Art

Identitas Istimewa dalam Tari Klasik Gaya Yogyakarta

srimpi renggowati

Tari Srimpi Renggowati

Riuh rendah masyarakat memenuhi bagian luar maupun dalam Pura Paku Alaman Yogyakarta. Biasanya, kerumunan orang hanya berpusat di luar atau bagian Pamedan Pura Pakualaman yang pada malam hari dipenuhi warung lesehan. Cukup dengan segelas kopi atau jahe panas, di sana orang-orang bisa bertahan ngobrol berjam-jam lamanya. Minum, ngobrol dan makan nasi kucing. Ketiganya adalah perpaduan istimewa untuk menikmati Yogyakarta.

Malam itu Pura Paku Alaman menggelar pertunjukan tari klasik gaya Yogyakarta. Jelas! Rujukan pertunjukan ini berasal dari tata cara baku di lingkungan istana. Sementara itu, pada sore harinya, sejumlah kesenian rakyat dipertunjukkan di halaman Pura Pakualaman yang sering disebut sebagai Alun-Alun Sewandanan. Demikian, acara digelar selama tiga hari berturut-turut. Terselenggara atas kerjasama Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta tahun anggaran 2011 dengan dua lembaga kebudayaan yang ada di Jogja, yaitu Kasultanan dan Paku Alaman.

Repertoir klasik pada hari pertama adalah Tari Srimpi Renggawati. Ditarikan oleh lima orang penari, dimana salah satunya berperan sebagai Dewi Renggawati. Alkisah, sang Dewi menemukan seekor meliwis putih yang tak lain dan tak bukan adalah jelmaan Prabu Angling Darma. Adapun Dewi Renggawati sendiri pada dasarnya adalah titisan Dewi Setyawati–permaisuri Sang Prabu. Alhasil, perjumpaan keduanya menghadirkan nuansa syahdu yang menghanyutkan. Belum lagi iringan tari tersebut mengalun dengan tempo lambat. Semuanya menghadirkan nuansa batin yang sangat mengharukan.

bedhaya angronakung

Tari Bedhaya Angronakung

Pada hari kedua, komposisi yang ditampilkan adalah drama tari berjudul Banjaransari dan wayang orang berlatar belakang Ramayana. Sekilas kesan pada hari kedua adalah unsur kolosal. Tampil dalam pertunjukan tersebut penari-penari pria dan wanita baik yang senior maupun yang masih muda belia. Sebagai penutup di hari ketiga, yang ditampilkan adalah Tari Bedhaya Angron Akung yang dibawakan oleh tujuh orang penari wanita. Seolah menguatkan posisinya sebagai kasta tertinggi dalam jenis tarian jawa, repertoir tersebut hadir dengan iringan dan busana serba mengesankan.

Mengamati satu per satu tari-tari klasik gaya Yogyakarta, perlahan mulai tampak perbedaannya dengan gaya Surakarta yang saya saksikan beberapa saat sebelumnya. Dalam hal gerakan tangan, tari klasik gaya Yogyakarta dominan dengan melipat ibu jari dan membiarkan empat jemari lainnya terbuka rapat. Sementara itu jari tangan yang lainnya akan dirapatkan antara telunjuk dengan ibu jari sehingga membentuk gelungan tangan yang terlihat lentik. Gerakan tersebut hadir dalam jenis tari putri maupun tari putra. Sekilas kesan yang di dapat tidak hanya lentik tetapi juga tegas. Sebuah kombinasi antara kekuatan dan kelembutan.

Dari segi kostum, penampilan tari klasik gaya Yogyakarta terlihat lebih sederhana, tidak mengumbar warna-warni kain maupun kilau kemilau perhiasan emas. Orang awam pasti bisa melihat perbedaan antara busana tari klasik dengan kostum “wayang jawa” yang biasa muncul di televisi. Ada kesamaan bentuk, akan tetapi detil dan ragam hiasnya berbeda.

wayang wong

Wayang Wong Gaya Yogyakarta

Melihat apa yang muncul baik itu dari sisi gerakan maupun pakaiannya, tari klasik gaya Yogyakarta hadir dengan identitas tertentu diantara tari jawa pada umumnya. Melihat ke belakang, hal ini sangat lazim mengingat lahirnya keraton itu sendiri yang merupakan pecahan dari Dinasti Mataram Islam yang sebelumnya berpusat di Surakarta. Melihatnya pada era sekarang atau mungkin juga nanti, nuansa kelembutan, kekuatan, dan kesederhanaan yang muncul dalam pertunjukan tari klasik ibarat harapan agar unsur tersebut selalu ada pada Yogyakarta yang istimewa.

Tulisan ini pernah dimuat dalam rubrik berikut

Standard
Art

Matah Ati, Semangat Cinta dan Perjuangan

 

bedhaya

Drama Tari Matah Ati

Beberapa orang dengan kostum prajurit memasuki lokasi pertunjukan. Duduk membelakangi penonton menghadap ujung belakang panggung yang mulai terbuka sedikit demi sedikit. Tokoh utama dengan pakaian layaknya satria Jawa muncul ke permukaan.

Datang mendekati para prajurit, bersamanya ada enam penasehat dan seorang perempuan tua. Dia adalah Raden Mas Said, cucu dari Raja Jawa-Amangkurat IV yang pada masanya bangkit berdiri melawan penjajah Belanda dengan mengadakan perang gerilya dari desa-desa di sekitar Surakarta.

