Mengunjungi Bumi Sikerei

Pantai Mapadegat
Pantai Mapadegat Destinasi Utama di Sipora

Jarak antara Padang dengan Tua Pejat, Ibu Kota Kabupaten Kepulauan Mentawai, dapat ditempuh selama 4-5 jam perjalanan laut. Waktu tempuh tersebut dicapai dengan fast ferry seharga Rp 250.000 sekali jalan. Apabila menggunakan kapal Pelni yang harganya lebih murah, waktu tempuh yang diperlukan mencapai 12 jam. Pagi itu saya berangkat tepat pukul 07.00 dari Pelabuhan Muara di Kota Padang, dan tiba di Tua Pejat menjelang pukul 12.00. Di tengah perjalanan kapal ferry sempat berhenti selama kurang lebih 30 menit di Pelabuhan Sioban yang sama-sama terletak di Pulau Sipora, satu dari empat pulau utama di Mentawai.

Kabupaten Kepulauan Mentawai berada di dalam wilayah Provinsi Sumatera Barat. Terdapat empat pulau besar diantara lebih dari 100 pulau di wilayah yang merupakan pemekaran dari Kabupaten Pariaman pada tahun 1999. Empat pulau besar yang berada di Samudera Hindia tersebut diantaranya adalah Siberut, Sipora, Pagai Utara, dan Pagai Selatan. Jumlah penduduk terbesar berada di Pulau Siberut yang dibagi ke dalam 5 Kecamatan. Berikutnya menyusul Sipora (2 Kecamatan), Pagai Utara (2 Kecamatan), dan Pagai Selatan (1 Kecamatan). Ibukota Kabupaten ditetapkan di Pulau Sipora karena letaknya yang di tengah-tengah. Sekaligus, karena terdapat infrastruktur jalan yang mengubungkan Tua Pejat di bagian utara hingga Sioban di bagian selatan. Infrastruktur jalan ini kabarnya dibangun untuk akses angkutan pabrik kayu yang beroperasi sejak jaman Orde Baru. Berdasarkan catatan sejarah, para penjajah sudah masuk ke Mentawai sejak pertengahan tahun 1700-an.

Berwisata di Sipora

Sejak berangkat dari Padang, saya tidak menyiapkan informasi sama sekali tentang situasi Sipora. Yang ada justru saya bahagia karena sebentar lagi akan berada dalam zona susah sinyal. Memang sudah diniatkan untuk istirahat sejenak dari segala urusan pekerjaan. Dengan demikian, alasan untuk slow response sangat bisa diterima oleh para kolega.

Begitu mendarat yang saya lakukan adalah berjalan kaki ke luar pelabuhan. Niat saya mau mencari tempat makan sambil tanya-tanya orang tentang destinasi atau penginapan yang tersedia di sana. Namun, setelah kurang lebih berjalan menanjak sejauh 2km, nampaknya tidak ada banyak warung yang buka. Juga tidak terlihat adanya ramai penginapan. Saya lupa kalau saat itu adalah Hari Minggu. Toko-toko tutup, begitu juga kantor-kantor pemerintahan. Sedang provider di hape saya tidak berfungsi.

Durian Sipora
Penjual durian di Pelabuhan Tuapejat

Expect the unexpected, pilihan dijatuhkan untuk cari toko yang menjual SIM card Telkomsel. Gugur sudah harapan saya untuk terapi anti-koneksi. Di sisi lain, saya bisa browsing sedikit, dan tidak lupa update Instastory. Dalam situasi serba tak pasti, saya berhenti sejenak di dekat toko seluler di sekitar Pelabuhan Tua Pejat. Sepertinya sedang musim durian, sehingga satu buah dijajakan hanya Rp 10.000 saja. Setelah ditawar, harganya jadi Rp 8.000. Kalau beli 7 harganya Rp 50.000. Harga tersebut tentu hanya dapat satu kalau belinya di Jawa. Ukuran durian sedang, tetapi isinya manis semua. Ada yang kuning ada yang berwarna putih mentega.

