Travel

7 Masjid Terindah di Sumatera

MASJID RAYA BAITURRAHMAN ACEH

MASJID RAYA BAITURRAHMAN ACEH

Dibangun oleh Sultan Iskandar Muda pada abad ke-17, keanggunannya tak kalah dengan Taj Mahal di India. Konon, 5 kubahnya memang mengadopsi gaya bangunan islam yang pernah jaya di tempat tersebut. Masuk lebih dalam, nampak jelas bahwa ukiran sulur dan ornamen masjid tidak berasal dari inspirasi lokal. Relung-relungnya lebih dekat dengan gaya Turki atau Persia, sementara jendela-jendela besarnya terlihat menyerupai bangunan Indisch peninggalan Belanda. Siapapun pasti setuju bahwa masjid ini megah tidak hanya dilihat dari segi arsitekturalnya. Akhir 2004, ketika tsunami menerjang Aceh, bangunan masjid ini melindungi banyak jiwa. Masjid ini juga saksi bisu atas Perang Aceh yang menewaskan Mayor jendral J.H.R Kohler pada tahun 1873. Monumennya dapat dilihat di bagian timur laut halaman masjid saat ini.

MASJID RAYA AL-MASHUN MEDAN

Image

Dinding masjid yang berwarna putih dengan ornamen hijau kebiruan ini terlihat sejuk diantara padatnya lalu lintas Simpang Raya, Medan. Dari depan nampak jelas bahwa kubahnya tidak berbentuk bulat menyerupai bawang. Adalah segi delapan sama  seperti sisi-sisi luar dinding masjid. Segi-segi tersebut diperkuat dengan koridor-koridor yang memisahkan dengan ruang utama yang digunakan untuk sholat. Hiasan dinding koridor maupun ornamen plafon dan bangunan utama sarat warna merah bata bergaya Mughol-India.  Dibangun atas prakarsa Sultan Deli pada awal abad ke-20, arsitek dari Masjid ini adalah seorang Belanda, dengan penyandang dana utama pengusaha keturunan China.

MASJID AN-NUR PEKANBARU

Image

Kubah-kubah berbentuk bawang lebih sering muncul pada bangunan masjid di kawasan Sumatera bagian utara. Di Pekan baru, selain berbentuk bulat bawang, bentuk kubah terlihat mewah dengan detil ornamen hijau, biru dan kuning di permukaannya. Gaya mewarnai kubah mirip Istana Kremlin di Rusia ini justru sering dijumpai pada masjid-masjid modern di tanah melayu. Di sisi lain, dinding masjid yang berbentuk kubistik dengan celah-celah kecil dipermukaannya mengadirkan nuansa Timur Tengah yang sangat kental. Sebagai bangunan masjid modern yang dilengkapi dengan eskalator menuju lantai atas bangunan, kompleks masjid ini terintegrasi dengan sekolah-sekolah serta kampus yang berada di sekitarnya.

MASJID AGUNG AT-TAQWA BENGKULU

Image

Luas, kokoh, dan sederhana! Demikian kesan yang ditangkap pada saat memasuki halaman masjid terbesar di Provinsi Bengkulu ini. Tiang dan jendela yang besar-besar, langit-langit yang tinggi dengan sentuhan cat serba putih memberikan kesan kuat pada masjid ini. Ornamen interiornya tidak detil, justru nampak besar-besar. Bayang-bayang dari jendela-jendela besar tersebut memantul pada lantai masjid yang terbuat dari marmer.  Memberi kesan luas namun terasa sejuk. Kubah utama berbentuk bulat, menumpang di atas atap bersusun tiga yang merupakan inspirasi bangunan lokal. Meskipun berdiri pada tahun 1988, awal mula bangunan ini berdiri sejak jaman Kompeni Belanda.

MASJID AGUNG SULTAN MAHMUD BADARUDDIN PALEMBANG

Image

Sekilas bangunan ini merupakan salah satu masjid tanpa kubah yang terdapat di Sumatera. Atapnya bergaya limasan bersusun tiga, menyerupai bangunan masjid yang ada di Jawa. Akan tetapi, hiasan atap yang berwarna merah dan emas serta ukiran-ukiran ornamennya menghadirkan kesan arsitektural China. Tidak berhenti di situ, menara masjid juga terlihat sangat mirip dengan bangunan pagoda. Lain di luar lain di dalam. Hiasan interior masjid dipenuhi kaligrafi berwarna hijau serta warna-warna semarak lainnya yang sering dijumpai dalam kerajinan lacquer khas Palembang. Walaupun telah mengalami pemugaran berkali-kali, unsur arsitektur China konon sudah ada sejak pertama kali bangunan masjid ini didirikan oleh Sultan Mahmud Badaruddin di abad ke-18.

MASJID AGUNG AL FALAH “1000 TIANG” JAMBI

Image

Masjid ini bisa dibilang tak berdinding! Satu-satunya sekat adalah sisi barat bagian mihrab atau tempat imam sholat yang terbuat dari gebyog – kayu berukir. Itupun tidak sepenuhnya menjangkau puncak pilar. Artinya hanya tiga perempat dinding yang tertutup sekat. Kemudian 3 sisi lainnya dipenuhi oleh tiang dengan berbagai bentuk. Tidak hanya satu deretan tiang. Komposisi tiangnya berlapis-lapis dengan beraneka bentuk dan bahan. Tidak berlebihan apabila warga menyebut bangunan tersebut sebagai “Masjid 1000 Tiang”, mengalahkan popularitas nama aslinya: Masjid Al Falah. Pada awalnya, tanah tempat berdirinya masjid tersebut merupakan lokasi istana Sultan Thaha Syaifuddin. Pada awal abad ke-20 Belanda membumi hanguskan istana tersebut dan menjadikan tanah di atasnya sebagai kamp militer. Bertahan hingga tahun 1970-an, bekas asrama tentara tersebut dijadikan masjid yang berdiri megah hingga saat ini.

MASJID AGUNG PONDOK TINGGI SUNGAI PENUH

Image

Meskipun tidak terletak di Ibu Kota Provinsi seperti 6 masjid sebelumnya, masjid agung di Kota Kerinci ini memiliki keunikan tiada tara. Seluruh bangunannya dipercaya tidak dihubungkan satu pun dengan pasak. Wajar, apabila dilihat dari sudut tertentu bentuknya tidak begitu simetris. Dinding hingga atap masjid terbuat dari kayu. Hiasannya berukir besar-besar dengan warna-warni mencolok berlanggam asli daerah setempat. Corak ukiran dan warna tersebut bisa kita lihat pada hiasan atap rumah maupun ujung perahu tradisional Jambi.  Di bagian atas, atapnya tumpang tiga khas bangunan masjid pribumi. Masjid yang lahir pada akhir abad ke-19 ini didirikan oleh masyarakat lokal dengan dengan inspirasi asli daerah setempat.