Cerita sejarah abad ke-18 ini bukan sekadar dongeng. Pada tanggal 8-10 September 2012  telah digelar Drama Tari Kolosal berjudul Matah Ati di Halaman (Pamedan) Puro Mangkunegaran, Solo. Pertunjukan kali ini merupakan yang terbesar sekaligus teristimewa karena mengambil lokasi di tempat lahirnya kisah tersebut. Sebelumnya telah digelar pertunjukan serupa di Esplanade-Singapura dan di Taman Ismail Marzuki-Jakarta. Lebih dari 2.000 penonton memadati arena pamedan, baik itu yang duduk di kursi dengan membeli tiket seharga Rp 250.000-750.000 maupun yang lesehan gratis di muka panggung. Lebih istimewa karena manajemen pertunjukan yang rapi, tepat waktu dan profesional telah membuat penonton yang berjumlah ribuan tersebut merasa aman dan nyaman. Berhasil kiranya pesan moral yang diselipkan oleh Group Lawak Sahita yang turut ambil bagian dalam pertunjukan tersebut, bahwa Solo melawan kekerasan dengan kesenian!

Tentang pertunjukan ini, basisnya adalah tari klasik dari lingkup Puro Mangkunegaran. Ceritanya dituturkan melalui syair atau tembang Jawa yang sangat halus. Menyentuh perasaan, bahkan kadang menyayat hati. Konsep pertunjukan ini diberi nama Langendriyan, serupa dengan Broadway, yang mensyaratkan penguasaan tari, musik dan akting oleh setiap pemerannya.

prajurit

Tari Wireng Puteri Khas Mangkunegaran

Dalam khasanah tari klasik Jawa, posisi Mangkunegaran sangat dikenal dengan koleksi tari-tari Wireng atau keprajuritan. Terpapar jelas dalam Drama Tari Matah Ati, ketrampilan prajurit panah, keris, pedang-tameng, tombak bahkan pistol, diperagakan apik oleh penari pria maupun wanita.

Bukan tanpa alasan melihat Mangkunegaran dipenuhi koleksi tari keprajuritan. Raden Mas Said atau yang dikenal dengan sebutan Pangeran Sambernyowo sejak muda belia mengangkat senjata melawan penjajah Belanda yang mengadu domba kerajaan Mataram di Kartasuta pada abad ke-17. Tragis, hingga ayah kandungnya sendiri, yaitu Pangeran Aryo Mangkoenagoro harus dibuang ke Ceylon akibat fitnah dari dalam istana. Perjuangan Mas Said berbasis gerakan pedesaan. Dia kumpulkan petani-petani di daerah Pegunungan Seribu bagian selatan, atau sekarang Wonogiri, baik dari kalangan pria maupun wanita.

rubiyah

Rubiah, gadis Wonogiri yang kelak mendampingi Mangkunegara I dengan gelar Raden Ayu Matah Ati

Tersebutlah kisah, Raden Mas Said melihat seorang gadis dari Desa Matah yang memancarkan aura sangat kuat pada sebuah pertunjukan wayang. Rubiyah, nama gadis tersebut bahkan hadir dalam hening tapa brata Sang Pangeran. Di tengah derasnya perang, perasaan Mas Said tak terbendung. Berkali-kali Nenenda dan para pengawal menyadarkan arti pentingnya perjuangan, termasuk mengingatkannya bahwa rakyat selalu berkaca pada dirinya. Kerapuhannya akan berdampak kelesuan pagi para pengikut, sedang kekuatannya adalah pembakar semangat. Beruntung, karena Rubiyah ternyata menyambut hati Sang Pangeran. Lebih dari itu, Rubiyah bersedia menjalani pembayatan untuk menjadi penglima prajurit perempuan.

Perang demi perang berlalu namun kekalahan masih mendera kubu Mas Said dan pengikutnya. Dalam pertunjukan digambarkan dua orang pribumi membawa pecut besar yang menyimbolkan penghianatan dari dalam kelompok sendiri. Tanpa sadar, dari dulu hingga kini, tamak akan kekuasaan telah menjadikan saudara sebangsa sebagai objek penderitaan. Maka Mas Said bangkit menyadarkan masyarakat dengan semboyan “Tiji Tibeh”! Mati siji mati kabeh, mukti siji mukti kabeh (mati satu mati juga yang lainnya, berhasil satu berhasil pula yang lainnya).

tijitibeh

Ikrar Sambernyawa kepada Pengikutnya, Tiji Tibeh!

Bersatunya tekad dan semangat untuk berjuang pada akhirnya membuahkan hasil gemilang. Kemenangan demi kemenangan yang diperoleh mengantarkan Mas Said kedalam perundingan yang menjadikannya Adipati Mangkoenagoro yang pertama. Rubiyah yang selalu mengobarkan semangatnya dijadikan pendamping dengan gelar Bendoro Raden Ayu Kusuma Matah Ati. Matah Ati selain berarti perempuan dari Desa Matah juga bermakna sebagai sang penjaga hati. Dari Matah Ati lahir generasi-generasi penerus dinasti Mangkunegaran. Dari bersatunya semangat yang tulus dan suci, telah menghasilkan kemenangan dan kebahagiaan.