Sambil menikmati durian Sipora, saya mengamati bahwa pusat keramaian Tua pejat ada di sekitar dermaga. Ada banyak toko, beberapa penginapan, masjid, gereja dan pangkalan ojek atau kendaraan menuju lokasi lain di Tua Pejat. Di tempat ojek saya menyewa motor untuk melihat-lihat Tuapejat. Dari Pangkalan Ojek di kilometer nol, keramaian berada di sepanjang jalan menuju ke arah yang lebih tinggi. Di kanan-kiri jalan ada pemukiman, kantor pemerintahan, dan warung-warung yang tidak terlalu ramai. Jalan beton akan terus tersambung hingga bagian selatan pulau, sementara itu di km 9 terdapat kompleks Kepolisian & Rumah Dinas Bupati. Kompleks tersebut nampak luas tapi tidak banyak keramaian di sekitarnya.

Tidak jauh dari dermaga, ada Pantai Jati yang berada dekat dengan pemukiman warga. Banyak turis lokal yang bersantai di pinggir pantai, sementara di tengah lautan terlihat sampan nelayan pencari ikan. Bergerak menuju kilometer empat, terdapat Pantai Mapadegat yang situasi nya lebih tenang. Sepanjang jalan menuju pantai ada ladang-ladang yang dikelola masyarakat Sipora. Di ujung jalan beton yang kelihatan masih baru itu, ada area luas dengan bangunan rumah panjang bergaya tradisional dan gubug-gubug tempat berjualan makanan. Pantai Mapadegat membentang di belakang gubug dengan pasir berwarna putih mengikuti liukan-liukan garis pulau. Sore itu ombak tenang, air laut dengan berbagai lapisan warna biru yang jernih membentang mengililingi pulau-pulau kecil di sekitarnya. Di pulau-pulau tersebut ada beberapa resort kelas dunia yang menawarkan penginapan dengan fasilitas olah raga air seperti surfing, single paddle board atau snorkeling.

IMG_2661
Mata air di hutan Desa Goiso Oinan, Sipora

Saya menghabiskan penghujung tahun 2019 di Sipora. Setelah survei dengan motor rental, saya memutuskan menginap di Homestay Arthur yang terletak dekat Pantai Mapadegat. Tarifnya hanya Rp 150.000/malam, tetapi disana saya bertemu peselancar dari Perancis, ahli zoologi dari Republik Ceko, dan seorang turis dari Selandia Baru. Kami berbagi cerita tentang surfing, hewan & tanaman endemik, atau budaya lokal di pulau sekitar. Para staf homestay adalah pemuda lokal yang jago berselancar dan berbahasa Inggris. Setiap malam kami memasak bersama, dan berbagi buah-buahan lokal seperti mangga, kelapa, pisang atau nanas. Semua ibarat saudara, yang dipertemukan di Pulau Sipora.

Disamping potensi alam dan berbagai keindahan Mentawai, ada satu hal yang melekat dengan daerah ini khususnya terakit bencana. Pada tahun 2010 pernah terjadi gempa berkekuatan lebih dari 7 SR yang menyebabkan tsunami di dekat Sikakap, Pagai Utara. Belum lagi terkait prediksi megathrust di sepanjang pantai barat Sumatera hingga Jawa-Bali yang berpotensi menyebabkan gempa besar. Di beberapa tempat di Sipora saat ini sudah terdapat banyak informasi dan petunjuk evakuasi. Di Pantai Mapadegat sendiri sedang ada proyek terkait pemasangan alat pendeteksi tsunami yang dilakukan BPPT & ITB. Terus terang memang sempat was-was ketika memutuskan akan berlibur ke Mentawai. Namun demikian, bukankah bencana bisa terjadi kapan saja dan dimana saja? Dalam hal ini kewaspadaan kita lah yang lebih utama. Mengenali lokasi, memperhatikan setiap informasi, membangun komunikasi dengan keluarga dan orang sekitar, tentunya bisa kita lakukan untuk membangun kesiapsiagaan. Liburan aman dan nyaman tentu bisa kita wujudkan.