Artikel serupa pernah di muat di detikTravel, Agustus 2012

Standard
Travel

Surga-Surga Yang Hilang

Bukit Lawang (13/2) - PINTU MASUK. Jalan Menuju Area Konservasi Orang Utan di Taman Nasional Gunung Leuser, Sumatera Utara penuh dengan penginapan cantik dengan suasana sejuk dan tenang. Melihat Negeri Sendiri-Wiwitto

Kalau ada tempat di sepanjang Sumatera yang ingin kembali saya datangi dan tinggal lebih lama, salah satunya adalah Bukit Lawang! Menghabiskan waktu sambil bersantai dan membaca buku adalah salah satu pilihan terbaik. Bagi yang gemar minum kopi, secangkir serbuk arabica asal Mandailing terasa pas untuk menghangatkan badan. Suasana makin dramatis mana kala kabut tipis perlahan-lahan turun menyapu tebing yang di bawahnya mengalir sungai-sungai. Diantara rimbun pepohonan, menyembul satu dua air terjun yang cahayanya berpendar warna pelangi setelah beradu cahaya matahari. Bila bisa dibayangkan mata, mungkin ini gambaran surga. Hehehe lebay!

Begitulah, saya sudah jatuh cinta sejak mengunjungi destinasi pertama di Sumatera Utara. Awalnya hanya kepingin menyaksikan area konservasi orang utan. Eee, bonusnya justru luar biasa. Sungai Bukit Lawang dan panorama sekitarnya. Agak mengejutkan karena saya menjadi satu diantara tiga orang saja pengunjung lokal yang ikut paket Orang Utan Feeding. Selebihnya justru belasan bule dari berbagai negara di dunia.

Bukit Lawang (13/2) - RIVER TUBING! Selain bersantai ada berbagai pilihan aktivitas bisa dilakukan di area rekreasi Bukit Lawang seperti tracking, orang utan feeding, rafting dan juga river tubing. Melihat Negeri Sendiri-Wiwitto

Orang Utan merupakan binatang endemik di kawasan hutan hujan tropis Asia. Lokasi persisnya adalah di Pulau Kalimantan dan Sumatera. Khusus di Sumatera, jumlahnya saat ini hanya kurang dari 7500 ekor. Jumlahnya terus menurun seiring dengan menurunnya habitat asli binatang primata besar tersebut. Saya baru tahu, selama mengikuti kegiatan ini, bahwa habitat alami orang utan yang sesungguhnya adalah di atas pohon. Istilahnya binatang arboreal. Sehingga meskipun memiliki kedekatan genetik sebesar 96,4 % dengan manusia, toh orang utan tidak betah menyentuh tanah. Orang utan butuh bergelayut dari satu cabang pohon ke cabang lainnya. Kasian betul bagi orang utan yang selama ini saya lihat di kebun binatang. Kondisinya memprihatinkan. Selain dikandang, banyak pula yang dipaksa mentah-mentah berjalan di daratan.

Alasan di atas cukup kuat untuk mendorong saya mengunjungi langsung lokasi konservasi orang utan di Taman Nasional Gunung Leuser. Kesempatan langka! Sudah sampai di lokasinya, kenapa idak sekalian berkunjung langsung. Berbekal informasi sana-sini, saya melesat 4 jam meninggalkan Medan menuju Langkat-Sumatera Utara. Aksesnya mudah. Dari Terminal Pinang Baris hanya satu kali bus menuju Bukit Lawang. Selanjutnya ganti becak motor selama kurang lebih 10 menit menuju loket utama.

Sepanjang perjalanan menuju Langkat, saya tertegun dengan perkebunan kelapa sawit yang luar biasa lebat. Tidak berlebihan, berjam-jam perjalanan rasanya hanya menyusuri lorong sawit tak berujung. Satu dua kali terdapat pabrik-pabrik pengepulan/pengolahan biji sawit di sisi jalan. Sementara itu, para penumpang umumnya akan berhenti di sebuah gang sempit diantara rimbun hijau palm oil trees yang sesungguhnya adalah akses menuju perumahan keluarga petani-petani sawit yang letaknya masuk di tengah hutan.

Langkat (13/2) - SAWIT TAK BERUJUNG. Sepanjang jalan menuju Bukit Lawang penuh dengan perkebunan kelapa sawit milik BUMN dan Perusahaan Asing. Wiwito-Melihat Negeri Sendiri


Menurut cerita, banyak petani sawit yang notabene adalah transmigran. Dahulu mereka mendapat 2 hektare tanah untuk masing-masing digunakan sebagai area pemukiman dan pertanian. Tanamannya macam-macam termasuk karet yang dulunya adalah primadona perkebunan. Sekarang, primadona perkebunan berganti sawit. Ramai-ramai mereka beralih tanaman.

Berikutnya, lahan-lahan juga mulai dialihfungsikan oleh perusahaan-perusahaan penguasa hak pengelolaan hutan (HPH). Sebagian dari perusahaan besar itu bergabung dengan perusahaan asing. Selanjutnya, mereka menjadi raja-raja minyak [sawit] dari Medan yang menguasai berjuta-juta hektar lahan. Bagi petani lokal atau transmigran, lahan 2 hektare berarti saaaaaangat-sangat mikro. Begitulah realita…

Nun di Bukit Lawang. Setelah mendapatkan tiket di loket utama dan berjalan menyeberangi sungai menuju pos jagawana, para peserta orang utan feeding akan di-briefing dengan serangkaian informasi terkait orang utan. Pengunjung tidak boleh memberi makan langsung orang utan, hanya pawang yang diperbolehkan demikian. Juga penting untuk memperhatikan jarak. Pengunjung harus menjaga diri sekitar 7 meter agar tidak terlalu dekat dengannya. Orang utan pada dasarnya hewan yang pemalu. Takut dengan orang asing, takut pula dengan suara-suara bising. Oleh karena itu selama pengunjung menyaksikan orang utan meraih buah-buahan dari jagawana, semua wajib menjaga suara. Hanya bisikan saja terdengar dari satu pengunjung dengan lainnya.

Sayangnya, ditengah keheningan yang selalu dijaga oleh petugas dan pengunjung, terdengar suara menderu-deru tanpa henti dari sisi lain Sungai Bukit Lawang. Sisi kanan sungai merupakan area Taman Nasional, sementara sisi kirinya adalah kawasan eksploitasi. Kawasan yang bisa dimanfaatkan untuk pemukiman atau perkebunan. Tidak mengherankan, semakin tinggi mendaki bukit Taman Nasional semakin jelas terdengar suara deru gergaji mesin dari arah yang bersebarangan. Benar-benar “berseberangan” dalam artian ide maupun lokasinya.

Hilang atau punahnya orang utan sudah diramalkan oleh beberapa pihak. Seniscaya hilangnya hutan-hutan yang sudah dialihfungsikan. Sekedar mengambil perumpamaannya sesungguhnya banyak sudah hal-hal besar telah hilang dari Sumatera Utara. Dalam arti kebudayaan, pada masa lalu sangat dikenal adanya Kerajaan Barus, Langkat dan juga Deli. Saat ini, sebagian meninggalkan jejak sejarah berupa bangunan atau artefak-artefak kerajaan lainnya tapi sebagian besar lainnya telah musnah. Hanya nama yang dikenal, seperti halnya “kapur barus” yang sudah sangat mendunia.