Artikel asli pernah dimuat dalam rubrik berikut

 

Standard
Art

Tari Klasik Keraton Surakarta: Suguhan Ala Bangsawan

img_3006

Tari Srimpi Sukarsih

Gending pembuka sudah dimainkan. Tidak hanya suara gamelan yang terdiri dari gong, saron, bonang, kethuk, kenong dan kendang, tetapi juga sesekali terdengar suara beduk dan snare drum yang menimbulkan irama baris berbaris dalam tempo lambat.

Dari sudut Siti Hinggil, empat orang penari kraton melangkah pelan-pelan menuju arena pertunjukan. Bau wangi dupa dan asap kemenyan berhembus memenuhi setiap sudut ruangan. Sengaja dibakar oleh para abdi dalem kerajaan. Sementara itu, taburan bunga mawar berjatuhan mengiringi setiap langkah penari yang membawanya dalam lipatan kain jarit yang dibuat mengekor di belakang tumit. Khidmat! Demikian kira-kira nuansa yang terbangun selama pertunjukan tari ini dipergelarkan.

img_3005

Srimpetan. Ujung kain yang di buat mengekor, khas gaya busana tari Surakarta.

Gerak penari-penari itu lembut namun tidak membosankan. Pengunjung umum yang boleh jadi tidak mengerti seni sekalipun, larut terpaku dalam pertunjukan berdurasi selama hampir 30 menit. Boleh jadi, ini karena pertunjukan tersebut jarang dijumpai. Bukan sekadar menampilkan tarian jawa yang itu-itu saja, pertunjukan malam itu mempertontonkan tari klasik khas Kraton Surakarta. Yang lebih istimewa karena masyarakat umum diperkenankan untuk menyaksikan jalannya Karaton Art Festival 2011.

Penampilan pertama, sebagai pembuka, adalah Tari Srimpi Sukarsih yang ditarikan oleh 4 orang penari kraton. Tarian ini merupakan gubahan Pakoe Boewana VIII yang hidup pada pertengahan abad ke-19. Konon, tarian ini dipersembahkan sang raja -pada saat masih menjadi putra mahkota- untuk mengenang kecantikan salah satu sinden kerajaan yang bernama Nyi. Sukarsih. Tidak berlebihan apabila setiap gerakannya melambangkan keanggunan luar biasa pada diri puteri-puteri di lingkungan istana. Malam itu pula, satu diantara 4 penari ternyata masih berdarah biru. Adalah BRA. Salindri, yang merupakan cucu dari Pakoe Boewana XII.

img_3033

Tari Lawung Kasenopaten

Pada pertunjukan kedua ditampilkan tari putra yang berjudul Lawung Kasenopaten. Kesamaan dengan tarian pertama terletak pada penari yang berjumlah 4 orang. Kali ini, masing-masing menggunakan tombak panjang serta menampilkan atraksi-atraksi bak peperangan. Tari tersebut menggambarkan laga antara Danang Sutawijaya dengan Arya Penangsang pada jaman Kerajaan Pajang. Lawung, juga merupakan tarian yang dulunya wajib dikuasai oleh para pangeran jawa. Mengkombinasikan antara seni bela diri, tari dan penguasaan senjata, walhasil Tari Lawung menggambarkan kegagahan ksatria jawa.

Disebut sebagai tari klasik jawa karena bersumber pada tradisi budaya di lingkungan kraton. Semua gerakan baik itu tangan, kaki, badan maupun kepala memiliki aturan sendiri-sendiri. Gerakan tertentu bahkan memiliki filosofi yang sarat pesan, tidak hanya melambangkan sebuah aktivitas. Belum lagi pakaian yang harus dikenakan dan musik yang mengiringi. Unsur-unsur itulah yang membuatnya berbeda dengan tari-tarian rakyat yang bersumber pada ekspresi masyakarat tempat dimana tarian itu berkembang. Menikmati tari klasik jawa di tempatnya dilahirkan, ibarat menjadi bangsawan di masa kerajaan.

*Artikel pernah dimuat dalam rubrik berikut

img_3058

Empat penari Lawung gaya Surakarta menggunakan property waos/tombak

Standard
Travel

7 Masjid Terindah di Sumatera

MASJID RAYA BAITURRAHMAN ACEH

MASJID RAYA BAITURRAHMAN ACEH

Dibangun oleh Sultan Iskandar Muda pada abad ke-17, keanggunannya tak kalah dengan Taj Mahal di India. Konon, 5 kubahnya memang mengadopsi gaya bangunan islam yang pernah jaya di tempat tersebut. Masuk lebih dalam, nampak jelas bahwa ukiran sulur dan ornamen masjid tidak berasal dari inspirasi lokal. Relung-relungnya lebih dekat dengan gaya Turki atau Persia, sementara jendela-jendela besarnya terlihat menyerupai bangunan Indisch peninggalan Belanda. Siapapun pasti setuju bahwa masjid ini megah tidak hanya dilihat dari segi arsitekturalnya. Akhir 2004, ketika tsunami menerjang Aceh, bangunan masjid ini melindungi banyak jiwa. Masjid ini juga saksi bisu atas Perang Aceh yang menewaskan Mayor jendral J.H.R Kohler pada tahun 1873. Monumennya dapat dilihat di bagian timur laut halaman masjid saat ini.