Masyarakat Asli Mentawai di Siberut

Perjalanan saya ke Siberut niat utamanya adalah untuk silaturahmi. Kebetulan ada kawan yang merupakan putra daerah asli Mentawai. Setelah menyeberang dengan kapal ferry biasa antar pulau bernama KMP. Nade selama 6 jam, tibalah saya di Pelabuhan Mailepet, Siberut Selatan. Perjalan berikutnya kami lanjutkan dengan motor menuju Desa Balapak-Gotap, Saliguma, Siberut Tengah. Jalanan beton yang baru dibangun tahun ini mungkin baru jadi sekitar 3-5 km. Nasib baik hari itu tidak hujan. Kami melanjutkan perjalanan di atas jalan tanah bakal jalur Trans Mentawai selama kurang lebih 35 menit. Selama ini, masyarakat Siberut Tengah biasa berjalan kaki menuju Kota Kecamatan, Muara Siberut, di dekat pelabuhan. Kalau tidak jalan kaki, sarana transportasi utamanya adalah sampan atau perahu motor kecil yang disebut pong-pong.

Di Siberut koneksi internet benar-benar sulit. Jaringan Telkomsel hanya mampu digunakan untuk berkirim SMS. Untuk memenuhi kebutuhan akan koneksi, ada beberapa titik pemancar wifi yang masyarakat bisa gunakan untuk mendapatkan data internet. Di Desa Balapak-Gotap, tempat saya akan menghabiskan tahun baru, sinyal internet betul-betul tidak tersedia.

IMG_2733
Pencari Sagu di Siberut

Di Dusun, aktivitas utama masyarakat adalah memenuhi kebutuhan pokok. Tidak ada pertanian budidaya disana. Informasi yang saya dapatkan, tidak ada juga profesi nelayan atau tukang yang tetap. Pekerjaan penduduk umumnya tidak menentu. Sehari-hari masyarakat mencari sagu yang digunakan sebagai makanan pokok atau hasil hutan lainnya seperti pisang, kelapa, keladi, ubi, dan cengkeh. Selain itu juga mereka mencari kayu atau bambu yang digunakan untuk memasak.

Dalam hal memasak, sagu tidak dibuat menyerupai adonan lem atau papeda di Indonesia bagian timur.  Di Mentawai, tepung sagu dimasukkan ke dalam bambu atau daun sagu dan kemudian dibakar di atas bara. Begitu juga lauk pauknya, ikan atau ayam dipotong-potong dan dimasukkan ke dalam bambu kemudian dibakar. Cara memasak lauk ini sekaligus juga merupakan proses pengawetan. Tidak jarang ketika suatu rumah tangga mendapatkan ikan, maka akan diproses ke dalam bambu dan bisa dihangatkan untuk dikonsumsi selama 10 hari ke depan.

IMG_2728
Sagu Pisang Keladi Makanan Pokok di Siberut

Sesekali cara memasak lauk disana adalah dengan dibuat gulai kuning dengan santan dan parutan lengkuas. Walaupun demikian, bumbu yang digunakan terbilang sangat sederhana. Kalau ada daging babi, sapi, atau rusa pun cukup direbus saja. Setiap waktu makan, sagu akan dicelupkan ke dalam kuah ikan atau rebusan daging dan kemudian dimakan dengan lauk yang ada. Sambal tidak begitu mendominasi makanan Mentawai. Dengan cara bersantap seperti ini, rasa asli setiap bahan makanan masih dapat kita identifikasi. Dalam bayangan saya, nutrisi dari makanan juga mungkin masih sangat terjaga.  Buktinya, dalam dua dusun yang dihuni sekitar 400-an orang ini tidak ada orang yang berperut buncit. Baik laki-laki maupun perempuan umumnya berkulit terang menawan dengan otot yang nampak kuat. Satu hal lagi, masyarakat di sini tidak mengunyah sirih. Umumnya gigi mereka bersih. Yang tua-tua banyak yang bergigi gelap karena kebiasaan merokok yang kuat.

Setiap sore di Desa Balapak-Gotap masyarakat berkumpul di dekat lapangan. Laki-laki dewasa umumnya bermain bola kaki atau volley. Perempuan muda dan dewasa bermain volley, remaja bermain sepak takraw dan anak-anak bebas berlari bermain lompat tali, petak umpet, dan lain sebagainya. Warga senior umumnya hanya duduk-duduk saja, dan bersorak bersama-sama manakala gol tercipta atau bola melambung terlalu tinggi.

