Dengan bahasa yang lebih keren, harga kopi luwak melambung tinggi karena adanya added value. Luwak yang memakan biji kopi itu sesungguhnya hanya melahap kulit buah kopi. Bijinya yang masih utuh dikeluarkan bersama kotorannya, dan uniknya yang dia makan hanyalah buah kopi yang benar-benar tua dan bagus kualitasnya. Ditambah lagi proses pencernaan luwak telah melumuri biji kopi dengan enzim alami yang membuatnya punya nilai lebih. Saya merasakan betapa ujung gigi di rongga mulut tidak terasa asam setelah beberapa sruput kopi luwak ditenggak. Ini berbeda dengan kopi pada umumnya. Rasa masamnya bahkan seringkali bertahan hingga lambung.

Yang dapat kita pelajari sesungguhnya adalah bahwa added value itu mampu melambungkan nilai jual suatu komoditi. Contoh nyatanya adalah produk-produk bangsa Korea. Tanpa sumber daya alam yang mendukung, produk otomotif seperti Hyundai atau KIA mulai menyaingi pasar Jepang. Belum lagi LG, merek tersebut sekarang menjadi rajanya TV Plasma.

Added value menurut saya telah mengantarkan Korea menjadi negara kaya. Bayangkan, pada tahun 1998 negara tersebut mengalami krisis ekonomi yang sama dengan negara kita tetapi sekarang tentu masyarakat Korea jauh lebih makmur. Ini semua tentang added value. Teknologi adalah kunci mereka mengubah suatu barang sehingga mempunyai added value yang bernilai jual tinggi. Hasilnya, ketika barang-barang itu laku keras dipasaran maka orderan meningkat. Perusahaan manufaktur di sektor ini kemudian mendapat untung besar. Untung inilah yang pastinya juga meluberi warga dan pemerintah Korea. Syahdan, kemakmuran bangsa Korea terangkat.

Coba bandingkan, nilai ekspor negara kita sebagian besar berupa bahan mentah. Sebut saja migas, tambang, karet, sawit, kopi, dll. Kekayaan bumi Indonesia yang tiada tara itu dikuras habis dan dijual dengan harga yang rendah. Wajar, karena semua adalah bahan mentah tanpa added value. Oleh karena itu bangsa ini harusnya belajar mengembangkan teknologi untuk menambah nilai guna suatu produk.

Sebut kita memang sudah berhasil menambah nilai guna kopi. Tapi sayangnya itu dihasilkan oleh teknologi alami ciptaan Yang Kuasa. Maka sekali lagi syukur kepadamu Yaa Tuhan yang membuat kami “menemukan” added value tanpa harus susah-susah mengembangkan teknologinya.

*http://www.seruit.com/a/index.php?option=com_content&view=article&id=1086%3Amakna-siger-lampung&catid=195%3Ablog-2010&Itemid=111

Standard
Travel

Sejarah Singkat

Bagaimana kira-kira Anda menyebut pulau ini, Sumatra atau Sumatera?

Saya sering mengucapkan jawaban opsi pertama. Rasa-rasanya melafalkan su-ma-te-ra itu old school banget! Ejaan lama. Tapi ternyata, kalau anda browsing di google dengan kata sumatra maka akan ada pilihan untuk menelusuri kata tersebut sebagai sumatera. Memang benar, masalah spelling ini ternyata punya latar belakang sejarah yang panjang.

Kita tentu mengenal tentang Kerajaan-Kerajaan yang letaknya di sumatera seperti Sriwijaya, Samudera Pasai, Pedir, Barus, Siak dll. Tapi untuk kata sumatera atau sumatra itu sendiri bisa dikatakan muncul lebih muda dari kerajaan-kerajaan di atas. Dalam catatan China pada abad ke-11 muncul banyak sekali istilah san-fo-tsi yang kira-kira merujuk kepada Sriwijaya. Pada abad berikutnya setelah kehancuran Sriwijaya istilah di atas masih muncul dalam catatan China untuk merujuk wilayah pulau bekas Kerajaan Sriwijaya secara keseluruhan. Tapi secara kaidah bahasa, apabila didengarkan istilah tersebut jauh dari nama pulau saat ini.

Bukti berikutnya muncul dalam catatan Marco Polo. Keluarga Polo dari Italy telah lama bersahabat dengan Kaisar Khubilai Kan. Setelah menetap selama 20 tahun di China, pada tahun 1292 Marco ingin kembali ke Italia. Perjalanan tersebut membawa dirinya singgah ke sebuah kerajaan, yang itu adalah Kerajaan Samudera Pasai. Kata Samudera ini yang kemudian dari generasi ke generasi berubah bunyi dan melekat kepada keseluruhan pulau sekarang ini.

Saya tidak ingin memperdebatkan apakah harus memanggil sumatra atau sumatera. Sejarah membuktikan bahwa beda asal seseorang beda cara menyebutnya. Bahkan kata-kata yang kita kenal saat ini sesungguhnya telah mengalami derivasi yang kompleks. Di sini, kantor-kantor pemerintahan secara resmi menuliskan sebagai sumatera. Saya sungguh sangat menghargai hal ini karena bila suatu saat nanti peradaban ini runtuh dan generasi pengganti menemukan jejak-jejak peninggalan budaya di tempat ini, melalui papan-papan nama yang telah memfosil, semua bisa bilang bahwa dulunya daerah ini bernama sumatera!