MASJID RAYA AL-MASHUN MEDAN

Image

Dinding masjid yang berwarna putih dengan ornamen hijau kebiruan ini terlihat sejuk diantara padatnya lalu lintas Simpang Raya, Medan. Dari depan nampak jelas bahwa kubahnya tidak berbentuk bulat menyerupai bawang. Adalah segi delapan sama  seperti sisi-sisi luar dinding masjid. Segi-segi tersebut diperkuat dengan koridor-koridor yang memisahkan dengan ruang utama yang digunakan untuk sholat. Hiasan dinding koridor maupun ornamen plafon dan bangunan utama sarat warna merah bata bergaya Mughol-India.  Dibangun atas prakarsa Sultan Deli pada awal abad ke-20, arsitek dari Masjid ini adalah seorang Belanda, dengan penyandang dana utama pengusaha keturunan China.

MASJID AN-NUR PEKANBARU

Image

Kubah-kubah berbentuk bawang lebih sering muncul pada bangunan masjid di kawasan Sumatera bagian utara. Di Pekan baru, selain berbentuk bulat bawang, bentuk kubah terlihat mewah dengan detil ornamen hijau, biru dan kuning di permukaannya. Gaya mewarnai kubah mirip Istana Kremlin di Rusia ini justru sering dijumpai pada masjid-masjid modern di tanah melayu. Di sisi lain, dinding masjid yang berbentuk kubistik dengan celah-celah kecil dipermukaannya mengadirkan nuansa Timur Tengah yang sangat kental. Sebagai bangunan masjid modern yang dilengkapi dengan eskalator menuju lantai atas bangunan, kompleks masjid ini terintegrasi dengan sekolah-sekolah serta kampus yang berada di sekitarnya.

MASJID AGUNG AT-TAQWA BENGKULU

Image

Luas, kokoh, dan sederhana! Demikian kesan yang ditangkap pada saat memasuki halaman masjid terbesar di Provinsi Bengkulu ini. Tiang dan jendela yang besar-besar, langit-langit yang tinggi dengan sentuhan cat serba putih memberikan kesan kuat pada masjid ini. Ornamen interiornya tidak detil, justru nampak besar-besar. Bayang-bayang dari jendela-jendela besar tersebut memantul pada lantai masjid yang terbuat dari marmer.  Memberi kesan luas namun terasa sejuk. Kubah utama berbentuk bulat, menumpang di atas atap bersusun tiga yang merupakan inspirasi bangunan lokal. Meskipun berdiri pada tahun 1988, awal mula bangunan ini berdiri sejak jaman Kompeni Belanda.

MASJID AGUNG SULTAN MAHMUD BADARUDDIN PALEMBANG

Image

Sekilas bangunan ini merupakan salah satu masjid tanpa kubah yang terdapat di Sumatera. Atapnya bergaya limasan bersusun tiga, menyerupai bangunan masjid yang ada di Jawa. Akan tetapi, hiasan atap yang berwarna merah dan emas serta ukiran-ukiran ornamennya menghadirkan kesan arsitektural China. Tidak berhenti di situ, menara masjid juga terlihat sangat mirip dengan bangunan pagoda. Lain di luar lain di dalam. Hiasan interior masjid dipenuhi kaligrafi berwarna hijau serta warna-warna semarak lainnya yang sering dijumpai dalam kerajinan lacquer khas Palembang. Walaupun telah mengalami pemugaran berkali-kali, unsur arsitektur China konon sudah ada sejak pertama kali bangunan masjid ini didirikan oleh Sultan Mahmud Badaruddin di abad ke-18.

MASJID AGUNG AL FALAH “1000 TIANG” JAMBI

Image

Masjid ini bisa dibilang tak berdinding! Satu-satunya sekat adalah sisi barat bagian mihrab atau tempat imam sholat yang terbuat dari gebyog – kayu berukir. Itupun tidak sepenuhnya menjangkau puncak pilar. Artinya hanya tiga perempat dinding yang tertutup sekat. Kemudian 3 sisi lainnya dipenuhi oleh tiang dengan berbagai bentuk. Tidak hanya satu deretan tiang. Komposisi tiangnya berlapis-lapis dengan beraneka bentuk dan bahan. Tidak berlebihan apabila warga menyebut bangunan tersebut sebagai “Masjid 1000 Tiang”, mengalahkan popularitas nama aslinya: Masjid Al Falah. Pada awalnya, tanah tempat berdirinya masjid tersebut merupakan lokasi istana Sultan Thaha Syaifuddin. Pada awal abad ke-20 Belanda membumi hanguskan istana tersebut dan menjadikan tanah di atasnya sebagai kamp militer. Bertahan hingga tahun 1970-an, bekas asrama tentara tersebut dijadikan masjid yang berdiri megah hingga saat ini.

MASJID AGUNG PONDOK TINGGI SUNGAI PENUH

Image

Meskipun tidak terletak di Ibu Kota Provinsi seperti 6 masjid sebelumnya, masjid agung di Kota Kerinci ini memiliki keunikan tiada tara. Seluruh bangunannya dipercaya tidak dihubungkan satu pun dengan pasak. Wajar, apabila dilihat dari sudut tertentu bentuknya tidak begitu simetris. Dinding hingga atap masjid terbuat dari kayu. Hiasannya berukir besar-besar dengan warna-warni mencolok berlanggam asli daerah setempat. Corak ukiran dan warna tersebut bisa kita lihat pada hiasan atap rumah maupun ujung perahu tradisional Jambi.  Di bagian atas, atapnya tumpang tiga khas bangunan masjid pribumi. Masjid yang lahir pada akhir abad ke-19 ini didirikan oleh masyarakat lokal dengan dengan inspirasi asli daerah setempat.