IMG_2754Berbicara kelompok tua, masyarakat sangat menghormati Sikerei atau tabib. Sikerei bertugas untuk mengobati masyarakat sekaligus menghubungkan dengan dunia gaib yang dalam kepercayaan asli Siberut dipercaya menjaga hutan, air, dan udara. Dengan demikian, Sikerei bukanlah dukun ilmu hitam. Sikerei adalah tokoh masyarakat yang dihormati atas komitmennya yang tinggi dalam menjaga alam dan adat Mentawai. Menjadi Sikerei mempunyai konsekuensi yang berat karena berbagai pantang yang harus dijalankan. Termasuk mengenakan pakaian tradisional dari kulit kayu dan tattoo tradisional yang dikenal dengan nama Tik-Tik Mentawai. Karena beratnya syarat tersebut, saat ini jumlah Sikerei terus menurun. Selain itu, sekarang ini juga ada Sikerei yang tidak mengenakan tattoo lengkap dan sehari-hari berbusana layaknya orang biasa. Namun demikian, pada saat mengobati, mereka harus menjalankan ritual yang sama beratnya.

Awalnya masyarakat Mentawai menganut kepercayaan animisme dan dinamisme. Masuknya agama-agama begitu gencar pada era Orde Baru sehingga saat ini umumnya masyarakat Siberut menganut agama Katolik, Islam, Kristen, bahkan ada juga Bahai. Yang terakhir ini saya mengenalnya melalui kawan kuliah S2 dahulu. Sungguh terkejut saya menjumpai masyarakat di pedalaman Siberut menganut kepercayaan tersebut. Satu sisi saya melihat, betapa pada suatu masa terdapat aliran penyebaran agama -agama terhadap penduduk Siberut yang dianggap tidak beragama. Berat bagi saya membayangkan proses “dialog” yang terjadi antara kepercayaan asli dengan agama-agama tersebut. Yang jelas saat ini tidak asing dijumpai bahwa dalam satu keluarga di Siberut terdapat 2-3 penganut agama.

Satu hal yang berkesan bagi saya adalah perayaan Tahun Baru. Malam hari menyambut tahun baru, masyarakat yang beragama Kristen berkumpul di gereja. Mereka melakukan misa hingga tahun bergulir dari 2019 menuju 2020. Malam hari pada tanggal 1, masyarakat mulai berkumpul lagi di gereja sekitar jam 22.00 malam. Kali ini hampir semua penduduk dusun keluar rumah, tidak peduli agama nya apa. Perayaan tahun baru disisi dengan sambutan-sambutan dan pentas seni dari berbagai kelompok usia. Acara berlangsung hingga subuh. Tidak ada yang mabuk atau membuat keonaran. Semua warga silih berganti menyanyi, menari, dan menghidangkan makanan tanda suka cita akan hadirnya tahun yang baru.

IMG_2757
Perayaan Tahun Baru di Dusun Balapak-Gotap, Saliguma, Siberut Tengah

Dalam suatu perbincangan, saya mendengar salah seorang warga berkata, “Kalau untuk makan sehari-hari kebutuhan kami sudah tercukupi. Ada sagu, keladi, pisang atau ikan di hutan. Tetangga kanan kiri juga selalu mau berbagi”. Kebutuhan yang membutuhkan biaya tinggi bagi masyarakat Mentawai adalah transportasi dan pendidikan. Dengan situasi tidak adanya pekerjaan tetap, biaya sekolah atau asrama anak-anak Mentawai sering dibayar dengan kelapa, pisang atau hasil hutan lainnya. Hal ini menunjukkan semangat untuk menuntut ilmu itu tetap menyala. Satu hal yang sekilas saya perhatikan, tidak ada kebutuhan yang tinggi bagi masyarakat Dusun untuk membangun rumah yang bagus atau meningkatkan perekonomian keluarga agar menjadi kaya raya. Semua kembali kepada kebutuhan, dan kebutuhan yang utama pada dasarnya telah tersedia di alam.

*Artikel dipublikasikan di detiktravel

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s