Standard
Travel

Trans Sumatera

Tidak mudah untuk menjelajah Indonesia. Salah satu masalah utamanya adalah akses. Rute yang menghubungkan pulau ke pulau utamanya dengan kapal atau pesawat terbang, sulit apabila berharap pada jalan darat. Pun di dalam daratan itu sendiri, tidak semua pulau dihubungkan oleh jalan.

Faktanya orang Pontianak harus naik pesawat dan transit di Jakarta lebih dulu untuk menuju Banjarmasin. Padahal, dua-dua nya toh masih dalam satu pulau: Kalimantan!

Selain sebagai pusat pemerintahan,Pulau Jawa juga termasuk istimewa karena jalan raya darat terhubung dari ujung ke ujung. Sejak jaman kolonial, Daendels membangun proyek ambisius yang menghubungkan Anyer sampai Panarukan sejauh kurang lebih 1000 km . Dan kita, generasi sekaranglah, sesungguhnya customer utama warisan penjajahan  tersebut.

Nah, terkait dengan ide keliling Indonesia saya memutuskan untuk menjajal trans Sumatera, yang di atas kertas, terdapat jalan raya yang menghubungkan tiap provinsi. Saya melihat berdasarkan ATLAS Indonesia dan Dunia terbitan “Agung Media Mulia” tahun 2010 hanya Pulau Jawa, Sumatera, Sulawesi dan Kepulauan Nusa Tenggara yang mempunyai jalan darat dari ujung ke ujung. Kembali ke Sumatera, dalam peta terdapat 2 jalur utama di tepi barat serta timur pulau yang disebut sebagai Jalan Raya Lintas Sumatera. Selain itu terdapat pula jalur lintas tengah dan pinggir pantai timur. Dibandingkan semua, jalur lintas timur (jalintim) merupakan penghubung paling panjang dari Aceh hingga Lampung.

Jujur, awalnya saya hanya bermodal Atlas. Yang kedua adalah keinginan yang kuat serta rasa penasaran. Maka setelah itu saya menghubungi semua kawan yang bermukim di semua provinsi di Pulau Sumatera. Walhasil rencana pertama yang disusun adalah sebagai berikut:

Jogja-Bandar Lampung-Muara Dua-Baturaja- Palembang-Lubuk Linggau-Bengkulu-Lubuk Linggau-Saro Langun-Jambi-Sungai Penuh-Padang-Bukittinggi-Balige-Medan-Aceh Timur-Banda Aceh-Sabang-Banda Aceh-Aceh Timur-Medan-Payakumbuh-Pekan Baru-Dumai-Batam-Jogja.

Tolong, bagi Anda yang paham rute Sumatera jangan tertawakan rencana saya ini! Diatas murni berdasarkan peta. Saya tidak berfikir tentang ada tidaknya trayek penghubung, jenis kendaraan, lama perjalanan, faktor resiko, serta kenyamanan. Ini hanya masalah hasrat. Keinginan saya yang membuncah ini ingin segera disalurkan. Kaki ini ingin segera dijejakkan. Dan masalah di lapangan, biarlah dipikirkan di lapangan.

Saya paham ini menjadi seperti rencana backpaking kelas teri. Maklum, sebelumnya saya sering bekerja untuk melayani perjalanan dinas pejabat ke luar negeri. Juga termasuk membantu orang asing merencanakan perjalanan ke dalam dan ke luar Indonesia. Saya tahu betul, menjadi backpaker butuh perencanaan yang matang. Rute perjalanan, obyek yang dikunjungi, akomodasi, anggaran dan faktor resiko harus dipikirkan masak-masak. Ketepatan rencana termasuk di dalamnya ketepatan pengelolaan anggaran menjadi faktor pendukung keberhasilan backpaker .

Kali ini saya berbeda dengan pakem biro perjalanan yang sudah 3 tahun terkhir familiar dengan saya karena tuntutan pekerjaan. Kali ini saya bermodal sejumlah uang, kontak teman dan saudara di sumatera, peta, buku “Sumatera Tempo Doeloe”, serta peralatan pendukung lainnya. Bismillahirahmanirrokhim saya niatkan sejak tanggal 20 Januari 2011 perjalanan trans Sumatera dimulai.

Semangat dari perjalanan ini adalah tentang kemerdekaan. Bahwa sebagai bangsa yang merdeka rakyat Indonesia berhak menikmati pembangunan yang salah satunya berupa jalan. Jalanan bukan hanya sekedar menghubungkan tempat tetapi juga membaurkan manusia, menyatukan bahasa dan meleburkan jarak. Saya sungguh ingin mengunjungi saudara-saudara saya yang diikat oleh bangunan bernama nasionalisme. Tanpa saya mengenal mereka lebih dalam, bagaimana mungkin saya akan mencintai dengan kesungguhan hati.

Kemerdekaan yang kedua adalah kemerdekaan pribadi. Sebagai individu saya bebas menentukan langkah dan masa depan. Ketika promo pesawat ke luar negeri gila-gilaan murah, orang berlomba-lomba plesiran ke negeri orang. Sebagai pribadi saya boleh menentukan untuk pergi ke negeri sendiri. Ini perlu dicoba, dilakukan dan dibiasakan agar tempat-tempat di negara kita semakin di kenal oleh warga negaranya.

Last but not least, sebagai individu yang masih sendiri pula, saya leluasa bepergian tanpa memikirkan istri dan anak di rumah. Walaupun alasan terakhir ini tegas ditentang seorang kawan, “Heeeh, bukan berarti kalau punya istri gak bisa jalan-jalan yaah. Justru harus dibiasakan jalan-jalan, backpaker berdua kan romantis!”. Hahaha, mungkin benar juga! (Hmmm, ending ini bertema curhat colongan ;-D )

Standard