Artikel serupa pernah di muat di detikTravel, Agustus 2012

Standard
Travel

Surga-Surga Yang Hilang

Bukit Lawang (13/2) - PINTU MASUK. Jalan Menuju Area Konservasi Orang Utan di Taman Nasional Gunung Leuser, Sumatera Utara penuh dengan penginapan cantik dengan suasana sejuk dan tenang. Melihat Negeri Sendiri-Wiwitto

Kalau ada tempat di sepanjang Sumatera yang ingin kembali saya datangi dan tinggal lebih lama, salah satunya adalah Bukit Lawang! Menghabiskan waktu sambil bersantai dan membaca buku adalah salah satu pilihan terbaik. Bagi yang gemar minum kopi, secangkir serbuk arabica asal Mandailing terasa pas untuk menghangatkan badan. Suasana makin dramatis mana kala kabut tipis perlahan-lahan turun menyapu tebing yang di bawahnya mengalir sungai-sungai. Diantara rimbun pepohonan, menyembul satu dua air terjun yang cahayanya berpendar warna pelangi setelah beradu cahaya matahari. Bila bisa dibayangkan mata, mungkin ini gambaran surga. Hehehe lebay!

Begitulah, saya sudah jatuh cinta sejak mengunjungi destinasi pertama di Sumatera Utara. Awalnya hanya kepingin menyaksikan area konservasi orang utan. Eee, bonusnya justru luar biasa. Sungai Bukit Lawang dan panorama sekitarnya. Agak mengejutkan karena saya menjadi satu diantara tiga orang saja pengunjung lokal yang ikut paket Orang Utan Feeding. Selebihnya justru belasan bule dari berbagai negara di dunia.

Bukit Lawang (13/2) - RIVER TUBING! Selain bersantai ada berbagai pilihan aktivitas bisa dilakukan di area rekreasi Bukit Lawang seperti tracking, orang utan feeding, rafting dan juga river tubing. Melihat Negeri Sendiri-Wiwitto

Orang Utan merupakan binatang endemik di kawasan hutan hujan tropis Asia. Lokasi persisnya adalah di Pulau Kalimantan dan Sumatera. Khusus di Sumatera, jumlahnya saat ini hanya kurang dari 7500 ekor. Jumlahnya terus menurun seiring dengan menurunnya habitat asli binatang primata besar tersebut. Saya baru tahu, selama mengikuti kegiatan ini, bahwa habitat alami orang utan yang sesungguhnya adalah di atas pohon. Istilahnya binatang arboreal. Sehingga meskipun memiliki kedekatan genetik sebesar 96,4 % dengan manusia, toh orang utan tidak betah menyentuh tanah. Orang utan butuh bergelayut dari satu cabang pohon ke cabang lainnya. Kasian betul bagi orang utan yang selama ini saya lihat di kebun binatang. Kondisinya memprihatinkan. Selain dikandang, banyak pula yang dipaksa mentah-mentah berjalan di daratan.

Alasan di atas cukup kuat untuk mendorong saya mengunjungi langsung lokasi konservasi orang utan di Taman Nasional Gunung Leuser. Kesempatan langka! Sudah sampai di lokasinya, kenapa idak sekalian berkunjung langsung. Berbekal informasi sana-sini, saya melesat 4 jam meninggalkan Medan menuju Langkat-Sumatera Utara. Aksesnya mudah. Dari Terminal Pinang Baris hanya satu kali bus menuju Bukit Lawang. Selanjutnya ganti becak motor selama kurang lebih 10 menit menuju loket utama.

Sepanjang perjalanan menuju Langkat, saya tertegun dengan perkebunan kelapa sawit yang luar biasa lebat. Tidak berlebihan, berjam-jam perjalanan rasanya hanya menyusuri lorong sawit tak berujung. Satu dua kali terdapat pabrik-pabrik pengepulan/pengolahan biji sawit di sisi jalan. Sementara itu, para penumpang umumnya akan berhenti di sebuah gang sempit diantara rimbun hijau palm oil trees yang sesungguhnya adalah akses menuju perumahan keluarga petani-petani sawit yang letaknya masuk di tengah hutan.

Langkat (13/2) - SAWIT TAK BERUJUNG. Sepanjang jalan menuju Bukit Lawang penuh dengan perkebunan kelapa sawit milik BUMN dan Perusahaan Asing. Wiwito-Melihat Negeri Sendiri


Menurut cerita, banyak petani sawit yang notabene adalah transmigran. Dahulu mereka mendapat 2 hektare tanah untuk masing-masing digunakan sebagai area pemukiman dan pertanian. Tanamannya macam-macam termasuk karet yang dulunya adalah primadona perkebunan. Sekarang, primadona perkebunan berganti sawit. Ramai-ramai mereka beralih tanaman.