Bukit Lawang (13/2) - GENERASI MASA DEPAN. Anak-anak Bukit Lawang besar bersama alam. Melihat Negeri Sendiri - Wiwitto

Surga-surga yang hilang. Demikian saya menandai kesan saya terhadap Sumatera Utara. Melihat masa lalu, ada peradaban dan kerajaan besar yang surut oleh tepi jaman. Sementara di masa depan, hutan dan seisinya mulai terancam. Alam dan seisinya, tempat manusia dan makhluk lainnya berbagi kehidupan, seharusnyalah dibagi untuk masa depan.

Standard
Travel

Serba Serbi Sumbar

“Temans sy sudah di Padang! Sekarang di Masjid Kota Nurul Iman. Kondisinya retak di sana-sini, tapi aneh, rasanya batin sejuuuk sekali. Betah saya berlama-lama disini.”

Di atas adalah kutipan SMS yang saya kirim ke beberapa kawan sesaat setelah saya pergi melihat-lihat Kota Padang. Dua hari sudah saya di Sumatera Barat namun baru kali ini punya kesempatan menjelajah kota dengan angkot warna merah dari Daerah Belimbing (dibaca: Balimbiang!) menuju Pasar Raya.

Saya berhenti di JL. Mohammad Yamin kemudian berjalan kaki melihat gedung-gedung pemerintahan atau pelayanan publik yang rusak akibat gempa 30 September 2009. Melepas lelah, saya berhenti di Masjid Kota yang saya ceritakan pada sms di atas.

Padang Panjang (8/2) - ANGKOT WARNA WARNI. Di Kota Padang dan sekitarnya, trayek angkutan kota dibedakan berdasarkan warna cat yang menempel pada armada kendaraan umum.

Di Kota Padang adzan isyak berkumandang pukul 20.30. Artinya, pukul 9 malam orang-orang baru keluar dari masjid. Lhaah, kalau di daerah saya jam segitu pacaran sudah bubar! Kurang tahu deh kalau di Padang, jam berapa biasanya anak gadis diantarkan pulang sama pacarnya? Hehe. Untungnya, angkot di Padang bisa diandalkan hingga jam 11 malam. Lajur trayeknya juga menjangkau banyak lokasi. Bisa dibilang Sumbar memiliki sistim transportasi publik perkotaan paling baik di seantero Sumatera!

Dengan naik angkot, pada hari berikutnya saya berkunjung ke Pantai Air Manis yang terkenal karena legenda Malin Kundang. Tidak banyak yang bisa saya komentari karena toh batu kutukan itu dibangun dengan “Semen Padang”. Entah bagaimana dulunya. Selain ke Pantai Air Manis, angkot yang berpusat di Pasar Raya itu bahkan menjangkau Teluk Bayur yang lokasinya perlu empat puluh lima menit perjalanan dari kota. Dengan angkot pula saya bisa mampir ke Museum Adityawarman dan Pantai Taplau (tepi laut).

Selain angkot, moda transportasi yang populer hampir di semua wilayah Sumatera saat ini adalah travel “Innova”, “Avanza” atau “APV”. Yaa, ini semacam kendaraan ber-plat hitam yang dijadikan mobil sewaan untuk perjalanan antar daerah. Dan, yang paling legendaris tentu saja: kereta api! Masih ingat saya setting cerita “Sengsara Membawa Nikmat” yang mengambil lokasi perjalanan kereta. Di Padang, saya niatkan juga menjajal kereta komuter Padang-Padang Pariaman yang bentuknya mirip Prameks Jogja-Solo. Sayang, tidak ada banyak waktu bagi saya menjajal Kereta Mak Itam dari Padang Panjang menuju Danau Singkarak.

***

Bukittinggi (8/2) - JAM GADANG. Menara yang dibangun oleh Belanda pada tahun 1926, merupakan salah satu icon kota-kota di Indonesia

Ada 2 inspirasi saya di Sumatera Barat! Pertama adalah berita seorang kawan tentang indahnya Kota Bukittinggi. Katanya, tak lengkap menyusuri Sumatera barat tanpa mampir ke bekas Ibu Kota RI pada Desember 1948 – Juni 1949 itu. Yang kedua, inspirasinya datang dari Novel populer “Negeri Lima Menara”. Jadilah perjalanan saya kali ini merupakan gabungan antara lost in Bukittinggi dan napak tilas novel pertama A.Fuadi.

Selain khusus kepingin melihat “Jam Gadang”, lokasi lain yang ingin saya lihat di Bukittinggi adalah Rumah tempat kelahiran Bung Hatta. Pun demikian, berbekal artikel karya Rafless dalam Anthology of Traveller-Antony Rheid saya mampir ke tempat yang disebut-sebut sebagai pusat kebudayaan Melayu tempo dulu. Kota tersebut adalah Pageruyong, atau yang kini sering disebut sebagai Pagaruyung. Lokasi persisnya berada di Kota Batu Sangkar, Kab. Tanah Datar. Meninggalkan sebuah bangunan berbentuk rumah gadang megah yang konon dikenal sebagai Istana Pagaruyung. Seolah menjalani nasib yang sama seperti Ibu Kota kerajaan itu sendiri yang pernah terbakar di masa lalu kemudian berpindah-pindah, Istana Pagaruyung sekarang dalam tahap renovasi karena terbakar habis di tahun 2007.

Ternyata benar, berkunjung ke Sumbar belum lengkap tanpa menengok Bukittinggi. Kota bersejarah ini letaknya di apit oleh Gunung Merapi dan Singgalang yang tentu saja menghadirkan hawa sejuk menyegarkan. Pantas, Belanda menjadikannya mulai dari lokasi tetirah hingga membangun Benteng yang di beri nama Fort de Kock. Saat ini, puing benteng memang sudah tidak jelas terlihat. Yang ada justru menyerupai taman yang terhubung oleh jembatan gantung dengan area kebun binatang di lokasi yang berlawanan. Luar biasa! Dari jembatan tersebut kita bisa melihat kota Bukittinggi yang konturnya bergunung-gunung.

Antara benteng, kebun binatang dan jam gadang, semuanya bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Dari jam gadang menuju rumah Bung Hatta juga demikian. Kita hanya perlu melewati “Tangga Empat Puluh” di Pasar Ateh menuju jalan raya. Bagi yang menyukai kuliner, hukumnya wajib menjajal “nasi kapau” di pasar Ateh. Nasi kapau pada dasarnya mirip dengan nasi padang. Hanya saja varian lauk serta sayurnya lebih beragam. Satu porsi nasi kapau dihidangkan bersama sayur kobis, keripik singkong, serundeng-daging, irisan telur dadar, dan siraman kuah gulai yang berlinang-linang menggiurkan. Sebagian orang tidak lupa menambahkan “sambal ladomudo” atau sambal hijau yang, sumpah, bagi saya yang tidak suka pedas ini ikut tergiur mencicipinya. Gerrrrghhh, nikmaaaat!