Berikutnya, lahan-lahan juga mulai dialihfungsikan oleh perusahaan-perusahaan penguasa hak pengelolaan hutan (HPH). Sebagian dari perusahaan besar itu bergabung dengan perusahaan asing. Selanjutnya, mereka menjadi raja-raja minyak [sawit] dari Medan yang menguasai berjuta-juta hektar lahan. Bagi petani lokal atau transmigran, lahan 2 hektare berarti saaaaaangat-sangat mikro. Begitulah realita…

Nun di Bukit Lawang. Setelah mendapatkan tiket di loket utama dan berjalan menyeberangi sungai menuju pos jagawana, para peserta orang utan feeding akan di-briefing dengan serangkaian informasi terkait orang utan. Pengunjung tidak boleh memberi makan langsung orang utan, hanya pawang yang diperbolehkan demikian. Juga penting untuk memperhatikan jarak. Pengunjung harus menjaga diri sekitar 7 meter agar tidak terlalu dekat dengannya. Orang utan pada dasarnya hewan yang pemalu. Takut dengan orang asing, takut pula dengan suara-suara bising. Oleh karena itu selama pengunjung menyaksikan orang utan meraih buah-buahan dari jagawana, semua wajib menjaga suara. Hanya bisikan saja terdengar dari satu pengunjung dengan lainnya.

Sayangnya, ditengah keheningan yang selalu dijaga oleh petugas dan pengunjung, terdengar suara menderu-deru tanpa henti dari sisi lain Sungai Bukit Lawang. Sisi kanan sungai merupakan area Taman Nasional, sementara sisi kirinya adalah kawasan eksploitasi. Kawasan yang bisa dimanfaatkan untuk pemukiman atau perkebunan. Tidak mengherankan, semakin tinggi mendaki bukit Taman Nasional semakin jelas terdengar suara deru gergaji mesin dari arah yang bersebarangan. Benar-benar “berseberangan” dalam artian ide maupun lokasinya.

Hilang atau punahnya orang utan sudah diramalkan oleh beberapa pihak. Seniscaya hilangnya hutan-hutan yang sudah dialihfungsikan. Sekedar mengambil perumpamaannya sesungguhnya banyak sudah hal-hal besar telah hilang dari Sumatera Utara. Dalam arti kebudayaan, pada masa lalu sangat dikenal adanya Kerajaan Barus, Langkat dan juga Deli. Saat ini, sebagian meninggalkan jejak sejarah berupa bangunan atau artefak-artefak kerajaan lainnya tapi sebagian besar lainnya telah musnah. Hanya nama yang dikenal, seperti halnya “kapur barus” yang sudah sangat mendunia.

Bukit Lawang (13/2) - GENERASI MASA DEPAN. Anak-anak Bukit Lawang besar bersama alam. Melihat Negeri Sendiri - Wiwitto

Surga-surga yang hilang. Demikian saya menandai kesan saya terhadap Sumatera Utara. Melihat masa lalu, ada peradaban dan kerajaan besar yang surut oleh tepi jaman. Sementara di masa depan, hutan dan seisinya mulai terancam. Alam dan seisinya, tempat manusia dan makhluk lainnya berbagi kehidupan, seharusnyalah dibagi untuk masa depan.

Standard
Travel

Serba Serbi Sumbar

“Temans sy sudah di Padang! Sekarang di Masjid Kota Nurul Iman. Kondisinya retak di sana-sini, tapi aneh, rasanya batin sejuuuk sekali. Betah saya berlama-lama disini.”

Di atas adalah kutipan SMS yang saya kirim ke beberapa kawan sesaat setelah saya pergi melihat-lihat Kota Padang. Dua hari sudah saya di Sumatera Barat namun baru kali ini punya kesempatan menjelajah kota dengan angkot warna merah dari Daerah Belimbing (dibaca: Balimbiang!) menuju Pasar Raya.

Saya berhenti di JL. Mohammad Yamin kemudian berjalan kaki melihat gedung-gedung pemerintahan atau pelayanan publik yang rusak akibat gempa 30 September 2009. Melepas lelah, saya berhenti di Masjid Kota yang saya ceritakan pada sms di atas.

Padang Panjang (8/2) - ANGKOT WARNA WARNI. Di Kota Padang dan sekitarnya, trayek angkutan kota dibedakan berdasarkan warna cat yang menempel pada armada kendaraan umum.

Di Kota Padang adzan isyak berkumandang pukul 20.30. Artinya, pukul 9 malam orang-orang baru keluar dari masjid. Lhaah, kalau di daerah saya jam segitu pacaran sudah bubar! Kurang tahu deh kalau di Padang, jam berapa biasanya anak gadis diantarkan pulang sama pacarnya? Hehe. Untungnya, angkot di Padang bisa diandalkan hingga jam 11 malam. Lajur trayeknya juga menjangkau banyak lokasi. Bisa dibilang Sumbar memiliki sistim transportasi publik perkotaan paling baik di seantero Sumatera!

Dengan naik angkot, pada hari berikutnya saya berkunjung ke Pantai Air Manis yang terkenal karena legenda Malin Kundang. Tidak banyak yang bisa saya komentari karena toh batu kutukan itu dibangun dengan “Semen Padang”. Entah bagaimana dulunya. Selain ke Pantai Air Manis, angkot yang berpusat di Pasar Raya itu bahkan menjangkau Teluk Bayur yang lokasinya perlu empat puluh lima menit perjalanan dari kota. Dengan angkot pula saya bisa mampir ke Museum Adityawarman dan Pantai Taplau (tepi laut).

Selain angkot, moda transportasi yang populer hampir di semua wilayah Sumatera saat ini adalah travel “Innova”, “Avanza” atau “APV”. Yaa, ini semacam kendaraan ber-plat hitam yang dijadikan mobil sewaan untuk perjalanan antar daerah. Dan, yang paling legendaris tentu saja: kereta api! Masih ingat saya setting cerita “Sengsara Membawa Nikmat” yang mengambil lokasi perjalanan kereta. Di Padang, saya niatkan juga menjajal kereta komuter Padang-Padang Pariaman yang bentuknya mirip Prameks Jogja-Solo. Sayang, tidak ada banyak waktu bagi saya menjajal Kereta Mak Itam dari Padang Panjang menuju Danau Singkarak.

***

Bukittinggi (8/2) - JAM GADANG. Menara yang dibangun oleh Belanda pada tahun 1926, merupakan salah satu icon kota-kota di Indonesia

Ada 2 inspirasi saya di Sumatera Barat! Pertama adalah berita seorang kawan tentang indahnya Kota Bukittinggi. Katanya, tak lengkap menyusuri Sumatera barat tanpa mampir ke bekas Ibu Kota RI pada Desember 1948 – Juni 1949 itu. Yang kedua, inspirasinya datang dari Novel populer “Negeri Lima Menara”. Jadilah perjalanan saya kali ini merupakan gabungan antara lost in Bukittinggi dan napak tilas novel pertama A.Fuadi.

Selain khusus kepingin melihat “Jam Gadang”, lokasi lain yang ingin saya lihat di Bukittinggi adalah Rumah tempat kelahiran Bung Hatta. Pun demikian, berbekal artikel karya Rafless dalam Anthology of Traveller-Antony Rheid saya mampir ke tempat yang disebut-sebut sebagai pusat kebudayaan Melayu tempo dulu. Kota tersebut adalah Pageruyong, atau yang kini sering disebut sebagai Pagaruyung. Lokasi persisnya berada di Kota Batu Sangkar, Kab. Tanah Datar. Meninggalkan sebuah bangunan berbentuk rumah gadang megah yang konon dikenal sebagai Istana Pagaruyung. Seolah menjalani nasib yang sama seperti Ibu Kota kerajaan itu sendiri yang pernah terbakar di masa lalu kemudian berpindah-pindah, Istana Pagaruyung sekarang dalam tahap renovasi karena terbakar habis di tahun 2007.

Ternyata benar, berkunjung ke Sumbar belum lengkap tanpa menengok Bukittinggi. Kota bersejarah ini letaknya di apit oleh Gunung Merapi dan Singgalang yang tentu saja menghadirkan hawa sejuk menyegarkan. Pantas, Belanda menjadikannya mulai dari lokasi tetirah hingga membangun Benteng yang di beri nama Fort de Kock. Saat ini, puing benteng memang sudah tidak jelas terlihat. Yang ada justru menyerupai taman yang terhubung oleh jembatan gantung dengan area kebun binatang di lokasi yang berlawanan. Luar biasa! Dari jembatan tersebut kita bisa melihat kota Bukittinggi yang konturnya bergunung-gunung.

Antara benteng, kebun binatang dan jam gadang, semuanya bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Dari jam gadang menuju rumah Bung Hatta juga demikian. Kita hanya perlu melewati “Tangga Empat Puluh” di Pasar Ateh menuju jalan raya. Bagi yang menyukai kuliner, hukumnya wajib menjajal “nasi kapau” di pasar Ateh. Nasi kapau pada dasarnya mirip dengan nasi padang. Hanya saja varian lauk serta sayurnya lebih beragam. Satu porsi nasi kapau dihidangkan bersama sayur kobis, keripik singkong, serundeng-daging, irisan telur dadar, dan siraman kuah gulai yang berlinang-linang menggiurkan. Sebagian orang tidak lupa menambahkan “sambal ladomudo” atau sambal hijau yang, sumpah, bagi saya yang tidak suka pedas ini ikut tergiur mencicipinya. Gerrrrghhh, nikmaaaat!

Bukitinggi (9/2) - NASI KAPAU. Varian Nasi Padang yang dimasak oleh orang-orang yang berasal dari daerah Kapau, dekat Bukittinggi

Keterangan tentang Nasi Kapau itu lebih lengkap ditemukan dalam novel Negeri Lima Menara. Kenikmatannya semakin terasa tatkala tokoh utamanya menerima kiriman rendang kapau penuh kasih dari Ibunda tercinta. Makan rendang bersama kawan senasib seperjuangan semakin mengharu biru karena memori rindu kampung halaman digenapi dengan indahnya kebersamaan dan persahabatan. Dalam situasi ini cerita novel tersebut menghadirkan sejuta imagi yang digambarkan oleh alam pikiran serta menggerakkan hati dengan dorongan kuat yang bernama inspirasi.

Bagitu juga saya. Saya terinspirasi melihat Nagari Bayur di Pinggir danau yang merupakan setting awal Negeri Lima Menara. Tentu saja, termasuk menjajal “Kelok Ampek Puluah Ampek” dari Terminal Simpang Aur di Bukittinggi menuju Lubuk Basung. Jalanan menurun yang ibarat menuruni periuk perbukitan, berkelok sejumlah 44 kali tikungan. Jangan bayangkan putarannya maka Anda akan pusing. Nikmati saja keindahan panoramanya maka akan membuat perjalanan makin berkesan.