Bukitinggi (9/2) - NASI KAPAU. Varian Nasi Padang yang dimasak oleh orang-orang yang berasal dari daerah Kapau, dekat Bukittinggi

Keterangan tentang Nasi Kapau itu lebih lengkap ditemukan dalam novel Negeri Lima Menara. Kenikmatannya semakin terasa tatkala tokoh utamanya menerima kiriman rendang kapau penuh kasih dari Ibunda tercinta. Makan rendang bersama kawan senasib seperjuangan semakin mengharu biru karena memori rindu kampung halaman digenapi dengan indahnya kebersamaan dan persahabatan. Dalam situasi ini cerita novel tersebut menghadirkan sejuta imagi yang digambarkan oleh alam pikiran serta menggerakkan hati dengan dorongan kuat yang bernama inspirasi.

Bagitu juga saya. Saya terinspirasi melihat Nagari Bayur di Pinggir danau yang merupakan setting awal Negeri Lima Menara. Tentu saja, termasuk menjajal “Kelok Ampek Puluah Ampek” dari Terminal Simpang Aur di Bukittinggi menuju Lubuk Basung. Jalanan menurun yang ibarat menuruni periuk perbukitan, berkelok sejumlah 44 kali tikungan. Jangan bayangkan putarannya maka Anda akan pusing. Nikmati saja keindahan panoramanya maka akan membuat perjalanan makin berkesan.

Berbicara tentang karya sastra, rasa hormat setinggi-tingginya saya persembahkan bagi Sumatera Barat. Karya-karya Sumatera Barat hadir dari sastra tempo doeloe seperti “Siti Nurbaya”, “Sengsara Mambawa Nikmat”, “Di Bawah Lindungan Kabah”, “Robohnya Surau Kami” dan masih banyak lagi. Di jaman sekarang, lahir novel populer “Negeri Lima Menara”. Apapun jenisnya, semua hadir menggambarkan Sumbar dari masa ke masa. Tanpa sadar, perubahan sosial masyarakatnya terekam apik melalui indahnya tulisan. Dalam konteks sejarah, semua yang tertulis akan abadi; yang terucap hanya akan berhembus bersama tiupan angin. Scripta manent verba volant!

Standard
Travel

7 Danau Terindah di Sumatera

Sebuah situs wisata global telah merilis 12 Danau Terindah di dunia versi mereka, berikut akan saya hadirkan 7 danau terindah di Sumatera yang saya kunjungi selama menempuh perjalanan Trans-Sumatera.

DANAU RANAU

OKU Selatan (21/1): Danau Ranau. Wiwitto-Trans Sumatera


Disebut-sebut sebagai Danau Terbesar kedua di Sumatera yang letaknya di perbatasan Provinsi Lampung dan Sumatera Selatan. Selain terkenal dengan hasil ikannya yang melimpah, Pemda Lampung Barat dan Ogan Komering Ulu (OKU) Selatan berlomba mengelola danau ini sebagai daerah tujuan wisata. Salah satu resortnya yang terkenal bernama Lombok, milik Pemda Lampung Barat.

DANAU RAKIHAN

OKU Selatan (22/1) - Danau Rakihan. Wiwitto-Trans Sumatera


Tidak terlalu besar dan tidak banyak orang yang tahu tentang danau ini. Pun demikian danau alami ini sangat istimewa karena tidak ada sungai besar di sekitarnya yang mengalirkan airnya dengan deras. Walhasil gerak airnya sangat tenang dan warnanya sedikit pekat. Terletak di Kecamatan Sindang Danau, OKUS-Sumsel, yang merupakan tanah kelahiran politisi PPP, Ali Marwan Hanan (Mantan menteri Koperasi RI). Di lereng danau saat ini didirikan sebuah Pondok Pesantren, atas nama beliau, untuk menyemangati anak-anak di daerah terisolir untuk terus maju.

DANAU KERINCI

Sungai Penuh (4/2) Danau Kerinci. Wiwito-Trans Sumatera


Dibandingkan danau lain yang lebih menyerupai kuali, Danau Kerinci memiliki permukaan datar hampir rata dengan tanah di tepinya. Terdapat sawah membentang lebar di tepian danau yang konon merupakan pemasok beras utama di Provinsi Jambi. Mengunjungi danau di pagi hari, apabila beruntung, akan menjumpai gerombolan bangau putih yang terbang dan mencari makan di persawahan.

DANAU MANINJAU

Agam (9/2) DANAU MANINJAU - Wiwitto. Trans Sumatera


Satu dari sekian banyak danau menawan di Sumatera Barat. Untuk mencapainya, pengunjung bisa melewati jalan legendaris yang terkenal dengan nama “Kelok 44” (dibaca: Kelok Ampek Puluah Ampek). Banyak homestay menarik bagi wisatawan di Nagari Bayur yang menjadi setting novel best seller “Negeri Lima Menara”.

DANAU TOBA

Samosir (14/2) Danau Toba . Wiwitto-Trans Sumatera


Merupakan danau terbesar di Indonesia sekaligus di Asia Tenggara. Terbentuk karena letusan vulkanis Gunung Toba Purba yang konon menghancurkan kehidupan di Atlantis. Mengunjungi Danau Toba tidak lengkap tanpa singgah ke Pulau Samosir yang terletak di tengahnya. Banyak atraksi menarik terkait kebudayaan Batak, termasuk pengamen-pengamennya yang bersuara emas.

DANAU LAUT TAWAR

Takengon (16/2) - DANAU LAUT TAWAR. Wiwitto-Trans Sumatera


Letaknya di gugusan Dataran Tinggi Gayo yang terkenal sebagai penghasil kopi. Tidak heran hawa sejuknya menambah suasana tenang apabila berada di sana. Ada 3 buah titik kunjungan di pinggir-pinggir danau yang disediakan sebagai taman bermain dan pemandian air panas alami.

DANAU ANEUK LAOT

Sabang. Danau Aneuk Laot. Hack87-http://tinyurl.com/5rpgq9z


Lokasinya adalah di Pulau Weh, tempat yang dijadikan sebagai ujung paling utara Indonesia. Pengunjung langsung bisa menikmati danau itu selepas meninggalkan Pelabuhan Balohan menuju destinasi wisata menarik di Kota Sabang. Diantaranya adalah snorkling dan diving spot, goa, kuburan dan benteng peninggalan Jepang serta air terjun yang menawan.

Demikian, danau-danau terindah yang saya kunjungi selama perjalanan Trans-Sumatera. Tentu masih ada banyak danau cantik lainnya seperti Danau Singkarak, Danau di Ateh (Sumbar), Danau Sipin (Jambi), dan Danau Dendam (Bengkulu). Danau yang saya sebutkan terakhir belum sempat saya kunjungi. Bisa jadi, mungkin masih ada danau kecil lainnya yang tertutup hutan dan belum nampak oleh pandangan manusia. Indonesia memang luar biasa. Tanahku tak kulupakan, engkau kubanggakan!

Standard
Travel

Kota Buddha Kuno di Muaro Jambi

Muaro Jambi (13/2) - STUPA BATA. Bentuk bangunan khas Buddha di Muaro Jambi ini tidak berbeda dengan kebanyakan stupa lainnya, meskipun terbuat dari batu bata. Melihat Negeri Sendiri-Wiwitto

Salah satu alasan saya nekat melakukan perjalanan Trans-Sumatera adalah Candi Muaro Jambi. Suatu hari saya melihat cover harian nasional yang menampilkan gambar candi kuno berbahan batu bata. Kabarnya, Indonesia sedang berusaha untuk menjadikannya warisan dunia baru yang diakui UNESCO. Lebih dahsyat lagi adalah, penjelasan seorang kawan di Jambi yang menyatakan bahwa kompleks Percandian Muaro Jambi jauuuh lebih besar dari Borobudur!

Keterangan tersebut ibarat api yang menyulut hasrat saya menyaksikan dengan mata kepala sendiri. Borobudur bagi saya merupakan sebuah karya maha dasyat. Meskipun saya sudah berulang kali mengunjunginya, pun tetap menghadirkan kekaguman baru setiap menginjakkan kaki di candi warisan abad ke-8 tersebut. Sepuluh tingkatnya menghadirkan ukiran relief dari kitab suci Buddha yang apabila dibentangkan dapat mencapai 3 km panjangnya. Belum lagi benteng alamnya, Borobudur dikelilingi oleh 6 gunung di sekitarnya. Yang tak kalah menarik, konon konsep borobudur adalah lotus on the lake. Dimana candi berbentuk dasar persegi tersebut ibarat bunga teratai yang mengapung di atas danau purba. Yaa, memang konon katanya ada seluasan perairan mengelilingi kompleks candi. Nah, sekarang bayangkan perasaan saya mendengar orang berbicara bahwa ada karya lain melebihi besarnya Borobudur?

Perjalanan dari Palembang ke Jambi saya tempuh selama lebih dari 12 jam. Berangkat siang hari pukul 13.00, travel Innova yang saya tumpangi tiba di tujuan pada dini hari. Saya tidak sadar ketika mobil telah sampai pada penginapan yang sudah dipesankan oleh kawan. Jalanan kota nampak berkabut. Warna putihnya jelas terlihat pada sekitar jam 2 pagi. Dingin, basah dan sepi! Hadir sekelebat dalam imajimasi saya suasana mistis Sumatera. Rasanya seperti memasuki daerah pedalaman hutan tropis yang apabila ditelusuri makin jauh, semakin asing, semakin takut tetapi juga semakin penasaran.

Dugaan saya tidak meleset, berbeda dengan ibukota provinsi lain di Pulau Sumatera yang umumnya merupakan kota pesisir, suasana Kota Jambi cenderung tenang khas daerah pedalaman. Bagusnya, rimbun pepohonan menghiasi pinggir-pinggir jalan protokol yang membuat suasana teduh dan sedikit lembab. Tidak ada kemacetan, tidak ada gedung-gedung tinggi ataupun mall-mall yang bertaburan di dekat pusat pemerintahan. Satu-satunya kemacetan yang saya temukan hanyalah di depan rumah dinas Gubernur yang merupakan kawasan niaga. Ada pasar tradisional yang tumpah ke jalan, juga sebuah kompleks pertokoan besar dalam satu garis lurus. Di ujung keramaian adalah sebuah simpang yang mengantarkan saya melihat Batanghari, sungai terpanjang di Sumatera.

Tujuan utama saya adalah Candi Muaro. Berbekal informasi dari Museum, perlu menempuh sekitar 20 km dari simpang yang menurut penduduk sekitar disebut sebagai Ancolnya Jambi. Daerah pinggir Batanghari yang dijadikan sebagai pusat rekreasi.

Saya berjalan sedikit ngebut. Bukan karena harus menempuh 20 km, tetapi karena jalanan menuju Candi Muaro juga sangat sepi. Setelah menyeberang jembatan Batanghari II, pemandangan di kanan dan kiri jalan adalah rawa-rawa. Juga diselingi bentang-bentang luas lahan yang nampaknya dibuka untuk perkebunan. Masih nampak sisa-sisa tonggak kayu yang dibakar, di sela-sela tanaman inti. Sesekali, saya memacu kendaraan cepat-cepat bahkan takut melihat kanan-kiri. Belum lagi kalau saya harus menembus kanopi hutan yang melengkung membentuk terowongan hijau. Itu semua saya lalui, sendirian saja!

Pukul 3 sore setelah perjalanan bermotor selama hampir 1 jam, saya menemukan barisan rumah yang berderet membentuk suatu perkampungan. Lepas satu kampung dibatasi sedikit semak belukar kemudian ada perkampungan lainnya. Setelah beberapa kali melewati kampung demi kampung akhirnya saya melihat gapura besar bertuliskan “Candi Muaro Jambi”.

Muaro Jambi (13/2) - CANDI TINGGI. Satu dari sekian banyak candi di Kompleks Percandian Muaro Jambi yang sudah direkonstruksi hingga utuh. Melihat Negeri Sendiri-Wiwitto

Dari jalan utama saya langsung bisa melihat sebuah bangunan candi di tengah-tengah lapangan hijau luas. Bentuk bangunannya persegi lurus setinggi kurang lebih 10 meter. Bagian bawah bangunan tersebut terdapat ornamen bersusun-susun. Sementara bagian mukanya terdapat hiasan ukir terbuat dari batu andesit. Bila diperhatikan, bangunan utama dikelilingi pagar dari batu bata kuno yang sangat luas. Tidak hanya satu, bahkan nampaknya pagar tersusun berlapis-lapis. Konon katanya diatas bangunan utama ini kemungkinan terdapat bangunan lain yang terbuat dari bahan kayu yang telah hilang entah kemana. Ibaratnya, yang saya ceritakan ini adalah kastil kuno dengan pembagian-pembagian ruangan yang menunjukkan fungsi-fungsi tertentu. Orang sekitar menyebutnya sebagai Candi Gumpung.

Muaro Jambi (13/6) - MENAPO. Runtuhan candi ini awalnya berupa gundukan tanah yang tertutup dedaunan. Beberapa diantaranya menyimpan prasasti, patung serta perhiasan emas.Melihat Negeri Sendiri-Wiwitto

Dari bangunan pertama ini, saya diajak oleh pemandu menuju candi lain. Tidak main-main, saking jauhnya kami harus naik motor menuju lokasi candi kedua. Sepanjang jalan, saya dijelaskan bahwa ada beberapa gundukan yang apabila dibersihkan dari sulur dedaunan akan muncul bagunan candi yang utuh. Orang sekitar menyebut gundukan itu “Menapo”. Pada awalnya diketahui hanya ada 7 menapo utama, namun setelah dilakukan foto udara bekerjasama dengan Universitas Gadjah Mada di tahun 1985 diketahui ada 40 lebih menapo yang tersebar dalam kawasan seluas 7 kilometer persegi. Tidak menutup kemungkinan ada menapo lain yang belum teridentifikasi.

Bukan hanya candi, di kompleks yang setiap sore atau hari libur rame oleh anak-anak kecil dan remaja itu menghadirkan pula kolam kuno yang disebut sebagai Telago Rajo. Fungsinya kurang lebih sebagai tempat pemandian di masa lampau. Letaknya agak tinggi dan disekitarnya masih terlihat jelas pagar-pagar batu bata yang kemungkinan merupakan tanggul pembatas satu bangunan dengan bangunan lainnya.