Berbicara tentang karya sastra, rasa hormat setinggi-tingginya saya persembahkan bagi Sumatera Barat. Karya-karya Sumatera Barat hadir dari sastra tempo doeloe seperti “Siti Nurbaya”, “Sengsara Mambawa Nikmat”, “Di Bawah Lindungan Kabah”, “Robohnya Surau Kami” dan masih banyak lagi. Di jaman sekarang, lahir novel populer “Negeri Lima Menara”. Apapun jenisnya, semua hadir menggambarkan Sumbar dari masa ke masa. Tanpa sadar, perubahan sosial masyarakatnya terekam apik melalui indahnya tulisan. Dalam konteks sejarah, semua yang tertulis akan abadi; yang terucap hanya akan berhembus bersama tiupan angin. Scripta manent verba volant!

Standard
Travel

7 Danau Terindah di Sumatera

Sebuah situs wisata global telah merilis 12 Danau Terindah di dunia versi mereka, berikut akan saya hadirkan 7 danau terindah di Sumatera yang saya kunjungi selama menempuh perjalanan Trans-Sumatera.

DANAU RANAU

OKU Selatan (21/1): Danau Ranau. Wiwitto-Trans Sumatera


Disebut-sebut sebagai Danau Terbesar kedua di Sumatera yang letaknya di perbatasan Provinsi Lampung dan Sumatera Selatan. Selain terkenal dengan hasil ikannya yang melimpah, Pemda Lampung Barat dan Ogan Komering Ulu (OKU) Selatan berlomba mengelola danau ini sebagai daerah tujuan wisata. Salah satu resortnya yang terkenal bernama Lombok, milik Pemda Lampung Barat.

DANAU RAKIHAN

OKU Selatan (22/1) - Danau Rakihan. Wiwitto-Trans Sumatera


Tidak terlalu besar dan tidak banyak orang yang tahu tentang danau ini. Pun demikian danau alami ini sangat istimewa karena tidak ada sungai besar di sekitarnya yang mengalirkan airnya dengan deras. Walhasil gerak airnya sangat tenang dan warnanya sedikit pekat. Terletak di Kecamatan Sindang Danau, OKUS-Sumsel, yang merupakan tanah kelahiran politisi PPP, Ali Marwan Hanan (Mantan menteri Koperasi RI). Di lereng danau saat ini didirikan sebuah Pondok Pesantren, atas nama beliau, untuk menyemangati anak-anak di daerah terisolir untuk terus maju.

DANAU KERINCI

Sungai Penuh (4/2) Danau Kerinci. Wiwito-Trans Sumatera


Dibandingkan danau lain yang lebih menyerupai kuali, Danau Kerinci memiliki permukaan datar hampir rata dengan tanah di tepinya. Terdapat sawah membentang lebar di tepian danau yang konon merupakan pemasok beras utama di Provinsi Jambi. Mengunjungi danau di pagi hari, apabila beruntung, akan menjumpai gerombolan bangau putih yang terbang dan mencari makan di persawahan.

DANAU MANINJAU

Agam (9/2) DANAU MANINJAU - Wiwitto. Trans Sumatera


Satu dari sekian banyak danau menawan di Sumatera Barat. Untuk mencapainya, pengunjung bisa melewati jalan legendaris yang terkenal dengan nama “Kelok 44” (dibaca: Kelok Ampek Puluah Ampek). Banyak homestay menarik bagi wisatawan di Nagari Bayur yang menjadi setting novel best seller “Negeri Lima Menara”.

DANAU TOBA

Samosir (14/2) Danau Toba . Wiwitto-Trans Sumatera


Merupakan danau terbesar di Indonesia sekaligus di Asia Tenggara. Terbentuk karena letusan vulkanis Gunung Toba Purba yang konon menghancurkan kehidupan di Atlantis. Mengunjungi Danau Toba tidak lengkap tanpa singgah ke Pulau Samosir yang terletak di tengahnya. Banyak atraksi menarik terkait kebudayaan Batak, termasuk pengamen-pengamennya yang bersuara emas.

DANAU LAUT TAWAR

Takengon (16/2) - DANAU LAUT TAWAR. Wiwitto-Trans Sumatera


Letaknya di gugusan Dataran Tinggi Gayo yang terkenal sebagai penghasil kopi. Tidak heran hawa sejuknya menambah suasana tenang apabila berada di sana. Ada 3 buah titik kunjungan di pinggir-pinggir danau yang disediakan sebagai taman bermain dan pemandian air panas alami.

DANAU ANEUK LAOT

Sabang. Danau Aneuk Laot. Hack87-http://tinyurl.com/5rpgq9z


Lokasinya adalah di Pulau Weh, tempat yang dijadikan sebagai ujung paling utara Indonesia. Pengunjung langsung bisa menikmati danau itu selepas meninggalkan Pelabuhan Balohan menuju destinasi wisata menarik di Kota Sabang. Diantaranya adalah snorkling dan diving spot, goa, kuburan dan benteng peninggalan Jepang serta air terjun yang menawan.

Demikian, danau-danau terindah yang saya kunjungi selama perjalanan Trans-Sumatera. Tentu masih ada banyak danau cantik lainnya seperti Danau Singkarak, Danau di Ateh (Sumbar), Danau Sipin (Jambi), dan Danau Dendam (Bengkulu). Danau yang saya sebutkan terakhir belum sempat saya kunjungi. Bisa jadi, mungkin masih ada danau kecil lainnya yang tertutup hutan dan belum nampak oleh pandangan manusia. Indonesia memang luar biasa. Tanahku tak kulupakan, engkau kubanggakan!

Standard