Muaro Jambi (13/6) - SETELAH DIPUGAR. Menapo yang telah berhasil direkonstruksi menjadi candi yang sangat indah. Melihat Negeri Sendiri-Wiwitto

Hadirnya tanggul ini menurut beberapa ahli diperkirakan untuk menahan banjir ke dalam kompleks bangunan. Berdasarkan berita-berita China atau catatan perjalanan masa lampau dikenal sebuah pelabuhan penting di pesisir timur Sumatera bernama Zabag. Kemungkinan besar itu adalah daerah yang saat ini dikenal sebagai Muara Sabak. Menurut perkiraan, orang-orang di masa lampau menuju kota melalui muara Sungai Batanghari. Perahu-perahu mereka masuk ke kota untuk melakukan perdagangan.

Keseluruhan cerita di atas membukakan mata saya tentang betapa besarnya Kompleks Percandian Muaro Jambi. Tidak hanya besar dalam hal ukuran candi yang berhasil direkonstruksi, namun lebih dari itu situs tersebut menghadirkan kompleks yang dulunya bisa jadi merupakan istana. Atau lebih dari itu, bisa jadi merupakan kompleks kota kuno.

Yang lebih menggetarkan bagi saya adalah tentang runtuhnya sebuah peradaban. Kita tidak pernah tahu bahwa kota yang dulunya ramai telah hancur dan berubah menjadi sunyi. Sementara itu di kota yang sekarang kita tinggali bisa jadi sebelumnya adalah sebuah belantara. Belajar dari perubahan, dalam perjalanan tersebut saya menghirup semangat kehidupan. Kita tidak akan pernah tahu apa yang terjadi esok hari. Sesuatu yang hari ini bukan siapa-siapa bisa jadi akan menjadi sangat bermakna di masa yang akan datang. Seperti Batanghari, saya percaya hidup akan terus mengalir.

Muaro Jambi (13/2) - SENJA DI BATANGHARI. Mengalir dari Solok-Sumatera Barat dan bermuara di Jambi sepanjang lebih dari 800 km, merupakan sungai terpanjang di Pulau Sumatera. Melihat Negeri Sendiri-Wiwitto

Standard
Travel

Kemewahan Tak Terbeli di Tepian Sungai Musi

Palembang (1/2)- MY HEART WILL STAY ON! Jembatan Ampera di atas Sungai Musi menghubungkan Palembang bagian Ulu dan Ilir. Pengunjung yang kebanyakan adalah muda-mudi tidak pernah sepi memadati lokasi sekitar jembatan yang bersinar di malam hari. Melihat Negeri Sendiri-Wiwitto

Setelah Bengkulu, perjalanan Trans-Sumatera saya berlanjut ke Palembang. Kota terbesar kedua di Sumatera ini terkenal dengan sebutan Bumi Sriwijaya. Tentunya ini berdasarkan asumsi yang disebabkan oleh banyaknya prasasti yang ditemukan di sekitar Sungai Musi. Kurang lebih isinya menyebutkan bahwa dahulu terdapat kerajaan besar beragama Buddha berbahasa Melayu. Sahih, dalam beberapa sumber sejarah – termasuk Prasasti Kedukan Bukit- menuliskan nama kerajaan sebagai Crivijaya. Lazim kemudian disebut sebagai Sriwijaya.

Memang benar hingga saat ini para ahli masih berdebat tentang letak pasti Kerajaan Sriwijaya.  Tepatnya adalah menelusuri ulang dimana letak Ibu Kota/Istana Sriwijaya Kuno. Walaupun banyak peninggalan sejarah ditemukan di sekitar Sungai Musi, akan tetapi tersebut di dalamnya beberapa kata yang merujuk suatu lokasi seperti Zabag yang identik dengan daerah Muara Sabak di Jambi serta Minanga yang identik dengan daerah Binanga di Sumatera Utara. Selain itu, situs Buddha kuno juga ditemukan di sekitar Muaro Jambi serta Dharmasraya- Sumatera Barat. Didukung oleh catatan pedagang dari Arab bernama Sulayman, Anthony Reid dalam Anthology of the Travelers menyimpulkan bahwa kemungkinan Sriwijaya merupakan kerajaan yang mengendalikan pelabuhan-pelabuhan besar di Selat Malaka dan Laut China Selatan pada abad ke 7-13 M.

Palembang (1/2) -GUCI EMAS DARI KAYU. Kesenian lacquer sangat populer di Sumatera Selatan mulai dari dulu hingga sekarang. Melihat Negeri Sendiri-Wiwitto

Saya sendiri memulai eksplorasi di Kota Palembang dengan mengunjungi pusat kerajinan kayu lacquer (dibaca: laker) yang terletak di sekitar Masjid Raya. Awalnya saya semangat, termasuk mungkin tergoda untuk membeli, tetapi sejurus kemudian saya tetapkan hati untuk tidak berbelanja souvenir. Alasan pertama karena benda-bendanya tergolong besar. Ada diantaranya almari khas Palembang, cermin, meja-kursi, guci, tempat sirih hingga pelaminan. Jelas! Saat ini saya belum membutuhkannya. Alasan yang kedua, tak lain dan tak bukan karena uang di kantong memang luar biasa tipis. Maklum backpacker, prioritas utama adalah dana transportasi dan makan. Urusan oleh-oleh cukuplah dari gambar hasil jepretan kamera. Toh gambar yang akan berbicara ribuan harga!

Nah, tentang kerajinan laker itu sendiri ternyata memang bukan asli berasal dari Indonesia. Teknik pelapisan benda berlukis atau berornamen khusus itu sangat mirip dengan cara pewarnaan keramik. Bisa jadi asal muasal kesenian tersebut dari China, tempat Embah-nya keramik. Satu yang pasti corak ragam hias Palembang memang khas, beda dengan daerah lainnya. Warga Sumsel sangat bangga menyebut kerajinan tersebut khas dengan budaya Palembang yang kaya warna-warna keemasan.

Terkait warna-warna emas, sejak lama Palembang dikenal sebagai penghasil kain songket berkualitas tinggi. Songket adalah kain yang ragam hiasnya dihasilkan dari proses tenun. Oleh karena itu, pewarnaan ditentukan oleh warna benang asal bahan baku kain. Yang khas dari Songket Palembang adalah dominannya unsur benang berwarna perak dan keemasan. Walhasil, songket Palembang akan terlihat lebih mewah dibandingkan jenis-jenis kain tenun lainnya.

Di Indonesia, kain tenun tidak satu-satunya ditemukan di Palembang. Ada banyak daerah di Jawa, Kalimantan, Bali, Nusa Tenggara bahkan hingga ke Papua yang memproduksi kain jenis itu. Pun tak terkecuali negara tetangga seperti Malaysia dan Brunei yang juga memiliki jenis kerajinan tenun khususnya songket. Akan tetapi, Bangsa Indonesia tidak perlu berkecil hati melihat hasil budayanya juga berkembang di negeri seberang. Bagi saya, teknik pembuatan dan motif boleh mirip tetapi nilai yang terkandung di dalamnya mana mungkin bisa sama. Leluhur kita menciptakan motif-motif kain itu tidak sembarangan. Ada diantaranya punya arti khusus dan dikenakan dalam acara khusus pula. Orang bisa meniru barang, tapi tidak berlaku dengan nilai dan aturan pemakaiannya. Kalau memang nekat, pasti ketahuan! Masak sih demi eksistensi sebuah kain akan menciptakan tradisi baru termasuk mungkin merekonstruksi sejarahnya. Haduuuh niat banget, kalau memang demikian.

Palembang (1/2) - SONGKET TRADISIONAL PALEMBANG. Kain tenun khas Palembang ini sering disebut sebagai rajanya kain karena banyak menggunakan benang perak atau emas. Melihat Negeri Sendiri-Wiwitto

Selain melihat kerajinan, saya juga memuaskan diri dengan mencoba makanan khas Palembang yang sudah terkenal seantero Indonesia: empek-empek! Makanan berbahan dasar ikan itu sudah masuk ke mall-mall hampir diseluruh Indonesia, bahkan juga luar negeri. Hanya saja, menikmati empek-empek kapal selam, lenggang, lenjer, adaan, kulit, keriting dan varian lainnya di tempat asal makanan tersebut adalah sebuah kemewahan!

Selain rasa, kemewahan lain dari makanan Palembang terletak pada kandungan gizinya. Ada banyak lagi turunan dari empek-empek yang juga berbahan dasar ikan. Olahan ikan yang kemudian diberi kuah dapat menjadi Model, Tekwan atau Burgo. Selain itu, ikan juga bisa dimasak langsung tanpa diolah dengan tepung atau sagu terlebih dahulu. Dengan bumbu rempah, termasuk irisan nanas, daun kemangi dan seledri orang Palembang menyebut masakannya sebagai pindang ikan. Jangan ditanya, selain lezat khasiatnya mampu memulihkan tenaga yang sudah kedodoran! Sumpah, it’s soooo energizing…

Malam terakhir di Palembang saya habiskan di pinggiran Sungai Musi. Saat itu adalah hari ke-14 perjalanan Trans-Sumatera saya sejak 19 Januari 2011. Bergelas-gelas kopi kami habiskan menemani obrolan ringan hingga berat. Awalnya kami saling melontarkan pertanyaan standar untuk saling mengenal lebih dalam. Lambat laun, obrolan berputar secara otomatis membahas politik negeri ini. Dari politik, pembicaraan berbelok menuju  kopi luwak. Terus menerus, pembicaraan mengalir lagi menuju topik olah raga, pendidikan hingga pengalaman, mimpi dan banyak lagi topik lainnya.

Diskusi tersebut tanpa dikomando. Seolah sadar untuk terus menghidupkan cerita, satu sama lain saling mengisi manakala suasana terasa sepi. Waktu sudah melewati pergantian hari, tapi pembicaraan kami belum mau stop. Ada saja hal-hal menarik yang diperbincangkan. Tanpa terasa, sesekali bulu roma merinding takjub dan dada terasa lapang mendengar cerita-cerita hebat namun juga terkadang pilu dan penuh harap. Yaa, berharap akan hari depan yang lebih baik. Bukan hanya untuk kami sendiri, bahkan kalau bisa untuk keluarga, kawan dan juga bangsa dan negara tercinta. Melihat esensinya, diskusi santai dan mencerdaskan seperti itu pun saya kira juga merupakan sebuah kemewahan. Dengan caranya sendiri, tanpa sadar Musi telah menghadirkan kemewahan dalam berbagai arti.

Standard
Travel

Membelah Bukit Barisan Menuju Pesisir Barat

Seminggu di desa sebenarnya membuat saya betah, tidak mau beranjak. Udara dingin mulai terbiasa di kulit. Aroma vegetasi telah menjadi sajian sehari-hari, dan bahasa orang sekitar lamat-lamat mulai saya pahami. “Galak kabah Wit mikut Mamak ke hutan? Masih ada kijang, behuk, babi hutan. Tempatnye tinggi bisa lihat Danau Ranau sampai pantai Bengkulu dari atas Bukit.” Kurang lebih artinya, mau Wit ikut Paman ke hutan? Di sana masih ada kijang, beruk, babi hutan. Tempatnya tinggi dan bisa melihat Danau Ranau bahkan sampai pesisir Bengkulu.

Mamak adalah sebutan untuk Paman dari garis keturunan Ibu, sementara dari keturunan ayah dipanggil Pang Cik. Sekilas bahasa suku Semende ini mirip dengan Bahasa Melayu orang Malaysia dengan akhiran kata “e”. Mamak saya ini tubuhnya ramping, tinggi tetapi liat. Garis mukanya runcing, dengan mata sipit khas Melayu. Selain bertani kopi Mamak rajin keluar masuk hutan untuk mengurus dan membeli kulit kayu manis. Tak heran beliau tahu banyak situasi hutan bahkan rute jalanan menuju Bengkulu.

Pada akhirnya saya memang mengubah rute Trans Sumatera. Awalnya dari Muara Dua saya akan bergerak menuju Palembang baru kemudian Bengkulu dan Jambi, tapi kalau dilihat di peta saya harus membelah Bukit Barisan dua kali. Bergerak dari timur ke barat (Palembang-Bengkulu) dan selanjutnya kembali lagi ke timur (Bengkulu-Jambi). Berfikir efisiensi saya melanjutkan perjalanan dari Pulau Beringin menuju Bintuhan-Manna dan akhirnya Bengkulu. Tiga kota terakhir ada di pesisir-pesisir Provinsi Bengkulu.

Tidak berlebihan saya menyebut perjalanan ini membelah bukit barisan. Di dalam peta terlihat bahwa Danau Ranau masuk dalam zona berwarna kuning dengan ketinggian di atas 2000 m di atas permukaan laut. Kecamatan Pulau Beringin – tempat tinggal saya sekarang- juga masuk zona kuning, sementara tujuan kami adalah ke pesisir Bengkulu. Itu artinya kami akan melintas daerah Bukit Barisan Selatan. Pegunungan yang membentang dari Aceh hingga ke Lampung. Bertaburan gunung-gunung api dan dihiasi danau-danau tektonik di beberapa daerah.

Perjalanan kami tidak mudah. Beberapa kilo di awal jalanan masih beraspal, lama-lama hanya tingal kerikil berserakan. Lebih jauh lagi kerikil menipis diganti bebatuan besar bercampur tanah sebagai pondasi. Konon katanya yang meletakkan adalah buruh pribumi untuk kepentingan tanam paksa. Semakin jauh melaju jalanan makin ekstrim. Sekarang yang kami lewati adalah tanah lempung licin disiram hujan gunung tipis-tipis.

Saya naik motor diantar Mamak dan keluarga. Pun demikian orang-orang umumnya akan naik ojeg dari Pulau Beringin menuju Bintuhan. Jalur yang kami lalui tidak bisa dibilang jalan setapak, meskipun kondisinya lebih mengerikan daripada segaris jalan menuju kebun kopi sekalipun. Di kanan kiri jalan terdapat bekas roda mobil pick up pengangkut minyak tanah, sementara kami tinggal melanjutkan jejak roda sepeda motor yang telah dibuat pelintas jalan sebelum kami. Saking seringnya dilewati, lintasan motor itu tepat membentuk sebuah garis lurus sebesar ban roda yang dalam menggerus jalanan. Motor kami masuk gerigi 1 dan harus dibantu dorongan kaki pengemudi yang sudah bersarung sepatu bot. Dalam situasi selama hampir 8 kilo meter penumpang harus turun, berjalan pelan-pelan di atas tanah lempung berwarna kuning kemerahan.

Empat jam kami harus berjibaku menusuk-nusuk bukit Barisan. Jalanan yang kami lalui naik turun kebun kopi sambil sesekali dihibur suara siamang atau simpay yang melenguh-lenguh memantul dari bukit ke bukit. Tanah yang kami lewati berubah-rubah warna. Mulai dari pekat hitam menjadi kuning, merah (benar-benar merah) hingga hijau atau biru, putih mirip pualam. Sesekali ada suara kendaraan bermotor muncul dari balik semak. Segera setelah melaju mereka menjadi kawan kami satu rombongan yang bersama-sama mengiris-iris jalan. Dalam hati saya membatin, “Kok masih ada yaa penduduk yang tinggal di tempat seperti ini? Terus kalau misal sakit dan butuh berobat, atau kalau ada ibu hamil mau melahirkan misalnya, apa juga harus melewati satu-satunya jalan terjal seperti ini?”

Kami sampai di pesisir Bintuhan tengah hari. Setelah beristirahat sebentar, saya sendiri naik bus  melanjutkan perjalanan menuju kota yang lebih besar di Bengkulu, Manna. Dari Manna saya baru bisa bergerak ke kota Bengkulu. Ongkos bus Krui Indah tujuan Manna adalah Rp 30.000,00 sementara Travel Avanza tujuan Bengkulu seharga Rp 50.000,00. Tepat pukul 8 malam tanggal 29 Januari saya tiba di kota Bengkulu.

Tugu Tabot

Seperti halnya Lampung yang mempunyai maskot Siger, maskot Kota Bengkulu adalah Tabot. Tugu tabot yang cantik itu tersebar di beberapa sudut kota. Tabot juga menjelma menjadi kesenian daerah dan festival kesenian. Selain itu banyak juga souvenir kecil-kecil bernuansa tabot. Sebuah bentuk yang terinspirasi dari keranda mayat!

Yaa betul, keranda mayat! Riwayatnya tabot ini dibawa oleh orang-orang India Muslim yang didatangkan oleh Inggris ketika mereka menguasai Bengkulu. Orang-orang India tersebut kebanyakan beraliran syiah yang mengadakan peringatan atas meninggalnya Husein, cucu Nabi Muhammad. Pasca terbunuhnya Husein, orang-orang mengumpulkan potongan jenazahnya yang tercerai berai. Setelah terkumpul mereka memakamkan dengan terlebih dahulu mengarak keranda keliling kota. Begitulah, perwujudan keranda mayat Husein itu yang disebut tabot di Bengkulu. Di Bengkulu festival Tabot akan sangat meriah dengan arak-arakan dan pergelaran kesenian serta doa bersama. Tradisi ini telah diadaptasi dan menjadi tradisi lokal yang penuh nuansa tradisional.

Tiga hari dua malam saya menginap di dekat Pantai Panjang Bengkulu. Saya beruntung mendapat penginapan seharga Rp 80.000,00 dengan AC dan kamar mandi dalam. Tempatnya bersih dan juga tersedia sarapan for free. Lokasi penginapan tersebut dekat dengan Makam Inggris yang tidak mengerikan. Setiap sore, anak-anak muda bermain bola di sela-sela nisan dan patung besar-besar dengan arah melintang-lintang sedikit tak beraturan.

Apa yang saya lakukan di Bengkulu adalah pertama-tama ke museum provinsi. Ini wajib saya lakukan di setiap kota. Tidak hanya sekedar mengikuti program pemerintah untuk Visit Museum Year, tetapi juga saya percaya di sana saya akan mendapat informasi akurat tentang kondisi kota, transportasi dan destinasi wisata di suatu daerah dari sumber terpercaya.

Setelah Museum saya bergerak menuju rumah pengasingan Bung Karno, rumah Ibu Fatmawati dan Danau Dendam. Lokasinya mudah dijangkau dari kota. Seperti halnya museum negeri yang lain, biaya masuk tempat-tempat bersejarah itu hanya Rp 2.000,00 atau pada umumnya tidak lebih dari Rp 5.000,00.  Sore hari saya mengunjungi Benteng Marlborough, Kampung China dan Pantai Panjang.

Tugu Peringatan kematian Thomas Parr

Secara keseluruhan Kota Bengkulu adalah kota yang nyaman. Tidak terlalu besar tetapi semua fasilitas tersedia. Tidak pula terlalu padat kendaraan bermotor. Yang lebih mengesankan, banyak tinggalan kolonial Inggris (bukan Belanda) yang masih terawat apik.  Bengkulu yang juga disebut Bencoolen menarik hati Kolonial Inggris pada tahun 1685-1825. Setelah kalah bersaing dengan VOC di Jawa, pangkalan baru IEC jatuh ke Bang Kulon atau Bencoolen atau Bengkulu yang berarti pesisir barat. Penguasa-penguasa Inggris kemudian bekerjasama dengan penguasa lokal, membangun benteng dan juga perkotaan. Termasuk juga Thomas Stamford Raffles, pernah menghabiskan waktu bersama istrinya di pesisir tersebut. Hingga akhirnya berdasarkan Traktat London, Inggris harus menyerahkan Bengkulu kepada Belanda untuk ditukar dengan Singapore. Selanjutnya Raflles meninggalkan pesisir barat dan mengembangkan daerah Tumasik atau Singapura. Konon katanya, alasan kenapa Inggris rela melepas Bengkulu adalah karena malaria dan gempa.

Jangan sekali kali melupakan sejarah. Jargon terkenal dari sang proklamator itu rasanya tepat disandangkan dengan kenangan akan Bengkulu. Sejarah telah meninggalkan jejak perjuangan sang proklamator hingga bertemu dengan sang penjahit bendera pusaka. Sejarah juga meninggalkan jejak berupa jalan koneksi antar propinsi yang dibangun pada masa tanam paksa. Selain tata kotanya, di Bengkulu terdapat tugu peringatan akan kematian Thomas Parr. Residen Inggris yang mati dibunuh oleh rakyat Bengkulu secara beramai-ramai karena kekejamannya. Demikian, sejarah telah meninggalkan bukti fisik berikut pelajaran berharga untuk kehidupan saat ini. Tanpa mengambil manfaatnya untuk masa depan sejarah hanyalah romantisme, di satu sisi, tanpa mengenang sejarah maka sulit untuk bisa mencintai negeri sendiri.

Standard